Rabu, 22 April 2026

5.000 Orang di Palu belum Ditemukan

Berita Terkait

foto: REUTERS/Beawiharta

x.batampos.co.id – Masa tanggap darurat bencana gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah (Sulteng) yang berakhir pada Kamis (11/10) nanti akan dimaksimalkan untuk mengevakuasi korban gempa dan tsunami daerah terdampak likuifaksi. Seperti di Petobo dan Balaroa, Kota Palu.

Di dua wilayah ini dilaporkan sekitar 5.000 orang belum ditemukan hingga Minggu (7/10). Mereka diduga terkubur di dalam lumpur akibat fenomena likuifaksi (tanah ambles) menyusul gempa dan tsunami di Sulteng pada Jumat (28/9) lalu.

Selain di Petobo dan Balaroa, proses pencarian korban juga difokuskan di beberapa wilayah lain yang juga terdampak likuifaksi. Seperti di Jono Oge, Mpano, Sidera, Lolu, dan Biromaru di Kabupaten Sigi. Tanah yang menjadi berlumpur pasca gempa dan menelan rumah itu diperkirakan juga mengubur korban.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengungkapkan kondisi pasca likuifaksi itu memang agak menyulitkan pencarian. Lantaran tinggi lumpur diperkirakan bisa sedalam tiga meter. Sementara luas area terdampak likuifaksi sangat luas. Seperti di Petobo yang area terdampaknya mencapai 180 hektare.

Petugas pencari korban pun fokus untuk mencari di daerah yang timbunan lumpurnya hanya semeter saja atau di reruntuhan rumah.
”Dari pada mengaduk-aduk (lumpur) tiga meter yang kita juga tidak tahu korban dimana. Pada saat likuifaksi rumah-rumah bergeser, bergerak, hanyut sambil tenggelam,” ujar Sutopo, Minggu (7/10).

Bahkan, kondisi lumpur akibat likuifaksi di Jono Oge, Kabupaten Sigi masih basah. Telah ditemukan 33 korban meninggal dunia selama lima hari pencarian di area terdampak likuifaksi seluas 202 hektare. Sesuai rapat koordinasi di Pos Pendamping Nasional pada Sabtu (6/10) pagi, petugas membutuhkan sedikitnya enam eskavator amphibi yang bisa mencari di area berlumpur.

”Kami meminta kepada PU (Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Rred) untuk mencari atau menyewa eskavator amphibi. Ya, juga sulit nyarinya. Ya kita berkejaran waktu dengan keterbatasan yang ada,” ungkap dia.

Masa tanggap darurat gempa dan tsunami Sulteng memang bisa diperpanjang. Tergantung pada hasil koordinasi dengan seluruh tim yang menangani bencana. Tapi, meskipun masa tanggap bencana disudahi bukan berarti pencarian dihentikan seluruhnya. Masih ada pencarian korban tapi secara terbatas.

Jumlah tim pencari dan alat berat tidak sebanyak saat tanggap darurat. Lantaran petugas juga akan ditugaskan untuk pembersihan puing-puing akibat gempa.

”Karena dalam proses evakuasi apalagi 14 hari korban sudah meninggal dan kalaupun ketemu kondisinya juga tidak utuh. Oleh karena itu maka dinyatakan hilang,” jelasnya.

Sedangkan lokasi yang terdampak likuifaksi itu kemungkinan tidak akan dijadikan perumahan kembali. Warga akan direlokasi di tempat yang lebih aman. Lokasi bekas likuifaksi itu bisa menjadi fasilitas publik. Seperti area terbuka hijau, hutan kota, tempat olah raga, fasilitas pendidikan yang bersifat umum, dan museum.

”Kita memerlukan bangunan seperti museum itu sebagai penanda yang selanjutnya masyarakat akan belajar banyak akan teredukasi. Kemudian kita latihkan agar masyarakat siap hadapi bencananya,” jelas dia. (jun/JPG)

Update