
Kondisi ekonomi membuat sebagian perempuan di Kampung Tua Tanjung Piayu Laut, Batam, terpaksa bekerja sebagai nelayan tradisional. Kehadiran Kampung Berseri Astra (KBA) di sana memberikan secercah harapan baru bagi mereka.
batampos.co.id – Aroma keripik pisang langsung menyergap indera penciuman saat kaki melangkah masuk ke rumah Rentina, 40, di Kampung Tua Tanjung Piayu Laut, Kota Batam, Kepri, Senin (17/8/2018) lalu. Siang itu, sang empunya rumah memang tengah menggoreng keripik pisang kepok di dapur.
Ditemani sang suami, Edi, Rentina terlihat membolak-balik keripik setengah matang di penggorengan yang ada di depannya. Di sebelah kirinya terdapat sekeranjang pisang kepok kupas yang menunggu giliran dipotong dan digoreng.
Sementara Edi sibuk membantu istrinya itu membungkus keripik yang sudah matang ke dalam kemasan alumunium foil. Setiap bungkus berisi 100 gram keripik pisang. Untuk memastikan ukurannya pas, Edi menimbangnya dengan timbangan duduk analog yang ada di sampingnya.
“Beginilah kesibukan kami sehari-hari,” ujar Rentina sambil terus membolak-balik keripik di penggorengan.
Rentina mengaku sudah melakoni usaha keripik pisang tersebut sejak setahun terakhir. Awalnya, Rentina mengaku hanya coba-coba. Namun karena respon pasar lumayan bagus, ia kemudian serius menjalankan usahanya itu.
“Awalnya hanya dititipkan di kedai. Satu bungkus kecil Rp 2 ribu. Ternyata laris,” kenangnya.
Sejak saat itu, Rentina mulai berani memproduksi keripik pisang dalam jumlah yang lebih banyak. Dalam sehari, ia bisa menghabiskan hingga 20 Kg pisang untuk digoreng menjadi keripik pisang asin.
Kemasan keripik Rentina juga diperbesar. Jika sebelumnya hanya 50 gram per bungkus, kini ditambah menjadi 100 gram per bungkus. Tentu harganya juga naik dari Rp 2.000 per bungkus menjadi Rp 5.000 per bungkusnya.
Untuk pemasarannya, ia mengandalkan kerja sama dengan kedai dan restoran seafood yang ada di sekitar Kampung Tua Tanjung Piayu Laut.
Namun selama hampir setahun berjalan, Rentina merasa usahanya itu tak banyak berkembang. Selama hampir setahun itu pula, jumlah produksi keripiknya tidak bertambah. Hanya sekitar 20 Kg per hari.
“Karena memang pasarnya tidak bertambah. Hanya di sekitar sini saja,” kata ibu dua anak ini.
Hingga akhirnya ia bergabung dengan program kewirausahaan yang digelar Astra, sejak tiga bulan terakhir. Melalui program Kampung Berseri Astra (KBA), PT Astra International Tbk menggelar kontribusi berkelanjutan yang diimplementasikan kepada masyarakat setempat dengan konsep pengembangan yang mengintegrasikan empat pilar program, salah satunya kewirausahaan.
Melalui program ini, Rentina mengaku mendapatkan beberapa hal yang bermanfaat untuk mengembangkan usaha keripik pisangnya. Selain suntikan semangat melalui beberapa kali pelatihan, Astra juga membantu pemasaran produk keripik pisang yang diberi brand Mrs Rentina itu.
Pelan namun pasti, usaha keripik pisang Rentina mulai tumbuh. Saat ini, produksi keripik pisang Rentina bertambah antara 7 hingga 10 kilogram dibandingkan biasanya.
“Sekarang bisa 27 sampai 30 kilogram sehari,” katanya.
Selain membantu pemasarannya, Astra juga membantu Rentina memperbaiki kemasan keripik pisangnya. Jika sebelumnya hanya dibungkus plastik transparan biasa, saat ini keripik pisang Mrs Rentina sudah tampil dalam kemasan alumunium foil yang lebih menarik.
Tak hanya itu, kemasan keripik pisang Rentina juga dipasangi stiker yang menampilkan brand Mrs Rentina lengkap dengan alamat akun media sosialnya. Tak lupa ada tulisan “Kampung Berseri Astra (KBA) Tanjung Piayu Laut” di bagian atasnya.
Dengan penampilan barunya itu, kini keripik pisang Mrs Rentina naik harga. Jika sebelumnya hanya Rp 5.000 per bungkus, kini menjadi Rp 8.000 per bungkusnya. Isinya sama-sama 100 gram.
“Selain lebih cantik, dengan kemasan ini keripik lebih awet renyah dan terjaga kebersihannya,” kata Rentina sambil menunjukkan sebungkus keripik pisang Mrs Rentina dengan kemasan barunya.
Ditanya soal omset, Rentina enggan menyebutnya. “Lumayan lah untuk membantu penghasilan suami,” kata Rentina sambil melirik suaminya, Edi. Sehari-hari Edi bekerja sebagai nelayan.
Keinginan Rentina memang tak muluk-muluk. Jika kelak usahanya makin besar, bukan keuntungan pribadi semata yang ia kejar. Namun ia ingin agar usahanya itu turut membawa manfaat bagi warga di sekitarnya.
“Sekarang memang dikerjakan sendiri. Tapi kalau sudah besar nanti kami ingin bisa mempekerjakan ibu-ibu di sini. Supaya mereka juga punya penghasilan,” katanya.
Sebab, kata Rentina, sebagian besar perempuan di Tanjung Piayu Laut merupakan ibu rumah tangga. Mereka tidak bekerja. Praktis, pendapatan keluarga mereka hanya mengandalkan penghasilan suami yang umumnya bekerja sebagai nelayan tradisional.
Padahal, penghasilan nelayan tradisional di Batam sangat tidak menentu. Apalagi sejak marak reklamasi pesisir pantai untuk pembangunan resort hingga galangan kapal, dalam beberapa tahun belakangan.
Bahkan tak sedikit perempuan di Piayu Laut yang nekat ikut melaut untuk membantu suaminya. Selain menjaring ikan, perempuan nelayan di Tanjung Piayu Laut banyak yang melaut dengan berburu ketam atau kepiting bakau.
“Kadang kasihan juga melihatnya,” kata Edi, menimpali istrinya.
Karenanya, senada dengan Rentina, Edi berharap kelak usaha keripik pisang yang mereka geluti saat ini bisa membuka lapangan kerja bagi ibu-ibu di sekitar tempat tinggal mereka.
Selain itu, Edi berharap Astra melalui program KBA-nya juga terus memperluas binaan kewirausahaannya kepada warga Piayu Laut lainnya. Sehingga mereka juga bisa memiliki usaha sendiri dan tak perlu lagi menjadi nelayan.
Memang, Rentina bukan satu-satunya perempuan Tanjung Piayu Laut yang menjadi binaan KBA. Saat ini setidaknya ada empat orang lain yang juga dibina untuk menjalankan usaha rumahan.
Di antaranya Yuliah, Sarimah, dan Noni yang menggeluti usaha peyek kacang, peyek teri, dan keripik royco. Lalu ada Nurul yang mulai merintis usaha kerajinan tangan dengan bahan cangkang kerang khas Kepri, gonggong.
Seperti halnya Rentina, mereka juga mendapatkan binaan dan pelatihan seputar kewirausahaan. Mereka juga mendapat bantuan modal untuk kemasan produk makanan kecil yang diproduksi. Serta bantuan pemasaran hasil kerajinan dan aneka keripik yang dihasilkan warga tersebut.
“Belum lama ini produk kami diikutkan dalam pameran di Batam Center,” kata Sarimah saat ditemui di kediamannya, di Tanjung Piayu Laut, Senin (17/08/2018) lalu.
Perempuan Nelayan di Kampung Tua
Ketua RT 01 RW 10 Tanjung Piayu Laut Abdurrahman mengapresiasi program Kampung Berseri Astra (KBA) di wilayahnya. Melalui program ini, warga bisa merasakan secara langsung kehadiran dan peran Astra dalam menciptakan kehidupan masyarakat yang lebih berkualitas. Menurut dia, program KBA ini memang tepat dijalankan di Tanjung Piayu Laut untuk mengangkat derajat ekonomi warga di sana.
Menyandang status sebagai Kampung Tua, Tanjung Piayu Laut memang dihuni warga yang merupakan penduduk asli Melayu. Saat ini ada 98 kepala keluarga (KK) dengan jumlah warga sekitar 200 jiwa di Tanjung Piayu Laut. Hampir 100 persen para kepala keluarga bekerja sebagai nelayan tradisional. Termasuk para anak mudanya. Sementara para istri menjadi ibu rumah tangga.
Secara ekonomi, kata Abdurrahman, hampir seluruh warga Tanjung Piayu Laut masuk kategori masyarakat kurang mampu. Bahkan ada beberapa perempuan di sana yang nekat bekerja menjadi nelayan demi memenuhi kebutuhan hidup.
“Kadang penghasilan suami sebagai nelayan tidak cukup,” kata Abdurrahman, Rabu (03/10/2018).
Meski begitu, para perempuan nelayan di Tanjung Piayu Laut ini hanya melaut di musim-musim tertentu saja. Misalnya pada bulan Juni-September saat musim rajungan. Sementara pada bulan Oktober hingga Februari, biasanya para perempuan nelayan itu tak melaut.
“Karena air laut keruh. Gelombang juga tinggi karena sudah memasuki musim angin utara,” kata Abdurrahman.
Pria yang akrab disapa David ini berharap, program KBA di wilayahnya terus berlanjut dan berkesinambungan. Sehingga program ini tidak hanya menyentuh segelintir warganya saja. Melainkan bisa melibatkan sebagian besar warga Tanjung Piayu Laut supaya mereka tak lagi menggantungkan penghasilan keluarga dari pekerjaan sebagai nelayan.
Sebab menurut David, di Tanjung Piayu Laut sebenarnya terdapat banyak sekali pengrajin. Baik pengrajin makanan ringan khas Melayu, pengrajin kayu, hingga pengrajin souvenir dari cangkang kerang laut (gonggong). Namun selama ini mereka tak bisa mengapikasikan keahlian itu menjadi sebuah usaha karena terkendala banyak hal.
“Selain modal, mereka terkendala pemasaran. Jadi usahanya tak bisa jalan,” kata David.
Melalui program KBA ini, kata David, tim dari PT Astra International Tbk mendampingi sejumlah warga yang ingin atau telah memiliki usaha. Misalnya usaha makanan ringan yang dijalankan Rentina dan beberapa warga lainnya.
“Astra banyak membantu mereka. Mulai dari cara bikin kemasan yang menarik hingga membantu pemasarannya,” kata David.
Jika program ini berkelanjutan dan melibatkan lebih banyak lagi warga, David yakin Kampung Tua Tanjung Piayu Laut akan menjadi kampung yang mandiri secara ekonomi. David juga berharap, kelak warganya tak lagi bergantung pada hasil laut yang tak menentu itu untuk menghidupi keluarganya.
“Terutama para perempuan, jangan lagi ada yang jadi nelayan karena terlalu berisiko,” katanya.
Empat Pilar yang Menginspirasi
Sementara Koordinator Wilayah KBA Tanjung Piayu Laut, Batam, Kepulauan Riau Muhammad Iqbal mengatakan, KBA Tanjung Piayu Laut merupakan satu dari 77 KBA yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Namun KBA Tanjung Piayu Laut ini tergolong KBA yang masih baru dibandingkan yang lainnya.
“Baru mulai jalan sekitar dua bulan lalu,” kata Iqbal, Kamis (13/09/2018) lalu.
Iqbal mengatakan, untuk tahap awal Tim KBA PT Astra International Tbk fokus menjalankan pilar kewirausahaan di KBA Tanjung Piayu Laut. Mereka mendampingi beberapa warga yang memiliki usaha kecil dan menengah. Juga mendorong warga menghidupkan kembali usaha mereka yang sempat mati suri.
Melalui pilar kewirausahaan ini, program KBA diharapkan mampu menciptakan masyarakat yang produktif dan mandiri secara ekonomi.
Iqbal menjelaskan, program Kampung Berseri Astra (KBA) merupakan program kontribusi sosial berkelanjutan Astra yang diimplementasikan kepada masyarakat. Ada empat pilar dalam program ini. Selain pilar Kewirausahaan, ada pilar Kesehatan, Pendidikan, dan Lingkungan.
Melalui program ini, masyarakat dan perusahaan dapat berkolaborasi untuk bersama mewujudkan wilayah yang bersih, sehat, cerdas, dan produktif sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat di wilayah KBA.
Iqbal menyambung, saat ini pihaknya tengah menyusun agenda kegiatan untuk mengimplementasikan tiga pilar lainnya di KBA Tanjung Piayu Laut. Yakni pendidikan, kesehatan, dan lingkungan.
Menurut Iqbal, program KBA merupakan langkah nyata Astra untuk ikut serta membangun bangsa. Ia berharap program ini bisa dijadikan role model dan inspirasi bagi banyak pihak, baik swasta maupun pemerintah, untuk berkolaborasi membangun dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. (suparman)
