Kabupaten Lingga memiliki banyak peninggalan bersejarah yang masih bisa dilihat sampai saat ini. Salah satunya, stasiun relay TVRI di puncak Gunung Muncung, gunung tertinggi di Pulau Singkep yang berjarak 15 kilometer dari pusat Kota Dabo Singkep. foto: batampos.co.id / wijaya satria

batampos.co.id – Stasiun Relay TVRI di ke-tinggian 400 meter dari permukaan laut itu dibangun PT Timah tahun 1973. Kala itu, stasiun relay ini menangkap sinyal atau siaran yang menggunakan line of sight dari Gunung Numbing yang terletak di Sumatera Selatan.

Selanjutnya sinyal disebarkan ke seluruh pelosok Pulau Singkep ini. Keberadaan stasiun pemancar ini menjadi hiburan bagi masyarakat, karena mereka mendapat tontonan dari seluruh acara yang ditayangkan di TVRI.

Di puncak Gunung Muncung itu, selain membangun tower pemancar, PT Timah juga mendirikan sejumlah bangunan seperti mes dan perkantoran untuk kelancaran penyiaran televisi. Semua berjalan hingga puluhan tahun.

PT Timah juga membangun akses jalan menuju gunung tersebut dengan baik.
Hingga saat ini, jalan aspal berkelok-kelok masih tampak jelas bagi siapa saja yang mendaki Gunung Muncung, walau sebagian besar telah rusak dan ditutup resam dan ilalang.

Saat ini, Gunung Muncung seolah menutup rapat kenangan itu. Badan jalan yang mulus berbahan aspal dengan 33 tikungan itu, saat ini hanya tersisa sebagian saja. Pada kelok 18 hingga 25 telah roboh terkena longsor sehingga akses terputus. Pendaki mesti melewati bibir jurang untuk dapat melanjutkan perjalanan ke puncak Gunung Muncung.

Belum lagi, resam dan tumbuhan liar telah menutup hampir seluruh aspal yang ada sehingga tersisa jalan setapak saja. Selama perjalanan, pendaki akan menikmati seluruh pemandangan dari Pulau Singkep bahkan tampak jelas seluruh Kota Dabo, hutan dan hamparan laut yang membentang luas.

Sesampai di atas puncak Gunung Muncung, terlihat bangunan lusuh, penuh dengan coretan di penjuru dindingnya. Bangunan utama yang menjadi pusat perkantoran berukuran 8 meter kali 20 meter, juga tidak ada yang tersisa, kecuali dindingnya saja.

Tepat di sebelah bangunan itu, tampak tower yang berdiri kokoh. Namun hanya sebatas tiang besi kosong. Tak ada lagi peralatan pemancar. Bangunan itu tidak dapat digunakan sebagaimana mestinya sebagai stasiun relay televisi.

Menurut Koordinator Satuan Transmisi TVRI Dabo Singkep Amiruddin yang saat ini telah pensiun, seluruh alat dan perangkat penunjang penyiaran yang ada di atas Gunung Muncung telah diturunkan, mengingat kondisi stasiun relay tidak lagi memadai untuk dioperasikan kembali.

Amiruddin menceritakan, PT Timah telah menyerahkan seluruh aset penyiaran atau stasiun relay kepada TVRI untuk dikelola. Namun, saat menyerahkan aset tersebut, seluruh peralatan dan kondisi stasiun relay hanya 20 persen yang dapat berfungsi.

Menurut Amiruddin stasiun relay itu tetap digunakan sampai 1998. Saat Indonesia dilanda krisis moneter, sejumlah karyawan yang bertugas di Gunung Muncung tidak lagi dapat bekerja di sana. Dan akhirnya, lokasi tersebut terbengkalai hingga dipenuhi semak belukar.

Selain itu, lokasi Gunung Muncung yang berstatus hak pakai karena masih dalam wilayah hutan lindung.

“Selain itu pernah juga tim dari pusat meninjau lokasi Gunung Muncung. Mereka berpendapat lokasi itu memakan modal yang besar untuk dioperasikan kembali,” ungkap Amiruddin.

Menurutnya, saat stasiun tersebut beroperasi, hasil yang diperoleh belum maksimal karena stasiun relay Gunung Muncung menangkap frekuen-si sangat jauh dari Gunung Numbing di Sumatera Selatan. Akibatnya tayangan televisi yang dilihat masyarakat belum jernih.

Menyikapi ini, pada tahun 1982, PT timah kembali membangun stasiun relay di Telek, Dabo Singkep.

Menurut Amiruddin, pada masa itu telah mengenal teknologi parabola, sehingga PT Timah membangun stasiun transmisi TVRI di Telak, Dabo Singkep. Akhirnya, setelah stasiun relay TVRI di Gunung Muncung tak dapat lagi diteruskan.

“PT Timah menyerahkan dengan sistem hibah dua bangunan yakni stasiun relay di Gunung Muncung dan stasiun transmisi di Telek pada 1993,” ujar Amiruddin.

Stasiun transmisi di Telek terus berjalan hingga Januari 2018. Namun sejak itu, stasiun transmisi peninggalan PT Timah berhenti operasi karena tower pemancar mengalami kerusakan. (wijaya satria – lingga)