
batampos.co.id – Puluhan karyawan PT Nagano Drilube Indonesia terus berjuang agar gaji dan pesangon mereka dibayar menyusul tutupnya perusahaan asal Jepang itu, Rabu (5/9) lalu. Mereka juga menyita sejumlah aset perusahaan yang masih tersisa untuk dijual jika tuntutan mereka tak dipenuhi.
Ketua Pengurus Unit Kerja serikat pekerja PT Nagano Drilube Indonesia, Sari, mengatakan saat ini masih ada beberapa aset perusahaan yang tersisa. Di antaranya beberapa mesin coating.
“Kalau dijual, tak akan mampu untuk mengganti pesangon kami semua,” ujar Sari, Rabu (12/9).
Saat ini, puluhan karyawan PT Nagano secara bergantian menjaga aset tersebut di perusahaan. Jika tak dijaga, mereka khawatir aset-aset tersebut akan diambil atau dibawa kabur pihak manajemen.
“Ada yang menjaga pagi hari, ada yang sore hari dan ada yang malam hari,” kata Sari.
Selain aset perusahaan, karyawan juga menyita beberapa material dan produk PT Nagano yang kelak bisa dijual ke pelanggan PT Nagano.
“Ada juga aset berupa beberapa mobil perusahaan. Namun status mobil tersebut ternyata masih kredit yang angsurannya baru berjalan, tak ada yang berstatus non kredit,” katanya.
Sari menjelaskan, karyawan PT Nagano biasanya menerima gaji setiap tanggal 7 tiap bulannya. Namun pada September ini, seluruh karyawan yang berjumlah 54 orang tak gajian.
“Dari tak adanya gajian itulah, gejolak dari puluhan karyawan serta gelagat buruk perusahaan hendak tutup mulai tampak dan diketahui seluruh karyawan,” terang Sari.
Pihak karyawan lantas mendesak manajer operasional perusahaan agar gaji karyawan dibayarkan. Namun jajaran manajer pun ternyata juga mengalami nasib sama. Mereka belum gajian pada 7 September itu.
“Karena semua tak gajian, beberapa staf didampingi beberapa manajer perusahaan sempat menelepon ke nomor ponsel Presdir PT Nagano, Futakaka San, ponselnya saat itu aktif tapi tak kunjung diangkatnya,” ujarnya.
Mengetahui Presdir PT Nagano tak merespon teleponnya, beberapa manajer serta para staf dan karyawan langsung mencoba mencari keberadaan Futakaka ke hotel tempatnya biasa tinggal atau menginap. Yakni di Hotel Nagoya One, di Nagoya, Batam.
“Nama Futakaka memang terdaftar sebagai tamu hotel. Namun keberadaan Futakaka ternyata sudah tak berada di hotel tersebut. Dia sudah check out,” terangnya.
Jumat (7/9) lalu, pihak pengelola Kawasan Industri Batamindo menggelar rapat dengan jajaran manajemen dan karyawan PT Nagano. Rapat itu membahas nasib gaji dan pesangong para karyawan.
Sebelum rapat dimulai, salah seorang manajer PT Nagano kembali mencoba mengubungi ponsel Futukaka. Namun dari bunyi nada sambungnya diketahui posisi Futukaka sudah di luar Indonesia.
Sementara Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM PTSP) Kota Batam Gustian Riau mengaku belum mendapat laporan dari PT Nagano terkait tutupnya perusahaan asal Jepang itu. Gustian menambahkan, dalam enam bulan terakhir PT Nagano memang tak pernah menyampaikan laporan kegiatan usahanya, padahal biasanya mereka rutin membuat laporan.
“Dalam waktu dekat ini Pemko Batam akan mencoba menelusuri tentang tutupnya PT Nagano Drilube disebabkan karena apa dan bagaimana,” ujar Gustian Riau.
Komunikasi dengan Jepang
Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Batam Rudi Syakiarti mengaku akan terus mengupayakan agar sisa gaji karyawan PT Nagano dibayarkan. Termasuk pesangon mereka.
Menurut Rudi, kebutuhan untuk membayar pesangong karyawan memang cukup besar. Sebab dari 54 karyawan yang ada, rata-rata sudah bekerja di atas 10 tahun. Dari 54 karyawan itu, 39 orang berstatus karyawan permanen dan 15 orang karyawan kontrak.
“Untuk gaji sebulan saja membutuhkan kurang lebih Rp 292 juta,” kata Rudi, kemarin.
Saat ini, Dinaker Kota Batam meminta agar manajemen PT Nagano membantu proses pencairan dana BPJS Ketenagakerjaan.
Terkait kejelasan status apakah PT Nagano akan ditutup, baik Disnaker maupun manajamen perusahaan belum mendapatkan informasi yang pasti. Pihak manajemen masih bernegosiasi dengan induk perusahaan Nagano yang ada di Jepang.
“Komunikasi tetap jalan, saya harap satu atau dua hari ke depan keputusannya sudah ada,” sebutnya.
Namun Rudi menyebut, kemungkinan besar PT Nagano memang akan tutup. Sebab perusahaan sudah berhenti total sejak Rabu (5/9). Bahkan sambungan listrik ke perusahaan sudah diputus oleh pihak Batamindo karena PT Nagano lama menunggak bayar listrik.
“Saran saya, jika manajemem perusahaan mencium gelagat perusahan seperti gajian telat, dan lainnya, langsung saja lapor ke Disnaker. Kita akan sama-sama mencarikan solusi. Agar tak sampai mengalami seperti PT Nagano,” tuturnya.
Order Terus Turun
Tutupnya PT Nagano sebenarnya dimaklumi para karyawan. Sebab mereka tahu, belakangan ini pesanan atau order di PT Nagano terus turun.
Namun begitu, mereka menyayangkan sikap perusahaan yang terkesan lepas tanggungjawab. “Kami jadi lontang lantung begini. Hak-hak kami belum dibayar sementara perusahaan sudah tutup. Bosnya sudah kabur,” kata Sarni, salah satu karyawan saat ditemui di PT Nagano, kemarin.
Sementara Ketua Konsulat Cabang FSPMI Batam Alfitoni menyayangkan sikap manajemen yang terkesan menutup-nutupi kondisi perusahaan yang sebenarnya. Padahal di antara jajaran manajemen ada lima orang WNI. Mestinya, kata Sarni, mereka melaporkan kondisi tersebut ke pemerintah sehingga ada antisipasi sejak dini.
“Setiap bulan tentu ada rapat laporan berapa pemasukan dan pengeluaran. Mereka (manajemen lokal) pasti tahu dong kondisi perusahaan. Seharusnya mereka sampaikan biar tak seperti ini,” tutur Alfitoni
Lima manajemen lokal itu belakangan bergabung dengan 54 karyawan lain menuntut gaji dan pesangon. “Sekarang baru menyesal mereka. Coba sejak awal dikasi tahu tentu bisa ambil langkah antisipasinya,” ujar Alfitoni.
Ia juga berharap pemerintah, baik Pemko Batam maupun Badan Pengusahaan (BP) Batam memaksimalkan peran pengawasan terhadap aktivitas perusahaan. Sehingga ke depan tidak ada lagi kasus seperti ini. “Karena ada lagi satu perusahaan yang terindikasi akan seperti ini. Ini harus disikapi secara serius sehingga tak terulang lagi,” ujar Alfitoni.
Sisa Uang Kas Rp 80 Juta
Tutupnya PT Nagano Drilube Indonesia yang disertai kaburnya bos perusahaan tersebut diduga dipicu kondisi perusahaan yang bangkrut. Sebab berdasarkan laporan keuangan, perusahaan asal Negeri Matahari Terbit itu hanya memiliki sisa uang kas sebesar Rp 80 juta.
“Artinya modal tak ada lagi. Mungkin saja orderan tak ada sehingga pailit,” kata Plt Kasubdit Humas BP Batam Muhammad Taofan, Rabu (12/9) di Mediacentre BP Batam.
Bahkan pihak pengelola Kawasan Industri Batamindo telah memutus sambungan listrik dan air ke Nagano. Sebab mereka sudah tak sanggup lagi membayar tagihan listrik dan air.
Saat ini, BP Batam tengah menyusun Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dan juga tengah menjalin hubungan dengan berbagai instansi agar Nagano bertanggungjawab atas nasib karyawannya.
Tutupnya PT Nagano menambah panjang daftar perusahaan asing yang hengkang dari Batam sepanjang 2018 ini. Februari lalu, PT Artana Karya Indonesia juga tutup. Sebanyak 35 karyawan perusahaan ini hanya menerima pesangon sebesar 1,5 bulan gaji.
Kemudian pada Juni 2018 perusahaan asal Singapura PT Hantong Presicion Manufacturing di Batuampar juga tutup. Bahkan pemiliknya kabur ke Singapura sebelum membayar tunjangan hari raya (THR) ke 94 karyawannya. (eja/rng/une/gas/leo)
