batampos.co.id – Perang dagang yang terus berlanjut antara Amerika Serikat dan Tiongkok dinilai bisa mendatangkan keuntungan tersendiri bagi Batam. Selain meningkatkan kinerja ekspor, situasi ini bisa dimanfaatkan untuk menarik investasi asing masuk ke Batam.

“Perang dagang tersebut dapat dijadikan peluang bagi industri di Batam supaya bisa memasuki pasar Amerika,” kata Wakil Ketua Koodinator Himpunan Kawasan Industri (HKI) Kepri Tjaw Hoeing, Rabu (26/9).

Pria yang akrab disapa Ayung ini mengatakan, saat ini pemerintah Amerika Serikat (AS) menerapkan tarif impor yang sangat tinggi terhadap barang impor jenis tertentu dari Tiongkok. Kebijakan ini tentu akan mengurangi kegiatan ekspor Tiongkok ke AS.


Dalam situasi ini, AS tentu akan mengalihkan sumber impornya ke negara lain untuk memenuhi kebutuhan dalam negerinya. “Dan inilah kesempatan bagi Batam untuk bisa menggejot ekspornya,” kata Ayung.

Namun di satu sisi, Tiongkok juga akan mencari pasar baru untuk ekspor. Dan Batam yang berstatus daerah non pabean bisa menjadi sasaran empuk bagi Tiongkok. Batam bisa kebanjiran produk dari Negeri Tirai Bambu itu.

“Tapi semuanya tentu saja tergantung dari harga. Pasar di Batam tentu akan memilah-milahnya,” jelas Ayung.

Sayangnya untuk bahan baku industri, penetrasinya ke Batam akan semakin meningkat. Karena bahan baku yang dibutuhkan industri lokal di Batam belum mampu diakomodir oleh pasar domestik.

“Ini kan karena bahan baku tidak tersedia di Batam. Kalaupun ada di Jakarta, harganya kurang kompetitif serta dari segi pengiriman memakan waktu cukup lama,” jelasnya lagi.

Pengusaha di kawasan industri tentu tidak berharap perang dagang ini terus berlanjut. Karena situasi ini juga akan banyak mendatangkan dampak yang negatif bagi perekonomian di dalam negeri. Contoh kongkretnya adalah penguatan dolar AS terhadap mata uang rupiah.

Senada dengan Ayung, Direktur Pelayanan Terpadu Satu Pinti (PTSP) Badan Pengusahaan (BP) Batam Ady Soegiharto menilai perang dagang ini tidak akan mengganggu stabilitas ekonomi di Batam dan negara tetangga. Sebaliknya, situasi ini malah menguntungkan pada beberapa sisi.

“Barang-barang dari Cina akan diekspor ke negara lain untuk kemudian diekspor ke Amerika,” ucapnya.

Kondisi ini, kata Ady, secara tidak langsung akan meningkatkan kegiatan ekspor bagi negara yang pintar memanfaatkan situasi ini. Di sisi lain, ia sependapat dengan pengusaha kawasan industri terkait menggenjot ekspor dari Batam keluar negeri.

Dua orang pekerja melakukan bongkar muat peti kemas di pelabuhan Macobar Batuampar. F Cecep Mulyana/Batam Pos

Sedangkan Kepala BP Batam Lukita Dinarsyah Tuwo mengatakan BP Batam akan terus meningkatkan invesatsi ke Batam dengan memberikan berbagai insentif dan kemudahan. Antara lain dengan mengurangi persyaratan modal minimum untuk memudahkan investasi masuk ke Batam.

“Saya tak hanya melihat apa-apa yang besar atau tidak. Karena ekonomi tak bisa menunggu, maka jika sepanjang investasi bisa serap tenaga kerja lebih banyak, menurut saya itu perlu didorong,” katanya di Gedung BP Batam, Selasa (25/9) lalu.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, BP akan mengubah layanan perizinan menjadi Online Single Submission (OSS) layanan prioritas agar bisa terintegrasi dengan sistem OSS.

Di samping itu, BP menurunkan persyaratan batas minimum modal dan tenaga kerja untuk bisa mendapatkan perizinan lewat layanan OSS prioritas.

“Kami tengah ajukan ke Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) agar bisa jalan. Kami usulkan di angka Rp 25 miliar-Rp 30 miliar,” paparnya.

Jika menunggu investasi besar, maka BP akan menghadapi kendala berupa keterbatasan lahan. “Bicara investasi besar punya kendala mengenai luas lahan yang diperlukan. Biasanya minta lahan 100 hektare dan kami punya kendala untuk lahan seluas itu,” ucapnya.

Lukita kemudian mengungkapkan banyak investor dengan nilai modal di bawah Rp 50 miliar ingin masuk ke Batam dan rata-rata berorientasi ekspor. “Negara sudah betul-betul mendorong kegiatan ekspor. Dan ini yang saya tangkap jika ada peluang investasi 100 persen akan kami dukung,” katanya lagi.

Contoh industrinya antara lain industri barang plastik yang orientasinya juga ekspor. Lalu ada juga yang akan investasi 5 juta dolar AS yang bergerak di bidang produksi rokok elektrik dan hasilnya akan diekspor ke luar negeri.

“Saya dukung dan sudah yakinkan BKPM bahwa produksinya tidak akan hasilkan limbah. BKPM mau dan investornya sudah bersiap,” ucapnya. (leo)

Loading...