batampos.co.id – Cadangan air bersih di Batam terus menipis. Dari sejumlah dam yang kini dikelola PT Adhya Tirta Batam (ATB), volume air baku yang ada diperkirakan hanya mampu bertahan hingga dua tahu ke depan.

“Setelah itu kita masih punya cadangan yakni Dam Tembesi,” kata Kepala Kantor Air dan Limbah Badan Pengusahaan (BP) Batam Binsar Tambunan saat meninjau kantor pengolahan air PT ATB di Dam Mukakuning, Batam, Rabu (19/9).

Namun cadangan air baku di Dam Tembesi ini, kata Binsar, hanya bisa bertahan selama empat tahun. Selebihnya, pemerintah harus memikirkan pembangunan dan pemanfaatan dam-dam baru.


Binsar menyebur, saat ini Dam Tembesi masih dalam tahap persiapan. Di sana sudah mulai dibangun tempat pengolahan air baku. Targetnya dam tersebut sudah bisa beroperasi pada 2020 mendatang sehingga mampu mengatasi kekurangan pasokan air bersih di Batam.

“Setelah enam tahun ke depan, kita akan pikirkan lagi langkah selanjutnya. Selain memanfaatkan sumber air di dam Monggak dan Seigong mungkin kita juga akan memikirkan sistem recycle (daur ulang, red),” ujar Binsar.

Untuk dam Monggak dan Seigong saat ini belum bisa dipergunakan sebab belum begitu dibutuhkan. Dua waduk itu baru akan digunakan jika memang keadaan sudah mendesak ataupun pembangunan di wilayah Galang sudah mulai padat.

“Dua waduk itu belum ada arahan untuk dimanfaatkan. Belum ada hal yang urgen. Kecuali pembangunan sudah merata maka diterapkan sistem interkoneksi,” tutur Binsar.

President Director Direktur PT ATB Benny Andrianto Antonius mengkaui, ketersedian air baku dari waduk-waduk yang ada mulai menipis sehingga perlu adanya upaya antisipasi jauh-jauh hari sebelum stok air baku benar-benar habis. Ini terjadi karena jumlah permintaan terus meningkat dan tidak sebanding dengan ketersediaan air baku yang ada.

“Makanya perlu sinergitas semua pihak untuk mengembangkan sumber air baku lain di Kota Batam,” ujar Benny.

Suasana Visitor SCADA ROOM di Instalasi Pengolahan Air (IPA) Mukakuning Batam. DOK/ATB

ATB sebagai perusahaan yang dipercaya untuk mengelolah air bersih di kota Batam selama ini sudah bekerja maksimal untuk mengolah air secara efisien agar bisa seimbang antara kuota pemakaian ataupun jumlah bahan baku air yang diperoleh setiap hari. Pengeloaan yang efisien ini berkat adanya sistem Supervisory Control and Data Acquisition (Scada).

“Scada merupakan sistem kendali industri berbasis komputer yang dipakai untuk pengontrolan suatu proses” terangnya.

Selain itu ada juga sistem Geographic Information System (GIS). Yakni alat yang dapat digunakan untuk mengelola (input, manajemen, dan output) data spasial atau data yang bereferensi geografis. Dua hal inilah yang saat ini diintegrasikan di PT ATB untuk meningkatkan pelayanan air minum. SCADA dan GIS terintegrasi ini diklaim sebagai satu-satunya di Indonesia.

Salah satu manfaat SCADA dan GIS yang sudah terintegrasi dengan baik dapat mengontrol kehilangan air ATB hingga 15,28 persen. Di samping itu, integrasi SCADA dan GIS yang dibangun oleh karyawan ATB menghasilkan efisiensi dalam operasional perusahaan mulai dari produksi, distribusi maupun kebocoran (NRW).

Penggunaan SCADA untuk area produksi, kata Benny, dapat lebih mudah memonitoring secara keseluruhan area produksi hingga lebih detail. Misalnya mengetahui level kapasitas dam, memonitor area produksi, pengoperasian pompa, hingga buka tutup valve.

“Kita juga dapat memonitor titik-titik kebocoran secara realtime baik kebocoran komersial dan non komersial,” tutur Benny. (eja)

Loading...