Kiri: Vice President PT Amartha Mikro Fintek Aria Widyanto dan PR & Social Impact Manager PT Amartha Mikro Fintek Ahmad Zaki. (Foto Anggie/Batam Pos)

batampos.co.id – PT Amartha Mikro Fintek telah membina 130 ribu ibu-ibu di Indonesia. Sejauh ini, lembaga keuangan mikro ini berfokus pada penerima bantuan ibu-ibu di kawasan terpencil Pulau Jawa.

Iklan

Mengapa ibu-ibu ? Vice President PT Amartha Mikro Fintek, Aria Widyanto saat berkunjung ke redaksi batampos.co.id Jumat (14/9) mengatakan, Amartha memandang bahwa ibu-ibu di Indonesia adalah segmen yang belum memiliki income yang besar. “Berbeda dengan laki-laki,” katanya.

Oleh karena itu, fintech peer to peer lending ini hanya menyalurkan bantuan keuangan untuk segmen ibu-ibu. Jenis bantuan yang diberikan adalah produksi, bukan konsumsi.
Sudah Rp 530 miliar yang disalurkan kepada ibu-ibu sejak Amartha dibentuk menjadi lembaga fintech tahun 2016 lalu.

Pinjamannya dimulai dari Rp 3 juta per orang, dengan masa pinjaman 1 tahun.
“Pembayarannya per minggu,” kata Aria.

Berbeda dengan lembaga fintech lainnya yang memproses pinjaman secara online, Amartha beroperasi dengan menempatkan agen terpusat di setiap kecamatan. Masing-masing agen memiliki sekitar enam hingga tujuh orang karyawan.

Dari agen-agen itulah, calon peminjam mengajukan pinjaman. Pencairan pinjaman dan pembayaran juga melalui agen yang bertugas. Peminjam tak perlu memahami internet, dan tidak disibukkan dengan banyak proses. Dalam seminggu, pinjaman yang diajukan bisa dicairkan.

Selain bantuan dalam bentuk pinjaman, Amartha juga secara rutin memberikan pelatihan pengelolaan keuangan rumah tangga kepada debitur. Amartha sendiri sebenarnya sudah memulai usahanya sejak 2010 lalu, sebagai koperasi, sebelum berganti menjadi lembaga fintech 2016. (hsl)