batampos.co.id – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kepri akan memaksimalkan potensi urban farming di Batam. Tujuannya adalah untuk memperlancar suplai sayur mayur sehingga tingkat inflasi akan terus menurun.
“Penggiat urban farming cukup banyak yang berkembang. Kami hanya berupaya mendorong bagaimana aktivitas ini agar terus berkelanjutan,” kata Kepala BI Perwakilan Kepri Gusti Raizal Eka Putera, Kamis (4/10) di Gedung BI Batamcentre
Urban farming merupakan aktivitas pertanian di dalam atau di sekitar kota yang melibatkan ketrampilan, keahlian, dan inovasi dalam budidaya dan pengolahan makanan.
Konsep urban farming adalah memanfaatkan lahan yang tidak terpakai di perkotaan yang dikonversi menjadi lahan pertanian produktif hijau yang dilakukan oleh masyarakat dan komunitas sehingga dapat memberikan manfaat.
BI saat ini fokus mengembangkan urban farming dengan melibatkan peran sekolah. Sehingga BI menggelar kompetisinya.
“Bagi 10 sekolah terbaik, kami berikan insentif sarana dan prasarana yang mendukung urban farming di sekolah,” paparnya.
Disamping itu, BI juga membantu pendirian Koperasi Tani Binaan BI yang dapat menjadi penampung produk dari sekolah-sekolah yang menerapkan urban farming.
“Kami juga pertemukan dengan retail. Kan ada Hypermart, Lotte dan Giant. Mereka (koperasi,red) didorong untuk pasok kebutuhan sayuran segar ke retail tersebut,” ungkapnya.
Dengan demikian, akan tercipta satu mata rantai distribusi yang lebih pendek.”Sehingga harga akan terkontrol, karena koperasi punya standar harga sendiri,” paparnya.
Dari urban farming ini, dapat menjadi langkah awal untuk mengatasi kelangkaan sayur mayur dan cabe yang sering terjadi di Batam dan Tanjungpinang. Hal tersebut juga menyebabkan inflasi di Kepri termasuk tinggi. (leo)
