Selasa, 21 April 2026

Mahasiswa UIB Sarankan KEK Diberlakukan di Zona Baru

Berita Terkait


Marganas Nainggolan selaku moderator memandu acara Bedah Kajian Mahasiswa Batam tentang FTZ dengan narasumber Ketua Kadin Batam Jadi Raja Gukguk, Dewan Pakar Kadin Batam Ampuan Situmeang, dan tiga mahasiswa UIB di Hotel Planet Holiday, Jumat (28/9). F Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Batam menggelar acara bedah karya tulis mahasiswa Universitas Internasional Batam (UIB) di Hotel Planet Holiday, Jumat (28/9). Karya tulis berjudul Dilema Penerapan Free Trade Zone di Kota Batam Harapan Versus Kenyataan itu merupakan juara pertama dalam lomba karya tulis ilmiah 2018 yang digelar Universitas Atmajaya Yogyakarta.

Karya tulis tersebut merupakan karya dari tiga mahasiswa Fakultas Hukum UIB, yakni Emilia Dwi Setiawati Sianipar, Fernando Hutasoit, dan Jefri Kurniawan. Dalam karya tulisnya, mereka mendapat kesimpulan penerapan kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas (free trade zone/FTZ) di Batam belum efektif.

“Setelah melakukan pengamatan lapangan langsung, mewawancarai narasumber, kami menyimpulkan penerapan FTZ Batam belum efektif,” kata Emilia.

Menurut Emilia, belum efektifnya FTZ di Batam disebabkan oleh beberapa faktor. Antara lain dualisme kepemimpinan, permasalahan ekonomi global, serta tidak berfungsinya Dewan Kawasan.

“Solusi dari kami yaitu sangat penting menghilangkan ego kepemimpinan dengan mengatur hubungan kerja antara BP Batam dan juga Pemko,” ujar Emilia.

Mahasiswa Fakultas Hukum angkatan 2015 ini juga mengungkapkan pemerintah juga harus mengefektifkan fungsi Dewan Kawasan, serta memfokuskan sektor ekonomi di bidang jasa IT dan pariwisata.

Dalam kartya tulisnya, ketiga mahasiswa UIB tersebut juga menyinggung wacana pemerintah menerapkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) sebagai pengganti sistem FTZ. Mereka menilai KEK tidak tepat diterapkan di Pulau Batam yang sudah berstatus FTZ.

“KEK layak dibuat pada zona ekonomi baru,” kata Emilia.

Sedangkan Jefri mengatakan ia tak menyangka karya tulis mereka masuk lima besar kompetisi dan akhirnya jadi pemenangnya. “Karena saingannya berat yakni dari Universitas Gajah Mada, Atmajaya, dan Brawijaya Malang,” katanya. (leo)

Update