Sebanyak 258 Narapidana Perempuan ditahan di Lapas Baloi, Batam.

Mereka tetap mendapat pembinaan ketrampilan mulai dari memasak, merajut, salon dan ketrampilan lainnya. Bahkan produksi mereka sudah dipasarkan ke Jakarta. Bahkan produksi mereka sudah banyak dipesan orang dari luar Kepri.

Suara riuh dari lantai tiga Lapas perempuan perempuan Baloi, jelas terdengar dari halaman lapas, Kamis (27/9) lalu. Ada yang minta ember dan ada juga yang terdengar meminta gula.

“Gula halusnya itu masih kurang. Tambah lagi bu,” demikian suara seorang perempuan terdengar dari atas.

Semakin mendekat, ke arah tangga suara-suara itu semakin jelas terdengar. Tetapi yang paling jelas terdengar adalah suara mesin seperti suara pengering tangan yang ada di rumah makan atau restoran. Biasanya mesin ini ditempatkan di sekitar wastafel untuk cuci tangan.

Ternyata, di sebelah kiri tangga ada satu ruangan. Mungkin ukurannya sekitar 4×6 meter. Di sana ternyata kepala Lapas Perempuan, Mulyani, sedang nyalon. Ia sedang mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.

“Silahkan masuk Pak, ini lagi bahan percobaan untuk ibu-ibu yang sedang belajar salon,” ujar Mulyani.

Di sana ada empat Napi yang sedang belajar salon kecantikan. Dipandu oleh Napi yang sebelumnya pernah bekerja di salon. “Kalau belajar salon ini hanya beberapa orang saja. Yang ramai itu yang belajar buat kue dan kerajinan tangan,” tambah Mulyani.

Benar saja, ternyata di lantai tiga, di blok IV C tepatnya, ada sekitar 50 an perempuan yang sedang sibuk belajar membuat kue. Mereka dipandu oleh beberapa petugas dari dinas pemberdayaan perempuan Kota Batam.

“Ini dicoba dulu kuenya. Apakah sudah pas manisnya atau harus tambah gula lagi,” ujar Ig, seorang Napi Narkoba yang divonis 12 tahun penjara.

Ig mengaku senang bisa ikut dalam pembuatan kue tersebut. Meski ia mengaku sempat gerogi untuk ikut langsung memasak kue. Apalagi saat membuat adonan dengan mixer dan saat memasukkan kue ke dalam oven.

“Saya gerogi Pak. Sudah berapa tahun tak pegang mixer. Sampai saya ditertawakan teman-teman tadi,” katanya.

Hal yang sama diungkapkan Ms, Narapidana Narkoba lainnya. Ia mengaku takut saat disuruh memasukkan kue ke dalam oven untuk dimasak. Ia takut tangannya menyentuh bagian dalam oven.

“Saya takut, jadi sampai gemetar tangan saya. Tapi saya paksakan saja,” katanya.

Ms, yang divonis 17 tahun penjara ini mengaku dulunya sering membuat kue. Tetapi tiga tahun di dalam Lapas, ia sudah lupa berbagai resep. Tetapi naluri seorang ibu membuatnya tetap punya niat untuk belajar kembali.

“Ibu itu harus tetap bisa memasak. Memang kerjaan seorang ibu adalah memasak,” katanya.

Berbagai jenis kue mereka masak. Ada nastar, risolis, bolu pandan, lidah kucing, dan kue basah lainnya. Mereka mencoba untuk membuatnya sesuai dengan tekstur dan bentuk yang ada di pasaran.

Sejumlah narapidana perempuan menunjukkan beragam kue yang sudah siap disajikan di lapas perempuan, Kamis (27/9/2018). foto: Alfian Lumban Gaol/ Batam Pos

“Kalau kata ibu kepala, kita mencoba yang terbaik agar bisa dipasarkan. Tetapi untuk kue ini memang masih kita makan sendiri hasilnya. Tetapi tujuannya adalah untuk bisa kita berproduksi,” katanya.

Menurut Ms, ketrampilan membuat kue ini sangat banyak peminatnya. Hampir Napi berharap setelah bebas bisa berwiraswasta dengan membuat kue.

“Kan enak, kalau sudah bebas kita bisa buka usaha kecil-kecilan. Dan selama di sini kalau bisa kita punya uang dari penjualan kue ini. Kan kerajinan tangan kami sudah jual ke luar, maunya kue ini juga bisa seperti itu” jelasnya.

Napi lainnya,Ul, mengaku untuk kerajinan tangan, Lapas perempuan sudah memproduksi bermacam cendera mata. Bahkan sudah dijual hingga ke Jakarta dan Riau. Yang paling banyak dipesan adalah rajutan Tanjak dan juga rajutan tas dan dompet.

“Kalau tas yang ukuran besar, harganya sampai Rp 300 ribu. Tetapi kalau dompet hanya Rp 50 ribu,” katanya.

Menurut Ul, selain di jual ke luar daerah, banyak juga tas dan hasil rajutan lainnya yang dibeli oleh keluarga dari narapidana. Dan sudah mulai ada pesanan melalui pengiriman.

Sementara itu, kepala Lapas perempuan Mulyan mengapresiasi semangat dari semua Napi untuk mau belajar ketrampilan memasak dan ketrampilan lainnya. Ia mengaku saat ini sudah banyak hasil kerajinan tangan Napi yang dijual ke luar Batam.

“Misalnya tanjak. Itu permintaannya banyak. Bahkan dari Riau minta terus. Memang buatan kita bagus,” katanya.

Selain itu, beberapa hasil kerajinan tangan Napi juga sudah ada dipajang di Bandara Internasional Soekarno Hatta. “Tetapi yang paling utama adalah bukan untuk uang selama di sini. Tetapi bagaimana mereka (Napi perempuan,red) ini setelah bebas bisa berwira usaha,” katanya.

Ia mengatakan ketrampilan ini akan selalu rutin diberikan. Dan akan terus berupaya menjalin kerjasama dengan pihak lain yang peduli dengan narapidana.  (ALFIAN LUMBAN GAOL)