Pekan lalu Bambang Prihandoko, peneliti senior Lembanga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), mengantongi hak paten dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) untuk proyek baterai lithium ion. Total ada tujuh paten yang terdaftar. Ini kabar baik bagi perkembangan mobil dan motor listrik di Indonesia.

Bambang sangat bersyukur atas kabar baik itu. Dia pun menamai baterai lithium tersebut Merah Putih. Merah Putih tak hanya mewakili warna bendera Indonesia. Merah Putih berarti kandungan dalam baterai lithium ion milik Bambang adalah 100 persen asli Indonesia, tanpa impor.



Beberapa paten itu untuk pembuatan lembaran anode grafit serta baterai lithium ion energy berbahan katode lithium, mangan, ferro (besi), silika, dan fosfat berlapis karbon. Semua hak paten tersebut terdaftar atas nama Bambang dan beberapa rekannya dari LIPI. ”Sekarang tinggal usaha menuju pemanfaatan,” kata pria asal Pasuruan itu girang.

Selama ini baterai lithium yang diproduksi di Indonesia menggunakan material impor dari Tiongkok. Misalnya, bahan katode dan anode sebagai kutub positif dan negatif. Mulai lithium, titanat, hingga bahan-bahan lainnya, semuanya banyak yang diimpor. Impor itu dilakukan karena belum banyak perusahaan di Indonesia yang mampu memproduksi bahan-bahan kimia. Bambang pun menawarkan sesuatu yang baru. Yaitu, material katode dan anode dibuat di Indonesia, menggunakan sumber daya alam lokal.

Untuk bahan serbuk katode, Bambang menggunakan bahan lithium, mangan, besi, silika, dan fosfat. Sedangkan bahan anode terdiri atas natrium, lithium, zirkonia, dan titanat. Tak perlu impor, lithium dan natrium dapat dihasilkan dari sisa air pembuatan garam. Air limbah produksi garam itu biasanya dibuang pabrik garam atau ada juga yang dibeli oleh pabrik tahu untuk digunakan kembali sebagai bahan produksi tahu. Air tersebut, kata Bambang, mengandung lithium yang dapat digunakan untuk bahan mentah (raw material) serbuk katode. Untuk hal itu, Bambang akan bekerja sama dengan PT Garam sebagai penghasil air limbah produksi garam.

Kemudian, ferro didapat dari bebatuan yang mengandung besi di pantai selatan Jawa dan Kalimantan. Sementara itu, silika diambil dari pasir di pesisir Pulau Jawa, fosfat dari bebatuan fosfat di Bojonegoro, dan karbon dari gula aren yang banyak tersebar di Jawa Tengah. Untuk bahan anode, natrium didapat dari soda kue. Sementara itu, zirkonia didapat dari bebatuan yang ada di Kalimantan. Untuk produksi anode dan katode, Bambang sudah berkomunikasi dengan PT Petrokimia. Menurut Bambang, BUMN tersebut tertarik untuk memproduksi anode dan katode baterai Merah Putih.

Setelah serbuk anode dan katode, Bambang menawarkan pembuatan lembaran anode dan katode dari dalam negeri. Menurut Bambang, Maspion Group siap menyediakan lembaran aluminium sebagai tempat atau tatakan untuk membuat lembaran katode dan anode. Kemudian, PT Pertamina dan PT PLN melalui anak usahanya, PT Indonesia Power, tertarik untuk menjadi produsen lembaran katode dan anode. Untuk produksi sel baterai, Bambang juga sudah melakukan komunikasi dengan beberapa perusahaan swasta. Beberapa tertarik untuk memproduksinya. Di antaranya, PT Nipress Tbk, PT Intercallin, dan PT Hikari Solusindo Sukses.

”Artinya, semua ini lokal. Selama ini kita impor karena kita kaya akan sumber daya alam, tapi kita tidak mampu memproduksi bahan kimia sendiri. Padahal, dari segi industri, mobil listrik kita sudah siap, tinggal baterainya,” ucap Bambang.

Dengan konten lokal itu, biaya produksi dapat ditekan sehingga harga baterai lebih murah daripada baterai yang mengandung bahan impor. Dibandingkan dengan negara di Asia Tenggara pun, tambah Bambang, hanya Vietnam yang mungkin mampu memproduksi bahan lokal serupa.

Selain berarti kandungan yang murni lokal, baterai Merah Putih terdiri atas dua jenis. Baterai Merah dan baterai Putih. Baterai Merah adalah baterai power atau baterai traksi untuk kendaraan listrik seperti motor, mobil, dan drone. Sedangkan baterai Putih adalah baterai energi yang dipakai untuk peralatan elektronik. Misalnya, laptop, ponsel, power bank, dan handie-talkie (HT). Pertengahan September ini, kata Bambang, uji coba baterai Putih akan dilakukan pada HT produksi PT Hikari Solusindo Sukses. Sesudah itu, akhir September ini, uji coba baterai Merah akan dilakukan pada motor Take-Run.

Take-Run adalah motor listrik buatan SMK Pondok Pesantren (Ponpes) Sabilil Muttaqien, Takeran, Magetan. Ponpes tersebut dipimpin Miratul Mukminin, kerabat dekat mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan. Sejak penelitian baterai lithium ion itu kelar April lalu, motor Take-Run langsung dikirim Dahlan Iskan ke markas Puspitek LIPI di Tangerang. ”Waktu itu saya dan Pak Dahlan bertemu di rumah beliau di Surabaya. Pak Dahlan sangat antusias dan memperbolehkan motornya untuk diujicobakan baterai Merah ini. Sejak saat itu saya jadi lebih semangat. Karena ini seperti ’motor’ buat saya, agar paten segera terdaftar, baterainya juga harus segera diproduksi yang banyak,” ujarnya.

Saat ini Bambang baru memproduksi 15 buah baterai Merah dan 15 baterai Putih. Baterai itu diproduksi dalam skala kecil di laboratorium Puspitek LIPI. Mengujicobakan baterai Putih pada HT tidaklah rumit. Sebab, baterai tinggal dimasukkan ke HT, lalu HT dinyalakan. Baterai Putih yang kinerjanya konstan juga tidak membutuhkan unit yang banyak ketika digunakan pada HT.

Sedangkan pada motor listrik, dibutuhkan baterai Merah berkapasitas 1–2 kilowatt hours (kWh) sebanyak 200–300 buah. Baterai yang cocok untuk kinerja fast charging itu dimasukkan dan disatukan dalam bentuk battery pack di dalam motor. Karena butuh ratusan baterai untuk satu unit motor, Bambang harus segera memperbanyak produksi baterainya.

Bambang Prihandoko memamerkan Baterai Merah Putih miliknya.–SHABRINA PARAMACITRA/JAWA POS

”Makanya, saya lagi ngebut bikin baterainya ini. Kan enggak enak, masak motornya sudah disediakan Pak Dahlan, sudah dikirim jauh-jauh dari Magetan ke Tangerang, tapi baterainya enggak jadi-jadi. Hehehe,” ucapnya.

Setelah mengujicobakan baterai Merah pada motor Take-Run, akan dilakukan lagi uji coba pada mobil listrik produksi PT Great Asia Link (Grain) tahun depan. Untuk uji coba pada mobil listrik, kata pria 53 tahun itu, dibutuhkan baterai Merah berkapasitas 9 kWh sebanyak 1.000 buah.

Bambang pun sudah meneliti baterai lithium sejak 1994. Namun, baru tahun ini dia menemukan formula baterai dengan konten 100 persen lokal. Bukan hanya konten, dia juga meneliti rumus dan cara kerja baterai tersebut. Dia melakukan penelitian baterai lokal sejak 2013.

Dalam proses penelitiannya, Bambang sampai pernah jatuh sakit. Akibat kelelahan, kurang istirahat, dan begadang, tensi darahnya tinggi. Dia juga terserang stroke. Bambang pun terpaksa diopname di RS Sari Asih di Ciputat, Tangerang, pada akhir 2016. Akibatnya, laporan penelitian baterai Merah Putih molor dua bulan. Beruntung, rekan-rekan Bambang di LIPI mau membantu Bambang menyusun laporan. Anak ke-2 Bambang, Muhammad Dzulqornain, juga ikut membantu Bambang di laboratorium. Maklum, waktu itu setelah pulang dari RS, tangan Bambang tidak bisa digerakkan dan pekerjaannya pun sangat terhambat.

”Untung, anak saya pintar dan mau bantu bapaknya. Sekarang dia sudah lulus. Nanti dia saya jadikan orang yang banyak berkomunikasi dengan perusahaan-perusahaan yang membantu produksi baterai Merah Putih. Saya akan aktif dalam hal transfer teknologi saja,” ucap ayah delapan anak itu.

Penelitian Bambang itu sebenarnya diakui sangat inovatif oleh industri. Sebab, baterai lithium ion dengan konten lokal masih tergolong baru di Indonesia.
Chief of Power Development & Storage Management Research and Technology Center PT Pertamina Hery Haerudin mengatakan, pihaknya sudah melakukan komunikasi yang intens dengan Bambang. Pertamina pun tertarik untuk bekerja sama.

”Sebab, biaya impor material untuk baterai itu adalah salah satu yang paling besar cost-nya. Nah, kalau Pak Bambang itu bisa mengetahui cara membuat baterai tanpa impor, tentu akan sangat bagus sekali untuk industri dalam negeri. Kami apresiasi itu,” ujarnya. (SHABRINA PARAMACITRA, Jakarta)

Loading...