Datang dari Kendal, Jawa Tengah 2007 lalu, Badut awalnya ingin bekerja di perusahaan di Batam. Tetapi Badut malah terjun sebagai penggali kuburan di TPU Sei Temiang, Batam. Selama 12 Tahun sebagai penggali kubur, Badut sudah menggali lebih dari 6.200 kuburan.

Mengenakan celana pendek loreng dan kaos oblong hitam, Naharuddin, 35, mencabut beberapa rumput yang kelihatan meninggi di atas kuburan di pemakaman kristen, Sei Temiang, Kamis (13/9) sekitar pukul 09.00 kemarin. Ia kemudian mengitari makam dengan kaki telanjang. Itulah pekerjaan rutin yang ia lakukan ketika tidak ada permintaan untuk menggali kuburan.

Badut, panggilan akrab Naharuddin sekali sekali merapikan batu yang terkadang ada di sekitar makam. Sebelum akhirnya ia duduk di teras kantor yayasan pengelola pemakaman kristen yang ada sekitar 30 meter dari pintu masuk makam.

Teras itu menjadi tempatnya untuk berteduh menunggu ada pekerjaan. Ya menggali kubur khusus untuk yang beragama kristen. Ia di sana bersama seorang temannya, Aris, tetapi bukan penggali kuburan. Aris ini adalah tenaga kebersihan di TPU sei Temiang, tetapi yang khusus untuk pemakaman muslim.

“Mas Azis singgah sebentar di sini. Dia ini di pebukuran muslim sana. Sebagai tenaga kebersihan,” kata Badut.

Sambil menatap ribuan makam di sana, Badut mulai bercerita awalnya ia hijrah dari Kendal, Jawa Tengah ke Batam tahun 1997 lalu. Atau sekitar 21 tahun lalu. Ia saat itu datang bersama orang tuanya. Mereka memilih kawasan Marina sebagai tempat tinggal. Kebetulan di sana mereka menggarap lahan dan membuat kandang ayam waktu itu. Mungkin jaraknya hanya ratusan meter dari Pemakaman Sei Temiang.

Sambil mencari kerja, ia membantu orang tuanya berladang. Tahun 2000-an ia pun punya beberapa kenalan yang bekerja sebagai penjaga makam dan tenaga kebersihan di Sei Temiang. Ketika ada waktu Senggang, ia pun membantu-bantu temannya untuk membersihkan makam.

“Jadi awalnya bantu-bantu untuk membersihkan makam saja. Bukan menggali kuburan waktu itu,” katanya.

Tetapi kemudian, ada temannya yang menggali kuburan khusus muslim yang memintanya untuk bantu-bantu. Ia pun dengan niat yang tulus membantu. Entah kenapa, ia malah menikmati pekerjaan tersebut. Sebelum akhirnya di tahun 2006 lalu, ia akhirnya resmi dijadikan pekerja penggali kubur di yayasan yang khusus mengelola pemakaman muslim.

Ia senang mendapatkan pekerjaan tetap tersebut. Tetapi ia sempat ragu apakah akan terus meneruskan pekerjaan tersebut atau tidak. Bagaimana tidak, ia bersama rekannya harus menggali kuburan minimal 3 kuburan satu hari. Tetapi karena niatnya yang tulus untuk kerja, ia pun bertahan.

“Jadi awalnya sangat berat. Tetapi karena niat tulus untuk bekerja, maka harus kita lakukan. Saya lupa berapa waktu itu upah satu liang kubur,” katanya.

Di pekuburan khusus muslim tersebut, Badut bekerja sekitar 4 tahun. Setiap hari harus menggali kuburan sekitar tiga atau empat kuburan orang meninggal. Bahkan ia mengaku pernah satu hari sampai enam kuburan. Jadi kalau kita rata-ratakan setahun itu 720 kuburan atau sekitar 2.800 makam selama 4 tahun.

Tahun 2010 lalu, ia pun pindah ke pekuburan khusus Kristen. Di sini ia tidak sesibuk saat jadi penggali kubur di pemakaman muslim. Satu bulan ia memperkirakan dalam sebulan itu hanya menggali sekitar 35 makam. Atau sekitar 3300 makam dalam 8 tahun terakhir.

“Kan memang penduduk paling banyak kan muslim. Makanya lebih sibuk saat di pemakaman muslim sana,” katanya.

Naharuddin
foto: alfian lumban gaol / batampos.co.id

Saat ini untuk menggali kuburan dewasa, ia diupah sebesar Rp 200 ribu. Untuk kuburan anak-anak sekitar Rp 150 ribu. Saat ini, ia dibantu satu orang rekannya. “Kalau untuk menggali satu liang kuburan kristen itu sekitar tiga jam. Memang agak lama sekarang, karena saat ini kondisi tanahnya berbatu. Jadi agak susah,” katanya.

Menjadi penggali kubur, ia harus siaga 24 jam. Ketika ada panggilan untuk menggali kubur maka ia pun harus siap. Bahkan tidak jarang ia menggali tengah malam. Tapi paling sering ia lakukan saat bekerja di pemakaman muslim.
“Jadi ada yang melakukan penguburan malam, maka harus siap. Dan harus tulus kita dalam bekerja,” katanya.

Meski bekerja 12 tahun di kuburan, ia mengaku tidak pernah mengalami atau merasakan hal-hal yang gaib. Malah ia mengaku bahwa kuburan itu sudah seperti tempat bermain. Artinya sudah nyaman, dan tidak pernah merasa takut selama di kuburan.

“Tidak pernah melihat yang aneh-aneh atau merasakan yang aneh-aneh. Mungkin karena memang tulus niatnya untuk bekerja. Pemakaman ini pun sudah tak terasa angker. Ya sehari hari sudah di sini,’ tambahnya.

Dari menggali kubur ini, pria yang baru menikah tiga tahun ini sudah bisa menghidupi istrinya. Membeli rumah, meskipun harus dengan kredit. “Cukuplah untuk dapur dan bayar cicilan. Dan harus disyukuri semuanya,”katanya.

Banyak menggali kuburan, selain mendapat upah, ia mendapatkan banyak pelajaran. Termasuk pelajaran hidup mengenai singkatnya umur seseorang di dunia ini. Makanya ia mengaku berupaya semaksimal mungkin untuk tidak meninggalkan sholat dan berbuat baik.

“Jadi ada pembelajaran, bahwa hidup kita itu singkat. Kenapa tidak kita berbuat yang baik saja. Kalau saya itu, saya selalu usahakan untuk sholat. Apalagi kalau maghrib, saya usahakan untuk sholat bersama istri saya,” katanya.

Ia berharap fisiknya tetap sehat sehingga ia tetap bisa bekerja sambil beramal dengan membuat pemakaman yang layak buat orang meninggal. “Ya sejauh ini saya belum berpikir untuk cari pekerjaan lain. Saya sudah betah, ya sekalian berbuat kebaikan kepada sesama,” harapnya. (Alfian Lumban Gaol, Batam)

Advertisement
loading...