Ratusan orang meninggal akibat gempa dan tsunami yang melanda Sulawesi Tengah. Jumlah itu diprediksi terus bertambah.

Jumat, 28 September 2018 lalu, duka mendalam menyelimuti negeri ini. Gempa dengan magnitudo 7,4 SR mengguncang Sulawesi Tengah. Tak sampai di situ, tsunami yang menerjang beberapa saat kemudian kian membuat merana.

Loading...

Palu, Donggala, Sigi, dan Parigi Moutong menjadi daerah paling parah. Seketika itu juga, aktivitas di sana lumpuh total. Akses jalan putus, jaringan telekomunikasi putus, yang ada hanya isak tangis.

Banyak mayat bergelimpangan di mana-mana. Tidak sedikit pula yang belum diketahui bagaimana nasibnya. Termasuk beberapa keluarga istri saya yang tinggal di Palu. Beredarnya video dan gambar pasca-kejadian membuat sesak batin kita. Miris.

Duka mereka adalah duka kita semua. Tidak ada yang menginginkan menjadi korban bencana. Seluruh bangsa Indonesia berduka. Menyampaikan rasa belasungkawa yang sangat mendalam.

Tanpa dikomando, hampir seluruh rakyat Indonesia turun ke jalan menggalang dana. Di Batam, saya temui hampir di semua traffic light. Mereka begitu peduli dengan nasib korban. Mereka rela berpanas-panasan demi membantu saudara sebangsa yang terkena musibah.

Tak hanya turun ke jalan. Ada pula yang membuka rekening donasi untuk korban. Dalam sekejap, isu pertikaian antara pendukung capres-cawapres lenyap. Kasus tewasnya Harlingga Sirla saat hendak menonton laga Persib vs Persija juga sirna. Semua mata, telinga, dan pikiran tertuju pada satu berita: gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah.

Oh Indonesia…

Inilah mengapa, kita harus bangga menjadi orang Indonesia. Meskipun memiliki latar belakang agama, suku, ras, dan budaya yang berbeda, kita tetap bersaudara. Ketika ada saudara kita terkena musibah, semua rakyat Indonesia langsung merespon.

Bahkan, respons presiden dan para menterinya kalah cepat dengan rakyatnya. Sebelum pemerintah mengambil keputusan, rakyat terlebih dahulu bertindak. Inilah yang dinamakan persaudaraan. Solidaritas antarsesama anak bangsa.

Setidaknya, kita tidak melimpahkan seluruh duka kepada masyarakat yang menjadi korban bencana. Duka seluruh rakyat Indonesia bisa meringankan beban para korban. Dukungan moril dan materiil diberikan oleh semua.

Ini menjadi pekerjaan rumah (PR) kita semua. Tidak ada yang mau menjadi korban bencana gempa bumi dan tsunami. Namun, kita harus memikirkan bagaimana cara mengantisipasi jatuhnya korban.

Pemerintah melalui instansi terkait harus merespons. Sudah cukup kejadian menimpa Aceh, Lombok, dan Sulawesi Tengah. Tindakan pencegahan harus dilakukan. Misalnya, memasang alat pendeteksi bencana, sampai mengedukasi masyarakat di daerah rawan.

Tidak ada salahnya kita belajar dengan Jepang yang sudah kenyang menjadi korban gempa bumi dan tsunami. Tak masalah juga beli alat mahal untuk mencegah timbulnya korban. Semahal-mahalnya alat pendeteksi bencana, tidak bisa membeli nyawa manusia.

Ini yang harus dilakukan. Pencegahan. Kita memang tidak bisa mengelak dari bencana. Namun mencegah jatuhnya korban masih bisa dilakukan. Kecuali jika itu memang suratan takdir.

Mungkin, hanya dengan tulisan inilah saya bisa membantu meringankan duka para korban.

Saya atas nama keluarga, manajemen Harian Pagi Batam Pos dan batampos.co.id, serta masyarakat Batam turut berduka atas terjadinya bencana di Sulawesi Tengah. Semoga para korban diberi kekuatan, ketabahan, kesabaran, dan keikhlasan.***

 

Guntur Marchista Sunan
Direktur Batam Pos

Loading...