Kamis, 16 April 2026

Pedagang Pasar Jodoh Keberatan Pindah

Berita Terkait

foto: batampos.co.id / cecep mulyana

batampos.co.id – Pedagang Pasar Jodoh merasa keberatan dipindah oleh Pemerintahan Kota Batam. Karena mereka menilai dipindahkan ke tempat yang tidak layak, dan dapat mematikan usaha mereka selama ini.

“Memindahkan kami dari sini, lalu disuruh bayar Rp 1 juta dengan tempat yang berhadap-hadapan dengan pasar tos 3000. Sama saja dengan menggorok leher kami,” kata Tengku Abdul Rahman yang mengaku sebagai Ketua RT Pasar Jodoh, Senin (17/9).

Ia mengatakan pemerintah tidak menilai dan memperhatikan aspek kondisi pedagang bila dipindahkan dari daerah tersebut. Tidak hanya itu saja, Tengku mengatakan bangunan yang akan ditempati pedagang nantinya hanya berupa bedeng-bedeng, dengan kondisi dinding tanpa plaster dan juga tidak ada pintu. Tentunya tidak akan aman bagi pedagang menyimpan barang dagangan.

“Rentan dari pencurian, lalu tempanya hanya 3 kali 4 meter saja. Biaya Rp 1 juta belum termasuk air dan lampu, lalu uang keamanan dan uang, uang lainnya,” ungkapnya.

Apabila mereka pindah, tidak ada kepastian apakah pembeli akan menyambangi daerah tersebut. “Kalau disini (Pasar Jodoh), kami hanya membayar restribusi saja. Bisa bertahan dari hari ke hari,” tuturnya.

Tengku mengatakan pedagang di sini tidak mempermasalahkan untuk pindah, andai kata diberikan kejelasan dan keterangan yang komplit. “Ini tiba-tiba datang minta kami pindah. Tanpa meminta pandangan atau keterangan dari kami,” ungkapnya.

Masih terkait pemindahan ini, Tengku mengatakan lahan Pasar Jodoh ini dulu disebut seluas 5 hektar. Sedangkan luas bangunan hanya 1,8 hektar saja.

“Kan masih ada sisanya, tempatkan saja kami disana. Biar kami bangun lapak sementara, tapi masalahnya kelebihan lahan itu tidak bisa kami lihat lagi. Karena depan, kiri dan kanan sudah dipagari pihak swasta,” ujarnya.

Sisa lahan Pasar Jodoh juga membuat pedagang bertanya-tanya, kemana hilangnya. “Saya gak tau kemana raibnya,” ucapnya.

Pembangunan Pasar Jodoh, kata Tengku belum tentu selesai dalam waktu sekejap. Tentunya membutuhkan waktu lama. Apalagi yang membangun pemerintah, akan banyak prosedur yang akan dilewati.

“Dalam waktu tiga tahun, belum percaya pasar ini dibangun. Di koran-koran disebut pemerintah gak punya duit,” ungkapnya.

Ia menilai nasib mereka akan menjadi tidak jelas, bila mengikuti permintaan pemerintah. “Mereka (pemerintah) janjikan sebuah kios ke kami saat pasar ini kembali dibangun. Tapi sampai kapan kami menunggu, lima atau 10 tahun lagi. Mati juga kami akibat kelaparan,” ujarnya.

Tengku menyebutkan pedagang yang berada di Pasar Jodoh sebanyak 86 orang. Namun tak semuanya menempati kios dan benar-benar murni berdagang di pasar tersebut.

“Ada juga menjadikan kios miliknya sebagai gudang sementara saja. Dan mereka berjualan di dekat-dekat sini,” ucapnya.

Terkait pembangunan serta pengembangan Pasar Jodoh ini, Tengku sedikit pesimis. Hal ini diamini oleh beberapa pedagang lainnya yang kebetulan berada di tempat tersebut. Tahun 2004, ketika mereka menempati pasar ini hanya bertahan tiga bulan saja. Setelah itu pindah ke pasar tos 3000 dan beberapa pasar lainnya. Akibat sepinya pembeli mengunjungi Pasar Jodoh.

“Setelah itu kondisinya hidup segan, mati tak mau,” ungkapnya.(ska)

Update