Kamis, 16 April 2026

Dolar Singapura Ikut Menguat

Berita Terkait

Karyawati Money Changer sedang menghitung uang dolar Singapura.
F Cecep Mulyana/Batam Pos

x.batampos.co.id – Tak hanya dolar Amerika Serikat, kurs dolar Singapura terhadap rupiah juga terus menguat. Mengacu data Bloomberg, nilai tukar rupiah tembus Rp 11.028 per dolar Singapura. Ini merupakan rekor baru yang membuat rupiah untuk kesekian kalinya berada di posisi terlemah sepanjang sejarah di hadapan mata uang Negeri Singa.

Sejumlah pengamat menyebutkan, pelemahan rupiah terhadap dolar Singapura lebih dikarenakan fundamental mata uang Garuda itu sendiri. Rupiah terhadap mata uang acuan dunia dolar AS memang sudah melemah cukup dalam, sementara dolar Singapura justru sebaliknya.

Kondisi ini berbeda dengan pelemahan rupiah terhadap dolar AS. Dolar AS kian kuat atas rupiah dikarenakan faktor eksternal yang berasal dari teror kenaikan suku bunga The Fed hingga kebijakan-kebijakan ekstrem Presiden AS Donald Trump. Termasuk kebijakan perang dagang dengan Tiongkok.

Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Singapura ini berdampak langsung pada kenaikan sejumlah harga barang di Batam. Terutama barang dan komoditas yang didatangkan dari luar negeri atau impor.

Misalnya sejumlah bahan bangunan impor seperti keramik dan batu granit. Kenaikan harga juga terjadi pada perlengkapan elektronik impor seperti lampu dan sejenisnya.

“Imbasnya memang terasa ke bahan bangunan impor. Bahkan harga sudah naik sejak dua bulan terakhir,” ujar Manajer Operasional Swalayan Bahan Bangunan Mitra 10 Batam, Yudha Mouries, Jumat (12/10) sore.

Menurut Yudha, sudah menjadi hukum ekonomi ketika harga naik maka daya beli masyarakat turun. Imbasnya, penjualan bahan bangunan dan elektronik di Mitra 10 Batam turun.

Yudha menyebut, tingkat penjualan di Mitra 10 turun antara 5-10 persen dalam dua bulan belakangan. Khususnya pada mingu pertama Oktober ini.

“Untuk omset kami masih minus,” katanya.

Tak hanya di supermarket, kenaikan bahan bangunan juga terjadi di sejumlah toko bahan bangunan di Sagulung, Sekupang, dan Batuaji. Para pengusaha toko bangunan mengaku, kenaikan harga berlaku pada hampir seluruh bahan bangunan dan alat elektronik. Kenaikan antara Rp 5 ribu hingga Rp 10 ribu dari harga sebelumnya.

Misalnya besi 10 inci. Sebelumnya besi ini dijual Rp 70 ribu per batang. Namun kini naik jadi Rp 75 ribu. Begitu juga dengan keramik yang setiap merknya rata-rata naik hingga Rp 10 ribu per kotak.

“Hanya semen dan pasir yang tak naik. Semua barang impor dari yang besar sampai kecil naik harga semua,” ujar Salim, pemilik toko material bangunan di Marina, Batam, Jumat (12/10).

Menurut Salim, kenaikan harga tidak dilakukan serentak. Barang stok lama masih dijual dengam harga lama. Namun yang baru didatangkan dari grosir dengan harga baru akan dijual dengan harga baru juga.

Pemilok toko bangunan lainnya di Batuaji, A Liang, mengakui kenaikan harga ini berdampak pada penjualan. Masyarakat cenderung menunda pembelian bahan bangunan karena harganya masih tinggi.

“Di Batuaji ini konsumen utamanyamasyarakat yang mau renovasi. Tapi karena harga barang naik, banyak yang menunda rencana renovasi rumah,” katanya.

Selain bahan bangunan, barang elektronik seperti ponsel juga naik harga. Di Star Trade Center (STC) Mall, misalnya. Para pengusaha toko ponsel sepakat menaikkan harga menyusul tingginya kurs dolar Singapura terhadap rupiah.

Meski begitu, para penjual ponsel mengaku kondisi ini tak memengaruhi minat beli konsumen. “Biasanya pembeli kami kasih tahu kalau harga naik itu kenapa. Saya rasa mereka sudah paham lah kondisi itu,” sebutnya.

Untungkan Sktor Pariwisata

Penguatan dolar Singapura terhadap rupiah tak selamanya merugikan. Khusus untuk sektor pariwisata, dampaknya justru sebaliknya. Kondisi ini dinilai justru akan menguntungkan sektor pariwisata karena banyak turis asing yang akan senang liburan ke Indonesia, khususnya Batam yang dekat dengan Singapura.

Plt Kepala Dinas Pariwisata Kota Batam Ardi Winata, pelamahan rupiah terhadap dolar Singapura ini akan menguntungkan turis yang membawa dolar Negeri Singa yang liburan ke Batam.

“Mereka dapat lebih santai dengan harga yang sangat terjangkau,” kata Ardi, kemarin.

Meski belum melakukan pantauan di lapangan, Ardi yakin kondisi ini akan mampu mendongkrak kunjungan wisman ke Batam. Sehingga target 1,8 juta wisman pada tahun ini akan terpenuhi.

Sementara pantauan Batam Pos di sejumlah pelabuhan internasional di Batam, Jumat (12/10), arus penumpang yang datang dan berangkat dari dan ke Singapura masih cenderung normal. Namun sejumlah pengelola pelabuhan memperkirakan lonjakan kedatangan penumpang akan terjadi di akhir pekan, termasuk hari ini, Sabtu (13/10).

“Ya kalau turis pasti senang lah dia, kalau dolar naik,” kata Jumarly, petugas di Pelabuhan Ferry Internasional Sekupang, Batam, kemarin.

Tak hanya dari Singapura, kata Jumarly, turis asing yang datang via pelabuhan tersebut berasal dari berbagai negara. Seperti Malaysia, Tiongkok, Korea Selatan, Jepang, dan negara Asian bahkan Eropa lainnya.

Kondisi serupa terjadi di Pelabuhan Feri Internasional Batam Center. Pengelola pelabuhan memperkirakan kedatangan penumpang dari luar negeri akan terus naik memasuki akhir pekan.

Pengelola Pelabuhan Feri Internasional Batam Center Nika Astaga mengatakan, peningkatan jumlah penumpang di akhir pekan adalah hal biasa. Terutama penumpang di terminal kedatangan. Ini karena turis asing asal Singapura akan lebih nyaman dengan kurs dolar Singapura yang terus naik.

“Dibandingkan di negara mereka jauh lebih murah. Apalagi dolar lagi tinggi,” ujar Nika.

Terpisah, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kepri Gusti Raizal Eka Putra mengatakan, BI akan terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar Singapura agar agar tidak lebih tinggi lagi.

“Harga dolar tergantung dari permintaan. Kalau permintaan tinggi akan naik. Makanya perlu dijaga pasokan dolar di pasar agar selalu tersedia,” ucapnya. (eja/gas/she/yui/leo)

Update