batampos.co.id – Musim kemarau membuat beberapa daerah mengalami kekeringan. Sumber air yang mengering membuat pemerintah pun mendistribusikan air bersih kepada warga.

Iklan

Hingga kemarin (11/9), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) masih terus menerima laporan kekeringan itu melanda Jawa Tengah. Seperti di kabupaten Jepara dan Banjarnegara. Di Banjarnegara dilaporkan tercatat di empat desa dengan lebih dari seribu warga. Sedangkan di Jepara tercatat ada suplay air bersih di delapan kelurahan dengan jumlah warga mencapai 5000 orang.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menjelaskan drop air bersih itu dilakukan dengan mobil tangki air. Warga lantas antre untuk mendapatkan air bersih itu dengan membawa tangki-tangki untuk keperluan keluarga mereka. ”Masih droping air,” ujar Sutopo, kemarin (11/9).

Sebelumnya, BNPB memperkirakan warga yang terdampak kekeringan itu mencapai 4,87 juta jiwa. Berdasarkan data yang dihimpun Posko BNPB, kekeringan melanda 11 provinsi yang terdapat di 111 kabupaten/kota, 888 kecamatan, dan 4.053 desa.

Meskipun musim kemarau berlangsung secara normal. Namun bencana kekeringan melanda di beberapa tempat di wilayah Indonesia. Beberapa daerah yang mengalami kekeringan cukup luas adalah Provinsi Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, NTB, NTT, dan Lampung. Pendataan kekeringan di wilayah Bali masih dilakukan. Namun berdasarkan laporan BPBD, kekeringan tidak terlalu berdampak luas di Bali pada tahun ini.

Di Provinsi Jawa Barat kekeringan terdapat di 22 kabupaten/kota yang meliputi 165 kecamatan, 761 desa, dan berdampak pada 1,13 juta penduduk mengalami kekerangan air bersih. Di Jawa Tengah, sebanyak 854 ribu jiwa penduduk terdampak kekeringan yang terdapat di 28 kabupaten/kota, 208 kecamatan dan 1.416 desa. Di Provinsi Nusa Tenggara Barat, sebanyak 1.23 juta jiwa penduduk terdampak kekeringan yang berada di 9 kabupaten/kota, 74 kecamatan, dan 346 desa.

Musim kemarau diperkirakan berlangsung hingga September 2018, dimana puncak kekeringan berlangsung selama Agustus-September. BMKG telah memprediksi bahwa awal musim hujan 2018/2019 akan terjadi pada Oktober-November-Desember 2018. Pada setiap wilayah berbeda-berbeda memasuki musim hujan. Sementara itu, puncak musim hujan 2018/2019 terjadi pada Januari-Februari 2019.

Sutopo mengungkapkan BNPB menyiapkan anggaran dana siap pakai sebesar Rp 50 miliar rupiah untuk mengatasi kekeringan di daerah. Bantuan bersifat darurat dengan suplai air, pengadaan tandon air, sewa mobil tangki air, pembangunan bak penampung air, pembangunan sumur bor dan lainnya yang bersifat darurat.

”Diperkirakan kekeringan pada tahun 2018, ini tidak banyak berpengaruh pada ketahanan pangan. Tidak banyak pertanian yang mengalami puso secara luas sehingga berdampak pada produksi pangan secara nasional,” ujar dia. (jun/jpg)