Ratusan Napi Perempuan menggelar demonstrasi di halaman LPP Baloi, Kamis (11/10). Mereka meminta pihak LPP mengembalikan uang yang pernah mereka yang masih tertahan di koperasi. F. Alfian Lumban Gaol/ Batam Pos

batampos.co.id – Ratusan narapidana perempuan di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan (LPP) Kelas II A Baloi menggelar demo di halaman depan sel, Kamis (11/10). Mereka meminta kepala LPP mengembalikan uang mereka yang sempat dikutip untuk uang koperasi. Sekaligus meminta pemberlakuan uang asli dalam transaksi di koperasi LPP.

Demonstrasi ini berlangsung cepat. Para napi langsung berkumpul di lapangan usai mengikuti kegiatan kerohanian di blok C. Bahkan kebanyakan napi ini masih menggunakan mukena. Demikian dengan napi beragama kristiani baru selesai mengikuti kebaktian pengembangan diri dalam rangka memperingati hari dharma karyadhika atau hut Kemenkumham.

“Kembalikan uang kami. Jangan pakai brizzi,” teriak dari seorang napi perempuan.

“Kami mau uang cash. Jangan yang lain. Kami mau uang kami dikembalikan,” teriak napi lainnya.

Melihat para napi ini mulai ramai berkumpul, para sipir dan petugas kemanan langsung beregerak. Pintu langsung dijaga dan sebagian di antaranya langsung masuk ke dalam lapangan. Mereka langsung menenangkan para napi.

Seorang petugas di gedung yang juga menjadi tempat LPKA ini mengatakan, bahwa kejadian ini serupa sudah pernah terjadi. Di mana para Napi perempuan meminta agar keuangan koperasi oleh kepala lapas perempuan lebih transparan. Di mana diduga ada sebagian uang para napi yang masih mengendap atau dipegang oleh kalapas.

“Kalau tidak salah taggal 29 September lalu sudah pernah. Pada intinya napi minta agar ada transparansi dan meminta uang mereka dikembalikan,” katanya.

Petugas tersebut mengatakan, bahwa selama ini memang para napi diterapkan kebijakan dalam transaksi menggunakan uang mainan.Di mana uang tersebut hanya bisa digunakan untuk belanja di dalam lapas khususnya untuk belanja di koperasi.

Tetapi kemudian, ada masalah karena ada besaran biaya yang diduga tidak bisa dipertanggungjawabkan oknum tertentu di dalam koperasi. Dan beberapa waktu lalu ada kebijakan dari oknum di LPP yang ingin kembali memberlakukan kartu brizzi.

Sementara itu, kepala lapas perempuan kelas II A Baloi, Mulyani ketika dikonfirmasi tidak mau berkomentar banyak. Ia mengakui bahwa demo tersebut terkait tuntutan para napi mengenai uang mereka. Saat ini ada lebih dari 250 napi perempuan di sana.

“Ini akan kami rapatkan dengan struktur LPP dulu. Jadi pada intinya mereka menolak ke sistem brizzi,” ujarnya singkat.

Mulyani mengaku akan menyelesaikan masalah ini. Tetapi ia tidak berkomentar mengenai adanya dana koperasi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.

“Maaf ya, kapan-kapan mainlah ke kantor. Udah ya,” jawabnya singkat. (ian)

Advertisement
loading...