Pada era sekarang, informasi menyebar begitu cepat. Nyaris tanpa penyaring. Tak jarang, yang tersebar adalah berita bohong. Istilah bekennya: hoax.

Ya. Ini menjadi peringatan buat kita. Asal menyebar informasi bisa berbuntut panjang. Apalagi kalau mengarah ke hoax. Bisa terjerat Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

Hoax ini sangat berbahaya. Bahkan bisa menyesatkan. Ending-nya mengganggu kenyamanan dan kondusivitas. Karena, semua bisa menjadi korban. Yang diinformasikan dan yang mendapat informasi.

Tentu kita masih ingat kasus yang menimpa Ratna Sarumpaet yang mengaku digebuki. Atau beberapa orang yang diciduk polisi lantaran share informasi bohong soal bencana alam di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Sulawesi Tengah (Sulteng). Atau perkara lainnya yang ditangani Korps Bhayangkara.

Kembali. Ini jadi pelajaran bagi kita semua untuk lebih bijak dalam menyebarluaskan informasi. Polisi juga makin canggih. Kalau dulu sekadar patroli di jalan raya, kini juga berpatroli di dunia maya. Kabarnya ada tim cyber yang menjelajahi dunia maya untuk menangkal hoax.

Bagi yang doyan mengirimkan informasi, lebih baik disaring dulu. Dicek kebenarannya. Cek dan ricek menjadi kewajiban kita masyarakat Indonesia. Lupa menyaring, apalagi teledor, fatal akibatnya. Sengaja atau tidak. Tahu atau tidak. Bisa masuk kategori penyebar hoax.

Menyebarkan kabar hoax, atau bahkan cuma sekadar iseng mendistribusikan (forward), harap berhati-hati. Ancamannya tidak main-main, bisa kena pidana penjara enam tahun dan denda Rp 1 miliar. Wow! Hukuman dan dendanya fantastis.

Kenapa? Pelaku penyebar hoax bisa terancam Pasal 28 Ayat 1 UU ITE. Di dalam pasal itu disebutkan: “Setiap orang yang dengan sengaja dan atau tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan, ancamannya pidana maksimal enam tahun dan denda maksimal Rp 1 miliar”.

Ada yang mau mencoba? Saya tidak mau. Hehehehehe.

Hoax sangat meresahkan. Benar-benar meresahkan. Tidak hanya beredar di media sosial (medsos), namun juga banyak media online penyebar hoax. Saya pikir, kepolisian sudah mengendus medsos dan media online mana saja yang terindikasi menyebar hoax. Bahkan, sudah merambat ke Whatsapp hingga short message service (SMS) alias pesan pendek.

Apa yang dilakukan Polri patut kita apresiasi. Wajar. Karena, informasinya sering menyesatkan. Namun banyak yang menyebarkan. Bak menjadi pesan berantai. Apalagi kalau menyangkut informasi besar.

Mulai sekarang kita semua harus berhati-hati dalam menyebarkan informasi. Harus disaring dulu. Dicek kebenarannya. Yang menyebarkan, disadari atau tidak, juga bisa kena karena dianggap turut mendistribusikan kabar bohong.

Kalau mau aman, jika informasi itu membingungkan atau belum jelas kebenarannya, tidak perlu ditanggapi. Apalagi sampai ikut menyebarkan. Lebih bijak lagi, dilaporkan saja kepada polisi.

Mengapa harus dilaporkan ke pihak berwajib? Karena hoax sudah masuk dalam delik hukum. Setelah itu, biarkan polisi menyidik dengan bersama instansi terkait. Ya, sekaligus menjadi warga negara yang baik dengan membantu tugas kepolisian dalam memberantas hoax.

Pakar Neurologi Universitas Indonesia (UI) Diatri Nari Lastri mengatakan, otak tidak bisa termanipulasi. Namun bisa menerima, memahami, memilih informasi yang didapatkan atau menilai informasi tersebut relevan atau tidak. Serta mengintegrasikan dengan informasi yang ada, sehingga menggunakan informasi tersebut untuk mengarahkan nalar dan perilaku.

Kemampuan untuk kritis dan mempercayai informasi juga perlu latihan yang akan menjadi kebiasaan. Agar tidak mudah termanipulasi, tentu harus punya dasar kognitif yang baik. Harus juga terbiasa memahami dan memilih atau menilai kebenaran informasi dengan mengintegrasikan informasi yang sudah tersimpan.

Nah, kalau disimpulkan, menyebarluaskan informasi itu murni faktor kebiasaan. Kalau kita membiasakan untuk menyaring informasi yang didapat dan mengecek kebenarannya, saya pikir kita tidak akan terjebak dengan hoax. ***

 

Guntur Marchista Sunan
Direktur Batam Pos

 

 

Yuk Baca