Pixabay.com

Tanpa disadari, orang tua ikut berperan aktif “menjerumuskan” anaknya ke dunia gadget. Dunia anak yang mestinya penuh keceriaan terkurung oleh teknologi. Anak-anak menjadi individual, kurang empati dan simpati, serta malas berkomunikasi

MESYA MOHAMAD, Bandung

MINGGU, 30 September 2018, ratusan orang tua dan anak berkumpul di Podomoro Pavilion Bandung. Kawasan asri bergaya Bandung tempo dulu tapi tetap kekinian ini menjadi favorit warga Bandung. Di sini mereka bisa membawa anak-anaknya menikmati permainan tradsional. Cukup jitu karena anak bisa melupakan gadgetnya.


Anak-anak bisa bermain lompat-lompatan, engklek, bola, balon, bersepada, perosotan, dan jenis permainan tradisional lainnya yang makin langka dilihat di era sekarang. Bahagia sekali kala melihat anak-anak balita dan batita saling berdialog dengan bahasa yang mungkin hanya dimengerti mereka.

Mereka sangat ceria. Saat itu tidak ada satupun anak minta bunda maupun ayahnya meminjamkan gadget. Mereka lebih senang main perosotan. Naik tangga, turun lagi, begitu seterusnya. Kita yang lihat capek, tapi anak-anak ini seakan tiada lelahnya.

Ada juga anak yang minta bundanya melemparkan balon. Walaupun sang bunda takut bila balonnya pecah, tapi tidak sampai hati melarang buah hatinya. Satu balon meletus, si bocah kaget dan menangis. Kapokkah si bocah? Tidak! Dia malah minta diambilkan balon baru dan sengaja ditusuk agar pecah. Ajaib. Tidak ada tangisan lagi. Dia tertawa riang memperlihatkan gigi susunya yang bolong-bolong.

“Itulah dunia anak yang sebenarnya,” seru Seto Mulyadi alias Kak Seto yang hari itu menjadi pembicara utama dalam seminar berjudul “Membesarkan Anak Zaman Now: Gadget vs Engklek” besutan Podomoro Park Bandung.

Ahli psikologis anak ini mengungkapkan keprihatiannya atas kecanduan anak zaman now pada gadget. Anak-anak tidak terampil, cederung menyendiri, tidak menghargai proses, kurang komunikasi dengan keluarga.

Survei menyebutkan 67 persen dari 2.818 anak SD tergantung pada gadget. Sementara, 4.500 remaja di 12 provinsi sudah pernah nonton pornografi. Sangat miris!

Semestinya, kata Kak Seto, saat anak kecanduan gadget, orang tua harus bekerja sama menghilangkan pengaruh candu itu. Ortu jangan hanya jago memberikan instruksi. Misalnya, jangan main gadget tapi ortu sendiri tergila-gila medsos.

Menurut Kak Seto, menghilangkan kencanduan pada gadget, harus lewat kerja sama yang menyenangkan antara orang tua dan anak. Ajak anak bermain di luar agar dia tahu nikmatnya dibanding main gadget.

“Perilaku anak itu 20 persen ditentukan faktor bawaan, 80 persen faktor lingkungan. Anak jadi tidak mau belajar dan menjadi nakal karena faktor lingkungan. Orang tua harus ingat, belajar akan lebih efektif bila suasana gembira dan cara menyenangkan,” tuturnya.

Orang tua juga harus berada di garda terdepan melindungi anak dan bukannya melakukan kekerasan kepada anak. Anak adalah peniru terbaik. Kalau anak diminta senyum, hendaknya dimulai dari ortu. Anak diminta jangan membentak dan kasar, dimulai juga dari ortu. Anak diminta jangan main gadget..ortu juga jangan main gadget .

Kak Seto pun mengetuk hati seluruh orang tua. IQ bukan segala-galanya. Masih ada kecerdasan lain yaitu kreativitas, moral anak. Sesungguhnya, kunci sukses pada anak adalah kreativitas. Jadi belajar tidak harus dengan kekerasan. Mengajari anak dengan lagu adalah pilihan terbaik. Membuat suasana lebih menyenangkan.

“Orang tua jangan melupakan diskusi dalam keluarga, dongeng, dan permainan tradisional. Survei menyebutkan 70 persen ortu belum bisa mendidik anak zaman now. 60 persen ortu hanya memetingkan prestasi anak tanpa melihat kecerdasan lain. Ini yang harus diubah,” tegasnya.

Dia menceritakan pernah dipanggil Presiden Jokowi. Presiden prihatin dengan kecenderungan anak dengan gadget.

Kak Seto hanya meminta presiden untuk menjadi model Engklek. Permainan tradisional yang bisa memacu motorik dan kecerdasan anak, adalah salah satu jalan melawan candu gadget.

“Budaya dongeng harus dibangkitkan lagi. Ini untuk merangsang literasi anak. Ketika anak minta dibacakan dongeng, orang tua harus bisa membawakannya secara menarik,” ujar Kak Seto sembari membawakan dongeng Moro Beruang Kecil dan Rumah Barunya.

Buti A Azhali, dokter Spesialis Anak menyoroti anak usia dua tahun yang piawai menggunakan gadget. Herannya, ada kebanggaan orang tua ketika anaknya lihai menggunakan gadget.

Mestinya, penggunaan gadget pada anak tidak boleh lebih dari dua jam setiap hari untuk anak di atas dua tahun. Itupun harus selalu diawasi langsung.

“Orang tua wajib mengawasi media digital yang digunakan anak. Komunikasi yang terbuka antara orang tua dan anak bisa menghilangkan candu gadget. Pengetahuan ortu juga harus ditambah, jangan sampai anak lebih piawai,” terangnya.

Sama seperti Kak Seto, Dokter Buti menyarankan orang tua untuk meluangkan waktu bersama anak main di luar. Ya, orang tua dan anak main engklek.

Dengan main engklek, risiko obesitas pada anak bisa berkurang. Anak-anak makin kreatif, badannya sehat karena terpapar sinar matahari. Namun ingat, anak jangan dipaksa bermain berjam-jam di luar. Harus fun dan bisa dicicil.

“Saat anak bosan tidak pegang gadget, ajak anak main di luar. Main apa saja asalkan fun dan merangsang otak serta motorik anak,” ucapnya.

Baik Kak Seto maupun Dokter Budi mengungkapkan, karakter anak akan terbentuk baik bila lingkungan sekitarnya mendukung. Menjadikan anak berkarakter positif tidak harus di rumah mewah. Yang utama lihatlah lingkungannya.

Assistant GM Marketing Podomoro Park Tedi Gusmawa mengatakan, pihaknya ikut memikirkan bagaimana menciptakan lingkungan yang baik untuk menumbuhkan anak berkarakter positif.

Salah satunya lewat konsep hunian yang ramah anak dan bisa meningkatkan kualitas hidup keluarga. Melalui ruang terbuka yang luas, area bermain anak dan fasilitas lainnya dengan mengutamakan keamanan. (esy/jpnn)

Loading...