Minggu, 12 April 2026

20 Tahun Merawat Toleransi di Kampung Seibinti

Berita Terkait

SUASANA perayaan malam Natal di Gereja Masehai Injil di Timur (GMIT) Effata di Kampung Seibinti, Tanjunguncang, Batuaji, yang dihadiri warga muslim, Selasa (26/12/2017). Sudah puluhan tahun umat muslim dan kristiani di kampung tersebut menjaga toleransi dan hidup berdampingan dalam sebuah harmoni. Foto: Dalil Harahap/Batam Pos

Warga Kampung Seibinti, Kecamatan Batuaji, Kota Batam mengajarkan banyak hal tentang arti toleransi. Di sini, kaum mayoritas dan minoritas saling menjaga dan menghormati. Keragaman tak pernah menghalangi mereka untuk hidup berdampingan dalam sebuah harmoni.

batampos.co.id – Kemeriahan perayaan malam Natal di Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) Effata di Kampung Seibinti, Batam, pada Selasa (26/12/2017) lalu masih terekam di benak Dahlan Fukalang. Meski muslim, malam itu Dahlan terlibat langsung dalam perayaan hari besar umat kristiani itu.

Bukan hanya Dahlan, belasan warga muslim lainnya juga ikut ambil bagian untuk menyukseskan acara. Tua muda, pria dan wanita, dengan suka rela membantu. Mulai dari menghias pohon Natal, mendekorasi gereja, hingga menyiapkan hidangan untuk para jemaat dan tamu undangan.

“Kami juga membantu menyalakan lilin, dengan tetap memakai peci di kepala,” kata Dahlan saat ditemui di kediamannya di Kampung Seibinti, Kecamatan Batuaji, Kota Batam, Minggu (30/09/2018).

Memang, perayaan Natal dengan melibatkan warga muslim kampung tersebut bukan yang pertama kalinya. Sudah 20 tahun tradisi dan toleransi itu terawat dengan baik di sana. Toleransi itu sudah tumbuh sejak kampung tersebut ada sekitar 20 tahun silam.

Namun, perayaan Natal malam itu sedikit lebih istimewa karena dihadiri sejumlah tamu penting. Mulai dari Wakil Wali Kota Batam Amsakar Achmad, Camat Batuaji yang saat itu dijabat Fridkalter Pardede, Kapolsek Batuaji yang kala itu dijabat Kompol Sujoko, dan sejumlah pejabat serta tokoh masyarakat lainnya.

Dahlan kemudian bercerita, semangat toleransi di Kampung Seibinti juga ditunjukkan umat kristiani. Sebagai kaum minoritas, mereka sangat menghargai umat muslim. Mereka juga dengan sukarela membantu kegiatan umat Islam, termasuk kegiatan perayaan hari besar Islam.

Tidak hanya saat perayaan hari besar keagamaan, kerukunan antar umat ini juga dipertontonkan dalam kehidupan sehari-hari warga Seibinti. Termasuk saat membangun rumah ibadah masing-masing. Mereka saling membantu secara bergantian.

“Bukan hanya membantu tenaga, kami juga saling menyumbang dana untuk membangun gereja maupun musala,” kata Dahlan.

Seperti saat membangun Masjid Nurul Haaq di Kampung Seibinti pada Maret 2011 lalu. Warga muslim dan Kristen saling bahu membahu mengerjakan rumah ibadah umat Islam itu. Siang malam mereka bergantian bekerja. Tiga bulan kemudian, masjid tersebut rampung dan bisa difungsikan.

Sebulan setelahnya, giliran warga Kristen yang membangun Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) Effata. Tanpa diminta, warga muslim Seibinti juga membantu proses pembangunan gereja hingga rampung.

Untuk mempertegas semangat kerukunan itu, masjid dan gereja di Seibinti sengaja di bangun di lokasi yang berdekatan. Jarak satu sama lainnya hanya sekitar 100 meter.

“Tapi tak pernah ada gesekan dan keluhan. Kami tetap bisa beribadah dengan tenang di rumah ibadah masing-masing,” ujar Dahlan.

Menurut Dahlan, toleransi sudah menjadi tradisi bagi warga Kampung Seibinti. Ini merupakan tradisi yang dibawa dari kampung halaman warga Seibinti yang umumnya merupakan perantau dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Dahlan sendiri merupakan warga yang berasal dari Pulau Alor, NTT.

Ketua RT 01 RW 19 Kampung Seibinti Iman Abdullah membenarkan hal itu. Saat ini, jumlah warga RT 01 Seibinti sekitar 300 orang atau sebanyak 78 kepala keluarga (KK). Semua warga di Kampung Seibinti merupakan pendatang. Umumnya mereka berasal dari NTT, khususnya Pulau Alor.

Di NTT, kata Iman, toleransi antar umat beragama merupakan hal yang sangat lumrah. Sudah ratusan tahun mereka hidup berdampingan dalam keberagaman. Di sana, umat Islam yang minoritas sangat dilindungi dan dihormati. Sebaliknya, umat muslim juga sangat menghargai umat Kristen yang jumlahnya jauh lebih dominan.

“Semangat toleransi itu yang kami bawa dan kami rawat meskipun kami hidup di bumi Melayu ini,” kata Iman, Minggu (30/09/2018).

Berbeda dengan kondisi di NTT dan Pulau Alor, warga Seibinti mayoritas beragam Islam. Dari 300 jiwa itu, 85 persennya beragama Islam. Siswanya merupakan umat Kristen.

Namun kondisi ini tak membuat warga muslim Seibinti lantas jumawa. Sebaliknya, mereka tetap menganggap umat Kristen yang minoritas itu sebagai saudara.

Iman menceritakan, berdasarkan cerita nenek moyangnya di NTT, warga muslim dan Kristen di sana memang berasal dari satu keluarga. Sebagian warga di sana menjadi pemeluk agama Islam yang masuk ke NTT lebih awal. Sementara sebagian lainnya memilih menjadi pemeluk agama Kristen yang masuk ke NTT belakangan.

“Jadi kami tahu, Islam dan Kristen itu saudara. Makanya kami tetap bisa hidup rukun sampai sekarang,” kata Iman yang mengaku sudah delapan tahun menjadi Ketua RT 01 Seibinti ini.

Sehingga, meski sudah jauh berada di perantauan, semangat toleransi itu tetap terjaga dan terawat dengan baik. Meski begitu, Iman mengaku tetap harus ada kegiatan-kegiatan bersama untuk terus memupuk semangat toleransi itu.

“Di antaranya ya dengan gotong-royong membangun rumah ibadah, atau saling membantu saat perayaan hari besar keagamaan,” katanya.

Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Batam Erizal Abdullah mengapresiasi cara warga Kampung Seibinti merawat toleransi. Ia berharap, semangat membangun toleransi itu menular ke warga di komplek lainnya di Batam.

Menurut Erizal, sudah seyogyanya manusia hidup berdampingan satu sama lain. Tak peduli apapun agama dan sukunya. Latar belakang dan status sosialnya, dan sebagainya.

Sebab Islam sendiri tak pernah membatasi ruang interaksi umatnya dengan umat agama lain. Selain soal aqidah. “Saya sendiri sering menghadiri acara-acara seremonial agama lain,” kata Erizal, Senin (01/10/2018).

Semangat toleransi yang dipraktikkan warga Seibinti itu, sejatinya sejalan dengan keinginan pemerintah dalam membina kerukunan umat. Itulah sebabnya di daerah-daerah terbentuk forum kerukunan umat beragama (FKUB).

Di Kemenag sendiri, kata Erizal, juga ada sejumlah program pembinaan kerukunan umat beragama. Selain rutin menggelar dialog kerukunan umat, Kemenag Batam juga rajin mengadakan penyuluhan di masyarakat. Tak hanya bertujuan membina kerukunan, penyuluhan ini juga menjadi salah satu upaya Kemenag Batam menangkal munculnya paham radikalisme di masyarakat.

Bahkan, awal tahun lalu Kemenag Batam menggelar deklarasi kerukunan bersama sekitar lima ribu peserta lintas agama. Deklarasi itu menolak lima hal. Yakni radikalisme, terorisme, narkoba, berita hoax, dan LGBT.

Terlepas dari budaya toleran yang dipertontonkan warga Seibinti, Erizal menilai kerukunan umat dan toleransi di Batam, dan Provinsi Kepri pada umumnya, sudah sangat baik. Hal ini dibuktikan dengan predikat yang disematkan kepada Kepri sebagai provinsi dengan tingkat toleransi terbaik kedua di Indonesia.

“Batam ini seperti miniaturnya Indonesia. Berbagai suku, agama, dan ras ada di sini. Tapi masyarakatnya rukun, rumah ibadah juga berdampingan,” katanya.

Untuk terus memompa semangat toleransi di Batam, Kemenag Batam menyiapkan program apresiasi Kampung Kerukunan. Melalui program ini, Kemenag Batam akan memilih kampung dengan tingkat toleransi tinggi di Batam. Bagi pemenangnya, hadiah dan penghargaan telah menanti.

“Rencananya akan kami gelar pada Hari Bakti Kemenag pada Januari 2019 mendatang,” katanya.

Sementara Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Batam Chablullah Wibisono mengatakan, sikap toleran yang ditunjukkan warga Seibinti merupakan modal penting dalam menciptakan kehidupan masyarakat yang harmonis dalam kedamaian, saling tolong menolong, dan tidak saling bermusuhan agar agama bisa menjadi pemersatu bangsa Indonesia.

“Sikap toleran ini secara tidak langsung memberikan dampak pada stabilitas keamanan dan kemajuan negara,” kata Chablullah, Senin (01/10/2018).

Menurut Chablullah, semua otu bisa terwujud jika ada komunikasi dan dialog yang baik di tengah masyarakat yang heterogen. Terutama di kalangan masyarakat akar rumput (grass root). Sebab tak jarang perselisihan dan permusuhan antar umat beragama muncul kalangan grass root karena minimnya komunikasi di dalamnya.

Karena itu, sesuai dengan namanya, FKUB Batam terus mengintensifkan dialog antar umat beragama yang di dalamnya membahas tentang hubungan antar umat beragama. Menurut Chablullah, komunikasi melalui forum-forum dialog antar umat beragama ini juga bisa menangkal munculnya paham radikalisme dan terorisme di masyarakat.

“Kalau komunikasi sudah baik, maka tidak ada lagi saling curiga. Sehingga tak akan muncul bibit-bibit permusuhan,” katanya.

Tangkal Paham Radikal dengan Kearifan Lokal

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Polisi Suhardi Alius pernah mengatakan Kota Batam dan Kepulauan Riau (Kepri) pada umumnya merupakan kawasan yang rawan menjadi pintu masuk teroris. Hal ini karena 96 persen wilayah Kepri merupakan perairan atau laut.

“Berapa banyak jalur perairan yang bisa digunakan orang untuk berlalu lalang. Keluar masuk dari sini, infiltrasinya, dinamikanya luar biasa,” kata Suhardi saat memberikan arahan di hadapan ratusan personel kepolisan tentang penanggulangan radikalisme dan terorisme di Markas Polda Kepri di Batam, akhir Februari 2018 lalu.

Menurut dia, kondisi geografis tersebut membuat ancaman terorisme di Kepri semakin tinggi. Bukan hanya teroris lokal, tetapi juga orang asing yang melakukan aksi terorisme yang dikenal sebagai Foreign Terrorist Fighters (FTF).

Selain itu, warga negara Indonesia (WNI) yang pernah bergabung dengan ISIS di Timur Tengah juga rawan kembali ke Indonesia melalui Kepri. Karenanya, ia meminta aparat kepolisian memberikan perhatian serius terhadap potensi kerawanan tersebut.

Menanggapi hal ini, Kabid Humas Polda Kepri Kombes Pol Drs. S. Erlangga mengatakan pihaknya terus melakukan antisipasi dan pengawasan. Tak hanya melibatkan internal Polda Kepri, pengawasan dan antisipasi ini juga menggandeng pihak lain, termasuk masyarakat. Bahkan saat ini di Polda Kepri telah terbentuk Satuan Tugas (Satgas) Antiteror yang berada di bawah naungan Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditkrimum) Polda Kepri.

Namun yang tak kalah penting, kata Erlangga, adalah mencegah munculnya paham dan kelompok radikal di masyarakat. Terkait ancaman ini, Polda Kepri rutin menggelar sosialisasi tentang bahanyanya paham radikal. Salah satunya melalui workshop pencegahan paham radikalisme bagi kalangan generasi muda.

Workshop ini bertujuan menghimpun dan menginventarisir ide, gagasan, dan cara pandang, sehingga diharapkan tercapainya satu kesepakatan pola yang terbaik bagi generasi muda dalam mengantisipasi paham radikalisme dan ideologi anti pancasila.

Diharapkan seluruh elemen masyarakat bahu-membahu bersama Polri menjalin kemitraan dan saling bersinergi untuk mencegah berkembangnya paham radikalisme di masyarakat. Dengan adanya sinergi ini, maka kehadiran kelompok atau paham radikal di masyarakat, terutama kalangan anak muda, bisa didteksi sejak dini.

Menurut Erlangga, paham radikal akan memunculkan aksi terorisme. Dan terorisme merupakan tantangan nyata yang dapat mengancam keutuhan dan kesatuan bangsa. Tak hanya menimbulkan kerugian material dan nyawa serta menciptakan rasa takut di masyarakat, terorisme juga telah mengoyak semangat persatuan dan kesatuan NKRI.

“Terorisme pun telah mencabik ikatan persaudaraan dan nilai-nilai toleransi yang sejatinya menjadi kultur budaya bangsa ini,” kata Erlangga, Senin (10/10/2018).

Selain melalui sosialisasi, pencegahan paham radikal juga bisa dilakukan melalui kearifan lokal. Misalnya menggalakkan kembali semangat gotong royong di masyarakat, memperbanyak kegiatan positif melalui pentas-pentas budaya, olahraga, dan lain sebagainya.

Kemudian, dari sisi spiritual juga perlu dilakukan pemahaman yang tepat seputar jihad. Sebab, paham radikalisme dan aksi terorisme sering muncul karena pelakunya berdalih ingin jihad.

“Ini tugas para tokoh agama untuk menyampaikan pemahaman yang benar tentang apa itu jihad,” kata Erlangga.

Hal senada disampaikan Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Batam Erizal Abdullah. Menurut dia, kearifal lokal terbukti efektif untuk mencegah munculnya paham dan kelompok radikal di masyarakat yang bisa berujung pada aksi-aksi terorisme.

Contoh sederhananya, kata Erizal, kegiatan gotong-royong di lingkungan atau permukiman warga. Gotong-royong merupakan kearifan lokal dan warisan tradisi bangsa yang harus dilestarikan. Dengan menggalakkan kembali gotong-royong di masyarakat, semangat kebersamaan antar warga akan terjalin. Sehingga warga akan selalu terbiasa dengan aktivitas yang positif.

“Dengan gotong royong pula, warga akan tahu jika ada tetangganya yang tidak mau bermasyarakat. Sehingga bisa dilakukan deteksi dini jika ada indikasi kegiatan yang mengarah pada radikalisme,” kata Erizal, Senin (01/10/2018).

Selain tradisi gotong-royong, kearifan lokal lainnya juga bisa dimanfaatkan untuk menangkal radikalisme dan terorisme di masyarakat. Misalnya kegiatan kesenian dan kebudayaan lokal. (suparman)

Update