batampos.co.id – Sejumlah anggota DPRD dan pengguna bus trans Batam kompak menolak wacana kenaikan ongkos trans Batam. Bahkan pimpinan DPRD tegas mengatakan bahwa ongkos trans Batam jangan dulu naik di tahun ini dengan alasan peningkatan PAD.
“Dishub harus mempertimbangkan pengaduan dari warga pengguna Trans Batam. Kalau memang keberatan ya jangan dulu. Lagian belum tepat saat ini,” kata wakil ketua I DPRD Batam, Zainal Abidin, Rabu (19/9).
Ia mencontohkan, kenaikan pajak hiburan dan sebagainya juga ditunda karena dengan berbagai pertimbangan. Selain karena keberatan warga dan pengusaha, juga karena kondisi ekonomi di Batam yang ada saat ini.
“Ini juga harus seperti itu. Memang kenaikan ongkos itu untuk PAD yang ujungnya untuk pembangunan. Tapi mau berapa pun PAD nya bertambah, intinya kenaikan ongkos itu belum tepat,” katanya.
Legislator Golkar itu meminta Dishub Batam lebih fokus untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. “Kalau pelayanan semakin bagus, mungkin pelan-pelan masyarakat bisa menerima kenaikan itu. Tetapi yang jelas, untuk saat ini belum bisa,” katanya.
Sementara itu, Rohaizat, anggota komisi III dari Fraksi PKS juga mengatakan bahwa kenaikan ongkos Trans Batam belum tepat diberlakukan. Pertimbangannya adalah kondisi ekonomi Batam yang belum stabil.
“Jadi kami berharap wacana untuk kenaikan tersebut ditunda dulu. Pertimbangannya ekonomi Batam masih belum stabil,”katanya.
Anggota komisi III DPRD Kota Batam lainnya, Werton Panggabean juga mengaku sudah mengetahui mengenai rencana kenaikan ongkos Trans Batam ini. Tetapi ia berharap, Dishub bisa meningkatkan PAD dari sektor lain.
“Pengguna Trans Batam ini adalah menengah ke bawah. Saya berharap untuk sementara jangan dululah dinaikkan. Belum tepat waktunya,” katanya.
Sementara itu, Sunarti, warga Batuaji mengatku kaget mengetahui rencana kenaikan ongkos Trans Batam tersebut. Bekerja di salah satu rumah makan di Kepri Mall, sehari-hari ia menggunakan Trans Batam. Ia berharap pemerintah pusat jangan menaikkan ongkos di saat sulit seperti sekarang ini.
“Kalau dihitung-hitung, berarti sebulan saya akan menambah pengeluaran Rp 60 ribu untuk ongkos. Karena untuk ongkos akan tambah Rp 1.000 sekali jalan. Berarti Rp 2.000 sehari. Bagi kami itu sudah sangat besar,” katanya.
Warga perumahan Putri Tujuh ini mengatakan, uang Rp 60 ribu sudah bisa membantu kebutuhannya sehari-hari. “Berapalah gaji kami yang di rumah makan ini. Kalau pengeluaran terus bertambah, bagaimana nasib kami,” katanya.
Menurutnya, warga lainnya yang biasa menggunakan Trans Batam juga akan keberatakan kalau ongkos trans Batam ini dinaikkan. “Kalau untuk ibu-ibu, seribu itu sangat mahal pak, jadi tolonglah pengertiannya,” katanya.
Sebelumnya Dishub Batam merencanakan akan menaikkan ongkos Trans Batam. Di mana dari Rp 4.000 menjadi Rp 5.000. Sementara ongkos anak sekolah tetap yakni Rp 2.000. Alasan menaikkan ongkos ini adalah menggenjot PAD.
“Kita mau menaikkan PAD. Tetapi ini belum kita bahas bersama DPRD Batam. Kita bukan untuk membebani masyarakat,” kata kepala UPT Trans Batam,Cipto, Rabu (19/9).
Tahun ini, Dishub menargetkan pendapatan dari penjualan karcis Trans Batam sekitar Rp 11 miliar. Dishub yakin target tersebut akan tercapai karena peminat Trans Batam terus meningkat. (ian)
