Iklan

batampos.co.id – Masa tanggap darurat pascagempa dan tsunami di Sulawesi Tengah (Sulteng) akhirnya resmi diperpanjang. Di masa perpanjangan ini, tim akan fokus memperbaiki bangunan dan jalan yang rusak akibat gempa dan tsunami pada Jumat (28/9) lalu. Sementara pencarian korban dihentikan.

Iklan

“Pencarian korban tetap berakhir kemarin,” kata Gubernur Sulteng Longki Djanggolo usai rapat di kantor gubernur Sulteng di Kota Palu, Kamis (11/10).

Walaupun begitu, petugas bakal tetap selalu disiagakan. Mereka bakal mengambil tindakan kalau suatu saat ada laporan warga yang menemukan jenazah.

Padahal, jumlah korban yang belum ditemukan diperkirakan masih sangat banyak. Terutama di wilayah permukiman yang terkena likuifaksi atau tanahnya ambles.

Di Balaroa, misalnya. Ada ratusan warga yang dilaporkan masih hilang. Mereka diduga ikut terkubur lumpur bersama rumah mereka.

Kondisi serupa terjadi di Petobo. Jumlah korban yang diperkirakan masih tertimbun tanah longsor seluas 180 hektare diperkirakan mencapai ratusan.

Sementara dari data satgas bencana alam disebutkan, korban meninggal yang terdata selama dua pekan pasca kejadian sampai pukul 15.00 kemarin sebanyak 2.067 orang.

Sesuai usulan awal, masa tanggap darurat diperpanjang dalam 14 hari ke depan. Petugas bakal lebih fokus kepada pemulihan kondisi dan penanganan kedaruratan.

Mengenai masa depan para pengungsi, Gubernur Sulteng menjanjikan semua bakal mendapat perhatian. Longki mengaku sudah meminta jajarannya mencukupi kebutuan mereka di posko pengungsian. Mulai dari makanan sampai air bersih. “Logistik pasti kami upayakan terpenuhi semua,” tuturnya.

Di masa perpanjangan ini, petugas juga akan fokus mendistribusikan bantuan logistik untuk para pengungsi dan korban selamat.

Direktur Operasi Basarnas Brigjen TNI (Mar) Bambang Suryo mengatakan, pihaknya sudah berupaya keras untuk melakukan operasi pencarian. Operasi sejak awal dipusatkan pada titik likuifaksi. “Kondisi lapangan tidak mudah,” ujarnya.

Dalam pencarian, lanjutnya, personel juga harus memperhatikan aspek keselamatan. Begitu juga dengan kondisi korban yang tertimbun tanah. “Jenazah pasti sudah rusak. Kami setuju dengan pemuka agama yang menyarankan lokasi langsung dijadikan sebagai pemakaman,” kata Bambang.

Sementara itu, warga terdampak gempa dan tsunami Sulteng mulai beraktivitas normal. Meski kondisinya belum pulih seperti sedia kala. Dari segi pendidikan, misalnya. Sejumlah sekolah mulai didatangi para siswa.

Berdasar pantauan, proses belajar mengajar terlihat di SMPN 1 Palu kemarin. Guru dan para siswa tidak berada di dalam bangunan sekolah. Mereka berkumpul di dalam sebuah tenda. Letaknya di halaman.

Kepala Dinas Pendidikan Palu Ansyar Sutiadi menyatakan, pihaknya sudah memberi instruksi kepada para sekolah untuk membuat kondisi cepat pulih. Yakni, dengan menjalankan kegiatan belajar mengajar sejak Senin (8/10). “Diselaraskan dengan pelayanan pemerintahan,” sebutnya. (edi/agm/JPG)