batampos.co.id – Kasus perusahaan asing tutup dan pemiliknya kabur kembali terjadi di Batam. Kali ini terjadi pada PT Nagano Drilube Indonesia yang berlokasi di Kawasan Industri Batamindo, Batam. Bos perusahaan asal Jepang itu kabur tanpa membayar gaji 52 karyawannya.

Iklan

Kaburnya bos PT Nagano ini membuat para pekerjanya cemas. Selasa (11/9/2018)  mereka mendatangi pabrik dan berharap ada kejelasan soal gaji bulan terakhir mereka yang belum dibayar perusahaan.

Seorang karyawan PT Nagano, Nursani, mengatakan pihak perusahaan memang merumahkan seluruh karyawannya per Rabu (5/9) lalu. Namun sehari sebelumnya, atau pada Selasa (4/9), seluruh karyawan masih bekerja seperti biasa.

“Tapi saat kami mendatangi perusahaan pada Rabu (5/9), pabrik sudah stop plan,” kata Nursani saat mendatangi PT Nagano, Selasa (11/9) siang.

Nursani mengatakan, sebelumnya memang ada beberapa kejanggalan di pabrik. Misalnya, pada Selasa (4/9) lalu pihak pengelola Kawasan Industri Batamindo mendatangi pabrik. Mereka kemudian memutus sambungan listrik ke perusahaan itu.

“Kami tidak tahu apa yang terjadi. Sekuriti yang masuk siang juga disuruh pulang, dan kami lihat listriknya dipadamkan,” jelasnya.

Semua karyawan juga dipulangkan, siang itu. Karena curiga dan penasaran, Nursani dan beberapa rekannya datang ke pabrik pada Rabu (5/9) siang, pabrik tersebut sudah tutup.

“Kami kemudian memastikan kepada Batamindo, katanya perusahaan sudah tidak membayar listrik,” jelasnya.

Nursani mengaku, sejauh ini informasi dari pihak manajemen masih sangat minim. Sehingga sebagian besar karyawan tidak tahu persih apa yang terjadi pada perusahaan.

Menurut informasi yang beredar di kalangan karyawan, pemilik perusahaan yang merupakan warga negara (WN) Jepang kabur dan pulang ke negaranya.

Padahal, kata Nursani gaji bulan terakhir ke-52 karyawan belum dibayar. Ia menyebut, dari 52 karyawan tersebut 39 di antaranya berstatus karyawan permanen. Termasuk dirinya yang sudah bekerja 18 tahun di PT Nagano.

“Kami bingung nasib kami bagaimana ini,” ucapnya.

PT nagano di Batam.
foto: google

Kepala Disnaker Kota Batam Rudi Syakiakirti membenarkan PT Nagano sudah tutup. Ia juga mengaku perusahaan belum membayar gaji bulan Agustus bagi ke-52 karyawannya.

“Harusnya terima bulan ini. Untuk melunasi gaji karyawan membutuhkan biaya Rp 292 juta,” kata Rudi, Selasa (11/9).

Berdasarkan informasi dari bagian kepegawaian perusahaan, selama beberapa bulan terakhir gaji karyawan PT Nagano dibayar oleh perusahaan induknya di Jepang. Hal ini dilakukan karena kuat dugaan PT Nagano Drilube Indonesia sudah tak sanggup membayar gaji karyawannya.

“Seperti subsidi begitu. Karena produksi di sini juga tak terlalu banyak,” ujarnya.

Rudi mengaku sudah melakukan mediasi dan koordinasi dengan berbagai pihak untuk mendapatkan kepastian dari induk perusahaan yang ada di Jepang. Pihaknya sudah menggelar rapat bersama karyawan dan serikat pekerja PT Nagano untuk mencari solusi terkait nasib 52 karyawan tersebut.

“Karyawan tidak tahu apa ini perusahan sudah berhenti beroperasi atau seperti apa. Gak jelas statusnya. Hasil rapat kami juga akan minta bantuan pemerintah yang ada di Jepang untuk mencari kejelasan,” beber Rudi.

Ia berharap dalam waktu dekat ini ada kejelasan terkait nasib karyawan PT Nagano ini. “Sabtu kemarin kami saya sudah menemui mereka. Semoga secepatnya ada solusi,” tutupnya.

Sementara General Manager Affair Batamindo Tjaw Hoeing membenarkan bahwa Presiden Direktur (Presdir) PT Nagano sudah hilang komunikasi sejak seminggu yang lalu, atau tepatnya sejak Selasa (4/9).

“Itu menurut laporan plant manager-nya,” kata Tjaw Hoeing, Selasa (11/9) malam.

Pria yang akrab disapa Ayung ini mengatakan, PT Nagano merupakan perusahaan subkon asal Jepang yang bergerak di bidang coating atau pengecatan. Karyawannya tidak banyak, hanya 52 orang saja.

Di Batamindo, PT Nagano sudah beroperasi sejak tahun 1996. “Kemungkinan finansialnya tidak sehat. Makanya Presdir-nya menghilang,” paparnya.

Manajemen PT Nagano sempat bisa berkomunikasi dengan Presdir-nya tersebut melalui media sosial, beberapa hari lalu. Dalam komunikasi tersebut pihak manajemen minta pertanggungjawaban terkait gaji karyawan.

Namun sampai sekarang belum ada respon dari induk perusahaan di Jepang terkait nasib 52 karyawan perusahaan.

“Presdir tersebut hanya pekerja sedangkan pemilik perusahaan ada di Jepang. Saya minta bertanggungjawab lah,” katanya.

Ia juga meminta Badan Pengusaaan (BP) Batam dan Pemko Batam ikut membantu memperjuangkan nasib karyawan.

“Memang pemerintah daerah sudah rapat dengan perwakilan PT Nagano. BP pasti bisa membantu karena punya kantor perwakilan di Jepang,” katanya.

Sedangkan BP Batam belum bisa memberikan informasi mengenai tutupnya PT Nagano. Namun pelaksana tugas (Plt) Kasubdit Humas BP Batam Muhammad Taofan membenarkan informasi tersebut.

“Kami masih harus mengecek dulu statusnya seperti apa. Dan yang jelas kami akan ikut bantu para karyawan,” kata Taofan tadi malam. (leo/yui)