Iklan
Presiden Joko Widodo (tengah) didampingi Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (kedua kiri) dan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (kedua kanan) berfoto bersama Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde (ketiga kanan), Presiden Grup Bank Dunia Jim Yong Kim (ketiga kiri), Gubernur Bank Sentral Inggris Mark Carney yang juga Ketua Dewan Stabilitas Keuangan IMF (kiri) dan Gubernur Bank Sentral Afrika Selatan Lesetja Kganyago yang juga Ketua Komite Moneter dan Keuangan Internasional IMF (kanan) saat menghadiri acara The Bali Fintech Agenda dalam rangkaian Pertemuan Tahunan IMF – WBG 2018 di Mangapura Hall, BICC, Nusa Dua, Bali, Kamis (11/10). The Bali Fintech Agenda akan membahas berbagai peluang dan tantangan yang bisa diperoleh dari teknologi yang berpotensi mengubah lansekap ekonomi dan keuangan .FOTO : FEDRIK TARIGAN/ JAWA POS

batampos.co.id – Empat belas badan usaha milik negara (BUMN) resmi bekerja sama dengan sejumlah mitra strategis di 19 proyek dalam acara Annual Meeting IMF-World Bank 2018, di Bali, Kamis (11/10). Total nilai proyek mencapai USD 13,5 miliar atau Rp 201 triliun.

Menteri BUMN Rini Soemarno mengatakan, penandatanganan investasi dan pembiayaan infrastruktur itu merupakan bukti di tengah ketidakpastian ekonomi global, iklim investasi di Indonesia tetap terjaga.

’’Berdasar jenis investasi, strategic partnership memberikan kontribusi hampir 80 persen dari total nilai penandatanganan,’’ ujarnya.

Selebihnya adalah project financing dan pembiayaan alternatif pasar modal yang mencakup sektor migas, hilirisasi pertambangan, pariwisata, bandara, kelistrikan, pertahanan, jalan tol, dan manufaktur. Dalam penandatanganan kerja sama tersebut, sektor migas, yakni antara PT Pertamina dan CPC Taiwan, menyumbang porsi terbesar investasi senilai USD 6,5 miliar atau Rp 96,85 triliun.

Kedua perusahaan meneken kerja sama pembangunan pabrik petrokimia. Yakni, nafta cracker berkapasitas 1 juta barel per hari di kilang Balongan dan akan beroperasi pada 2026. ’’Diproyeksikan menjadi substitusi impor sehingga menghemat pengeluaran devisa hingga USD 2,4 miliar per tahun,’’ imbuhnya.

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menyatakan, kajian untuk proyek itu dimulai dengan memakan waktu 3–6 bulan ke depan. ’’Setelah tahap kajian akan berlanjut ke tahap pengembangan. Pertamina akan lebih meningkatkan lagi bisnis di petrokimia,’’ ujarnya.

Rencananya, proyek itu termasuk revamping atau meningkatkan kapasitas kilang eksisting ke produk BBM dengan spesifikasi Euro IV dan Euro V di Kilang Balongan. Pembangunan proyek tersebut diperkirakan memakan waktu selama 4–5 tahun.

Sektor hilirisasi tambang juga diwujudkan dengan head of agreement PT Indonesia Asahan Aluminium dan PT Antam Tbk dengan Aluminium Corporation of China Limited (Chalco) senilai USD 850 juta. Rencananya, Inalum, Antam, dan Chalco membangun pabrik Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah, Kalimantan Barat, berkapasitas 1 juta ton per tahun.

’’Substitusi impor pada penghematan devisa USD 600 juta per tahun,’’ sambung Rini.

Rini turut mengumumkan inovasi pembiayaan terbaru dan inovasi instrumen lindung nilai. Inovasi pertama pembiayaan proyek jalan tol Jasa Marga melalui dana investasi infrastruktur, Dinfra. ’’Inovasi lainnya adalah instrumen lindung nilai berupa currency hedging berbasis syariah pertama di Indonesia yang diprakarsai FP3K,’’ terang Rini. Tidak semua kerja sama merupakan hasil kesepakatan antara BUMN dan investor asing.

Ada pula kerja sama antara BUMN dan swasta nasional dengan nilai cukup besar, yakni USD 915 juta, antara PT Hutama Karya dan Bank Mega. Kerja sama tersebut berupa kesepakatan pinjaman untuk proyek tol Pekanbaru–Dumai. Proyek jalan tol tersebut diharapkan beroperasi pada 2020 dengan panjang 131 km. (vir/c19/oki)