batampos.co.id – Sepuluh mahasiswa Singapura dari Nanyang Technology University (NTU) Singapura melihat rumah asli Melayu yakni Rumah Limas Potong. Tidak ada di Singapura, rumah khas ini mereka sambangi di Kampung Melayu, Nongsa, Batam, Senin (1/10).
“Rumah itu tidak ada lagi di Singapura, padahal akar budaya negara sana adalah melayu. Mereka kaget, setelah tahu bahwa rumah asli melayu seperti itu,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam, Ardiwinata, kemarin.
Tidak hanya melihat fisik rumah dari luar, mahasiswa yang terdiri dari warga negara Cina, Singapura juga India tersebut berkesempatan mengenal sejumlah alat-alat sehari-hari khas melayu.
“Perlengkapan pernikahan adat melayu, lalu ada peralatan rumah tangga seperti dipan hingga peralatan dapur,” papar dia.
Sekadar diketahui walau rumah tersebut dikelola Pemko, namun bukanlah aset Pemko Batam. Ke depan, ia mengatakan pihaknya akan membicarakan ini dengan ahli waris rumah sehingga jadi aset Pemko Batam.
“Akan lakukan eksepedisi pencarian benda-benda terkait budaya melayu,” ucap dia.
Ia menambahkan, pihaknya terbuka kepada siapapun yang ingin melihat rumah satu-satunya rumah melayu yang ada di Batam tersebut. ‘kami sudah bicara juga dengan agenn travel, agar rumah tersebut dijadikan paket wisata untuk dikunjungi,” terangnya.
Sebelum menyambangi rumah limas potong, para mahasiswa yang datang guna belajar bahasa melayu ini menyambangi kantor Wali Kota Batam. Dalam kesempatan tersebut, mereka diterima Wakil Walikota Batam, Amsakar Ahmad.
Selain bahasa, mereka menanyakan makanan khas melayu, khususnya Batam. Pertanyaan-pertanyaan lain yang disampaikan seperti makanan yang enak di Batam, oleh-oleh yang bisa dibawa pulang ke Singapura, usia Batam, dan jumlah penduduk Batam. Selain itu juga ada yang meminta rekomendasi tempat belanja dan tempat wisata.
Amsakar menjawab satu per satu pertanyaan mereka. Terkait usia Batam, ia menjelaskan sejarah ditetapkannya 18 Desember 1829 sebagai hari jadi Batam. Sedangkan jumlah penduduk Batam saat ini sekitar 1,3 juta jiwa.
Sementara makanan yang bisa dinikmati di Batam bermacam-macam. Mulai dari nasi padang sampai berbagai olahan makanan laut seperti ikan bakar, sop ikan, dan sebagainya. Buah tangan atau oleh-oleh yang direkomendasikan antara lain batik Batam, kue-kue, dan keripik.
“Untuk tempat melawat, bisa ke Pulau Abang, Pulau Rano, atau ke Rumah Potong Limas di Nongsa. Sedangkan pusat beli belah atau belanja di Batam banyak, ada Mega Mall, Nagoya Hill, BCS Mall, Kepri Mall, DC Mall,” sebut Amsakar.
Mantan Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan ESDM Kota Batam ini mengatakan sejak awal tahun sudah empat momen kunjungan penting dari Singapura ke Batam. Ini menunjukkan hubungan antara keduanya baik. Dan harus terus ditingkatkan dari waktu ke waktu.
Terkait bahasa melayu, menurut Amsakar, anak muda Singapura juga harus memahaminya. Karena lagu kebangsaan Singapura saja masih menggunakan bahasa melayu.
“Persaudaraan empat bangsa, Indonesia, Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam juga masih mengandalkan bahasa melayu untuk komunikasi. Jadi anak-anak Singapura juga harus paham bahasa melayu. Saran kami sering-seringlah datang ke Batam, bawa jumlah lebih banyak datang ke Batam sehingga lebih lancar komunikasi bahasa melayunya,” tutur dia.
Pengajar NTU, Hani menjelaskan pelajaran bahasa melayu ini adalah mata kuliah pilihan. Ada dua puluh bahasa yang bisa dipilih mahasiswa.
“Ini dilakukan supaya bisa bersaing di persada dunia. Kunjungan ini untuk mengajarkan mereka persamaan dan perbedaan antara bahasa melayu yang kita gunakan dengan Bahasa Indonesia,” sebutnya. (iza)
