Kue bulan (moon cake). (Foto dokumentasi Pixabay)

batampos.co.id – Dinas Pariwisata Tanjungpinang memutuskan perhelatan Festival Moon Cake (festival kue bulan) tahun ini digelar lebih cepat. Semula festival yang merupakan bagian dari tradisi etnis Tionghoa ini akan digelar pada 24 September, namun kemudian dengan berbagai pertimbangan dimajukan dua hari lebih cepat.

Iklan

Ketua Panitia Pelaksana Festival Moon Cake dari Disparbud Tanjungpinang, Maswito menjelaskan, pelaksanaan Moon Cake lebih awal agar tidak terjadi bentrok dengan perhelatan penutupan Festival Bahari Kepri (FBK) di Gedung Daerah pada 24 September.

“Sementara Festival Moon Cake ini kan di seputaran Jalan Merdeka, tidak jauh juga. Jadi nantinya takut terjadi kemacetan parah di seputar kawasan kota lama,” ujar Maswito, Senin (10/9).

Selain itu, dua helatan pariwisata jika bentrok dinilai tidak efektif karena bisa mendistraksi konsentrasi pengunjung dan wisatawan. Karena itu, berdasarkan rapat bersama seluruh panitia dan instansi terkait, Festival Moon Cake yang kemudian dimajukan dua hari lebih cepat.

“Ini juga menjadi upaya Disparbud Tanjungpinang ikut memeriahkan FBK, karena bisa berlangsung dalam pekan yang sama,” kata Maswito.

Maswito menegaskan, tidak ada kendala dari dampak pemajuan tanggal pelaksanaan. Sebab, kata dia, dimajukannya kegiatan tersebut sudah dibicarakan dan disetujui Ketua PSMTI Tanjungpinang, Fredi.

“Pak Fredi memahami kegiatan tersebut dimajukan. Kendati sudah dirancang jauh hari bersama-sama,” ujarnya.

Menurut Maswito, Festival Moon Cake atau Kue Bulan merupakan tradisi turun temurun etinis Tionghoa di seluruh penjuru dunia yang dilaksanakan setiap tahunnya menyambut bulan purnama. Sedangkan rangkaian acara yang mengisi kegiatan tersebut di antaranya adalah kesenian barongsai dan tradisi khas etnis Tionghoa. Sedangkan band yang mengiringi sesuai arahan dari Ketua PSMTI adalah Ocean Blue Band.

Tokoh masyarakat Tionghoa di Tanjungpinang, Bobby Jayanto mengatakan Festival Moon Cake merupakan tradisi etnis Tionghoa di seluruh dunia untuk menyambut bulan purnama. Ia berharap kegiatan ini memberi nilai tambah bagi perkembangan pariwisata Kota Tanjungpinang khususnya dan Provinsi Kepri pada umumnya. (aya)