
batampos.co.id – Perang dagang antara Amerika dan China serta rencana Bank Federal Amerika menaikkan suku bunga ditengarai menjadi penyebab keperkasaan Dolar Amerika terhadap Rupiah. Saat ini, nilai 1 Dolar Amerika setara dengan Rp 15.179.
“Ada kondisi perang dagang dan rencana FED naikkan suku bunga. Ini berpengaruh kepada penguatan Dolar,” kata Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kepri Gusti Raizal Eka Putera, Kamis (4/10) di Gedung BI Batamcentre.
BI kata Gusti akan terus menjaga stabilitas nilai tukar agar jangan sampai Dolar lebih tinggi lagi.
“Harga Dolar tergantung dari permintaan. Kalau permintaan tinggi akan naik. Makanya perlu dijaga pasokan Dolar di pasar agar selalu tersedia,” ucapnya.
BI katanya mencoba melakukan intervensi reguler dan terukur untuk atasi gejolak fluktuasi ini.Contohnya BI akan beli surat berharga di pasar sekunder untuk menjaga fluktuasi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar.
Dan satu hal lagi yang paling disarankan oleh BI adalah melakukan transaksi swap lindung (swap hedging,red).
Swap lindung dilakukan Bank Indonesia dalam rangka mendukung terciptanya pasar keuangan yang dalam dan sehat dengan tersedianya likuiditas di pasar keuangan domestik.
Secara teknis, swap lindung dilakukan melalui transaksi swap beli bank dalam Dolar Amerika dengan menggunakan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) pada tanggal transaksi.
Swap lindung ini disarankan Gusti kepada pengusaha yang menyimpan devisa dalam bentuk Dolar Amerika. Ia mengimbau agar devisa tersebut jangan ditahan karena dengan menjualnya ke BI akan ikut membantu penguatan Rupiah dalam negeri.
“Jadi untuk menjaga ketersediaan Dolar di pasar, pengusaha jangan langsung beli valas di pasar. Kalau butuhnya minggu depan, bisa swap hedging saja dengan BI,” paparnya.
Disamping itu, BI akan terus berkoordinasi dengan pemerintah untuk mengurangi Current Account Deficit (CAD) atau defisit neraca transaksi berjalan.
“Di tingkat daerah, pengelolaan defisit fiskal sudah bagus. Cuma kendala kita adalah CAD,” paparnya.
Makanya pemerintah lakukan pembatasan impor untuk komoditas-komoditas tertentu di pasar.”Lalu kurangi impor BBM dengan mendorong penggunaan biodiesl,” paparnya.
Sedangkan dari kalangan pengusaha industri berharap perang dagang antara Amerika dan China tidak berlanjut lagi.
“Karena situasi ini akan mendatangkan dampak negatif bagi perekonomian di dalam negeri. Contoh konkretnya adalah penguatan Dolar Amerika terhadap mata uang Rupiah,” kata Wakil Ketua Koordinator Himpunan Kawasan Industri (HKI) Kepri Tjaw Hoeing atau biasa disapa Ayung.
Ayung menyarankan agar pemerintah daerah meningkatkan ekspor karena tidak terpengaruh dengan penguatan Dolar. “Caranya adalah dengan mendorong pengembangan pelabuhan berbasis smart port untuk efisiensi,” pungkasnya.(leo)
