Iklan
Sempat jadi andalan, fasilitas i23J kini diganti. Nampak foto kenangan saat Kepala BP Batam Hatanto Reksodipoetro bersalaman dengan Presiden Direktur PT Sat Nusapersada Abidin Hasibuan dan managemen PT Infocus Consumer Internasional Indonesia usai melakukan pengurusan i23j di kantor Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) BP Batam di Gedung Sumatra Promotion Center, Senin (3/4/2017). F Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Badan Pengusahaan (BP) Batam akan mengubah layanan perizinan Izin Investasi 3 Jam (i23J) menjadi Online Single Submission (OSS) layanan prioritas. Perubahan ini akan diikuti dengan kemudahan dan pemangkasan persyaratan perizinan investasi.

“Kami akan melakukan perubahan pada Surat Keputusan (SK) Kepala BP Nomor 137/2015 sehingga mengubah i23J menjadi OSS layanan prioritas,” kata Direktur Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) BP Batam Ady Soegiharto, Senin (24/9) di Batamcentre.

Dengan demikian, maka i23J secara resmi terintegrasi dengan sistem OSS sehingga akan memudahkan investor dalam mengurus perizinan usaha.

Ady menjelaskan, layanan perizinan i23J hanya mengakomodir calon investor dengan modal minimal Rp 50 miliar atau merekrut 300 tenaga kerja. Persyaratan tersebut berasal dari peraturan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) yang berlaku secara nasional.

Namun setelah layanan i23J berubah terintegrasi dengan sistem OSS, maka persyaratan bagi calon investor yang akan mengurus izin akan dilonggarkan.

“Nilai investasi akan dikurangi menjadi minimal Rp 30 miliar atau merekrut 150 tenaga kerja,” ucap Ady.

Ady mengatakan, khusus untuk Batam, relaksasi persyaratan tersebut bisa dilakukan hanya dengan pemberitahuan kepada BKPM. Selain itu, peraturan BKPM juga tak bersifat mengikat.

“Kalau peraturan BKPM itu untuk nasional. Sedangkan di Batam kan untuk kebutuhan internal Batam sendiri. Makanya tak mungkin terapkan skala BKPM di sini,” ucapnya lagi.

Regulasi BKPM yang diterapkan secara nasional berdasarkan pertimbangan bahwa saat ini pemerintah tengah menggenjot pembangunan infrastruktur lewat industri padat karya.

“Di nasional lebih ke infrastruktur. Kan padat karya butuh banyak orang. Sedangkan kita kan hanya industri manufaktur dan padat modal,” katanya.

Dengan demikian, maka OSS sekarang memiliki tiga bentuk layanan. Pertama OSS layanan mandiri, dimana investor sudah paham mengenai OSS dan mengurus perizinan secara mandiri.

Kedua OSS layanan perbantuan, dimana pengusaha yang mengurus perizinan dibantu sama petugas. Ady mengungkapkan cukup banyak pengusaha yang memanfaatkan layanan ini.

“Berdasarkan data terakhir hingga 30 Agustus ini, sudah ada 42 PMA dan 60 PMDN yang memanfaatkan layanan ini,” ucapnya.

Sedangkan untuk realisasi investasi usaha, Tiongkok termasuk negara paling giat berinvestasi di Batam. “Dari 2016 hingga Juni 2018, Tiongkok berinvestasi 32 juta dolar Amerika Serikat lewat 18 proyek dan merekrut 530 tenaga kerja,” katanya.  (leo)