Sabtu (22/9/2018) lalu saya menghadiri acara CitraPlaza Nagoya Thank You Dinner di ballroom Swiss-Belhotel Harbour Bay. Acaranya meriah.
Selama acara berlangsung, saya menyimak dengan takzim sambutan Senior Director Ciputra Melko Handoyo dan pemaparan Andri Yuliawan, Marketing Manager CitraPlaza Nagoya.
Keduanya memaparkan data yang sama. Data yang dikutip dari hasil tim riset Housing Finance Center Bank Tabungan Negara (HFC BTN) terkait House Price Index (HPI). Disadur dari berbagai sumber, HPI adalah indeks yang memaparkan perubahan harga rumah yang dibeli oleh konsumen.
Apanya yang menarik?T
ernyata, berinvestasi properti di Batam sangat-sangat menguntungkan. Kenapa? Kepulauan Riau (Kepri) menjadi provinsi dengan pertumbuhan harga properti tertinggi di Indonesia per Juni 2018.
Artinya, beli properti di Batam, entah itu rumah, apartemen, sampai ruko sangat menggiurkan. Karena nilai jualnya dipastikan melonjak. Toh, berinvestasi di Batam tak semahal seperti yang dibayangkan.
Batam posisinya strategis. Berada di serambi ASEAN. Bukan lagi bersaing dengan Jakarta, Surabaya, atau kota-kota maju di Indonesia. Namun beradu dengan negara-negara Asia seperti Singapura, Malaysia, Vietnam, dan lainnya.
Daripada berinvestasi di Singapura dan Malaysia yang membutuhkan budget miliaran rupiah, mending investasikan duit kita di Batam. Kebetulan saya termasuk salah satu orang yang akan berinvestasi di Batam. Sebelum keduluan saya, lebih baik investasi duluan. Hehehehehe
Kembali ke HPI tadi, BTN merilis indeks harga properti di Kepri mencapai 215,43 atau naik 20,08 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year on year/yoy). Indeks harga properti di Kepri tercatat lebih tinggi dibanding HPI rata-rata nasional yang sebesar 155,46.
Rata-rata pertumbuhan di Kepri sebesar 20,09 persen. Bisa tinggi karena didorong pertumbuhan properti di Batam yang berkembang sangat pesat. HPI Batam sendiri mencapai 223,76. Tertinggi kedua di Indonesia setelah Jember yang mencapai 229,4.
Kalau HPI Kepri tertinggi di Indonesia, secara berturut-turut disusul oleh DKI Jakarta 189,2 (17,55 persen), Jawa Timur 173,34 (13,96 persen), Banten 156,82 (11,18 persen), Sumatera Selatan 154,54 (9,71 persen), Jawa Barat 154,48 (10,61 persen), DI Yogyakarta 151,15 (13,7 persen), Nusa Tenggara Timur 150,19 (9,3 persen), Jawa Tengah 149,59 (9 persen), dan di urutan kesepuluh Papua dengan 144,08 (5,6 persen).
Bukti bahwa investasi di Batam menggiurkan adalah customer CitraPlaza Nagoya asal Pekanbaru yang memborong belasan apartemen. Malam itu, si pembeli langsung diganjar Privilege Card, yang diserahkan Melko Handoyo, Komisaris PT Supreme Global Investment Soehendro Gautama, dan Andri Yuliawan.
Customer satu ini memang pintar. Dia melihat momentum bahwa Batam masih oke untuk investasi. Meskipun berasal dari luar Kepri. Baik untuk jangka pendek, menengah, maupun panjang.
Saya menjadi sangat optimistis dengan pertumbuhan properti di Batam. Tidak hanya masyarakat Indonesia, warga asing pun juga tertarik berinvestasi di Batam. Bagaimana tidak, berinvestasi dengan harga murah, untungnya berlipat-lipat.
Bukti makin moncernya Batam juga dapat dilihat di event Batam Pos Auto Show 6, 18-23 September lalu. Laporan dari Departemen Event Organizer (EO) Batam Pos, transaksi kendaraan menyentuh angka Rp 2,5 miliar.
Ini menjadi kabar baik bagi kita semua. Ternyata Batam sangat seksi bagi investasi. Tinggal bagaimana kita menjaga tren ini. Dan, salah satu tolok ukur berinvestasi adalah kenyamanan dan kondusivitas.
Apalagi, Badan Pengusahaan (BP) Batam dan pemerintah daerah punya komitmen sama untuk mendorong bertumbuhnya investasi di kota ini. Mungkin tidak hanya di sektor properti. Tapi juga sektor lainnya.
So, mari berinvestasi di Batam. Karena Batam masih seksi. *
Guntur Marchista Sunan
Direktur Batam Pos
