Kamis, 2 April 2026

UMKM, Harapan Baru Perekonomian Batam

Berita Terkait

Krisis global yang terjadi karena menurunnya harga minyak dunia sejak tahun 2016, benar-benar membuat Batam tak berkutik. Fondasi ekonomi yang mengandalkan sektor industri benar-benar runtuh. Buktinya adalah merosotnya pertumbuhan ekonomi Kepri pada angka 1,16 persen pada triwulan kedua 2017.

RIFKI SETIAWAN LUBIS, Batam

Melihat kenyataan yang jarang terjadi tersebut, pemerintah daerah (Pemda) mulai melirik sektor lainnya untuk memulihkan ekonomi. Selama harga minyak dunia masih anjlok, Batam tak bisa berharap banyak dari sektor industri.

Badan Pengusaha (BP) Batam sebagai pengelola kawasan perdagangan bebas mulai menaruh harapan kepada sektor UMKM. Jiwa kewirausahaan yang dimiliki para pelaku UMKM dapat menjadi motivasi untuk pertumbuhan ekonomi Kepri khususnya Batam.

Peran serta UMKM akan semakin dioptimalkan dalam pengembangan sektor pariwisata di Batam. BP Batam melihat peluang tersebut dapat menarik lebih banyak wisatawan ke Batam.

“Pengembangan UMKM dan industri kreatif dapat memberikan kontribusi ekonomi sangat signifikan, menciptakan iklim bisnis yang positif, membangun citra dan identitas bangsa serta usaha berbasis sumber daya terbarukan,” kata Anggota 5 Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam, Bambang Purwanto, Sabtu (6/10).

Menurut Bambang, UMKM ibarat rumah dengan fondasi usaha mikro kecil, usaha menengah sebagai pilar dan usaha besar sebagai atap.

“Kemampuan UMKM yang menyentuh lapisan masyarakat paling bawah menjadi kekuatan untuk menggerakkan ekonomi kerakyatan dan pengelolaan daerah wisata harus melibatkan masyarakat lokal dan UMKM,” jelasnya.

Bambang kemudian mengatakan peran serta UMKM dalam pengembangan pariwisata yakni mengembangkan produk UMKM berbasis pariwisata.

Contohnya adalah pengembangan perkampungan batik, souvenir khas Batam, kuliner khas Batam, pemberdayaan kampung nelayan, pengembangan sanggar seni dan budaya lokal dan pengembangan wisata bahari, religi dan sejarah.

“Lalu hasil produksinya akan ditata sedemikian rupa berikut juga pelayanannya untuk menarik wisatawan agar mau membeli produknya saat berkunjung ke Pulau Batam,” jelasnya.

Namun untuk memulainya tentu butuh langkah awal dimulai dengan pemberian bimbingan teknis untuk UMKM, seperti memberikan kepastian secara hukum agar hasil produksinya dapat dipertanggungjawabkan, penerapan tata kelola yang baik, sosialisasi setiap regulasi baru dan mempermudah perizinannya.

“Lalu kami juga akan memberdayakan Balai Latihan Kerja (BLK) untuk mendidik masyarakat menjadi terampil dalam mengolah produk yang dihasilkan,” jelasnya.

Setelah itu rampung, maka UMKM yang sudah terlatih tersebut akan mampu menjadi agen-agen yang mampu menggerakkan masyarakat untuk berwiraswasta.”Sehingga promosi pariwisata bisa dilakukan secara berkesinambungan,” pungkasnya.

Sebagai langkah awal, BP Batam mulai menggelar rangkaian even pariwisata sepanjang tahun. Dan di setiap even, BP menyediakan sekitar 200 stan yang diisi oleh pelaku UMKM. Semuanya gratis termasuk listrik dan air. Salah satu hajatan besar yang menjadi tolak ukur kemampuan UMKM menopang perekonomian adalah even pemecahan Rekor MURI untuk penari terbanyak, yakni Batam Menari yang digelar pada 8 April lalu.

Sebanyak 200 pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) berpartisipasi dalam even tersebut. Mereka menjual produk-produk terbaiknya, mulai dari makanan, minuman, kerajinan tangan dan lainnya.

Pemilik Almira Cake, Nopri Wilisman tengah mengoleskan saripati alpukat di atas cake dasar di rumahnya yang berada di Seibeduk Batam. Dalam sehari, ia bisa memproduksi 300 cake bersama dua karyawannya untuk kemudian dipasarkan ke lima stan penjualan di Batam.f. Rifki Setiawan Lubis/Batam Pos

Jika dilihat dari angka, jumlah pelaku UKM ini sedikit lebih banyak, dibanding kegiatan BP Batam sebelumnya. Saat itu panitia hanya bisa menampung sekitar 100-an UMKM.

Pelaksana Tugas Kabiro Umum dan Sekretariat BP Batam yang juga panitia kegiatan Batam Menari, Ilham Eka Hartawan mengakui, antusiasme pelaku UMKM yang ingin terlibat pada setiap even BP Batam terbilang tinggi. Terbukti pelaku UMKM yang mendaftar lebih dari 200 orang. Begitupun dengan even kali ini.

“Kami minta maaf ada beberapa UKM yang tidak bisa diakomodir. Karena tenda yang kami siapkan hanya 200,” kata Ilham saat even Batam Menari berlangsung.

Salah satu cara untuk menyiasati antusiasme pelaku UKM ini, panitia kegiatan memberi kesempatan prioritas bagi pelaku UKM yang belum pernah ikut terlibat sebagai peserta. Sedangkan bagi yang sudah pernah ikut, diminta menunggu, dan akan dilibatkan lagi pada kegiatan berikutnya. Saat ini pendaftaran menjadi peserta UKM pada even Batam Menari sudah ditutup.

“Setiap kegiatan kami cari UMKM yang baru, tidak UMKM yang lama. Ini untuk kasih kesempatan kepada pelaku UMKM yang lain,” ujarnya.

Diakui Ilham, pihaknya tidak memungut biaya sewa kepada pelaku UMKM yang ikut meramaikan even BP Batam. Bahkan pihaknya menyediakan tenda untuk stand-stand UMKM, beserta listriknya.

“Jadi mereka tinggal bawa dagangannya saja. Termasuk kursi, tempat meja dan tempat masak,” kata Ilham.

Dari kegiatan sebelumnya, rata-rata pelaku UKM merespon positif, mereka bisa ikut dilibatkan dalam even BP Batam. Dari sisi pendapatan, mereka juga mengaku untung.”Pernah kami tanya, di kegiatan itu mereka bisa untung sampai 6 persen. Kalau kuliner bisa dapat laba kotor Rp 6 juta permalam. Sedangkan handycraft sekitar Rp 3 juta permalam,” ujarnya.

Peran UMKM memang vital, karena kegiatan ekonomi yang mereka lakukan bersentuhan langsung dengan masyarakat. Selain di even Batam Menari, BP juga menggelar belasan even lainnya yang mengikusertakan UMKM.

“Dari jalannya even-even ini, kami berharap UMKM bersemangat untuk ikut mendorong perekonomian di Batam,” harap pria yang dulu pernah menjadi baian dari Humas BP Batam ini.

Selain berkolaborasi dalam even, BP juga akan ikut membina UMKM. Sebagai contoh, BP saat ini mengembangan Kawasan Wisata Tanjungriau Fisherism di Sekupang, Batam.

Kawasan wisata baru ini merupakan sentra wisata perikanan nantinya. menjadi ajang bagi komunitas UMKMnuntuk memasarkan produknya. BP Batam memang berniat untuk membantu pertumbuhan ekonomi secara merata dimulai dari masyarakat kecil.

“Dalam rangka pengembangan objek wisata baru, BP Batam telah mengadakan sosialiasi pengembangan obyek wisata Tanjungriau Fisherism kepada komunikas UMKM Batam,” kata Kasubdit Pemanfaatan Sarana BP Batam, Irfan Widyasa.

Irfan mengatakan ada 73 UMKM yang hadir mengikuti acara tersebut. Masing-masing dari UMKM memperkenalkan produk-produk andalannya seperti produk kuliner, kerajinan tangan dan tas.

“Selain itu ada juga UMKM yang mengenalkan proses pembuatan produknya sebagai bagian dari atraksi wisata. Antara lain aktivitas pembuatan tempe, cookies hias, pembuatan aneka cake, selai dari buah naga, es krim, empek-empek, mainan anak-anak edukatif dan kerajinan tas,” katanya lagi.

Pertemuan ini memang untuk bertujuan untuk memperkenalkan obyek wisata baru tersebut ke UMKM. Karena kedepannya sudah disepakati bahwa UMKM Batam memasarkan produknya di kawasan agro souvenir di Tanjungriau Fisherism.

“Dan ada juga bantuan pemasaran oleh BP Batam berupa pembuatan brosur UMKM dan marketplace di website BP Batam,” tambah Irfan.

Disamping itu, BP Batam akan fokus mengembangkan pariwisata dengan mengajak berbagai elemen masyarakat, termasuk UMKM. “Untuk kunjungan wisatawan asing, Batam adalah rangking tiga nasional setelah Bali dan Jakarta dengan jumlah wisman asing sekitar 1,32 juta orang pertahun,” ungkapnya.

Namun untuk lama tinggal masih sangat minim.”Rata-rata lenght of stay-nya masih di kisaran 1,6 hari karena minimnya jumlah obyek wisata di Batam. Padahal salah satu ukuran kemajuan wisata suatu daerah yaitu jumlah kunjungan wisatawan dan lama tinggal wisatawan,” katanya.

“Makanya kami ingin meningkatkan lama tinggal di Batam dengan menambah objek wisata baru seperti Agro Marina dan Fisherism di Tanjungriau,” ucapnya.

Pemilik Qisty Production, Baskoro tengah menjahit kancing Baju Khas Melayu, Cekang Musang di workshopnya yang berlokasi di Batamcentre. Qisty Production merupakan pemasok Baju Khas Melayu ke pasar-pasar ternama di Singapura. F. Rifki Setiawan Lubis/Batam Pos

Andil UMKM memang vital bagi pemulihan ekonomi Kepri saat ini. Sebagai contoh berdasarkan data yang dihimpun Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kepri, pertumbuhan ekonomi Kepri terus mengalami perbaikan.

Pada triwulan kedua 2017, ekonomi Kepri anjlok di angka 1,06 persen. Kemudian mulai meningkat menjadi 2,38 persen pada triwulan ketiga 2017 dan meningkat lagi menjadi 2,57 persen pada triwulan keempat 2017.

Even-even BP Batam mulai ramai digelar pada awal 2018, dan saat triwulan pertama 2018 ekonomi meningkat hingga 4,47 persen. Dan terakhir pada triwulan kedua setelah even Batam Menari usai, pertumbuhan ekonomi meningkat hingga 4,51 persen.

Peningkatan tersebut merupakan andil dari peningkatan konsumsi rumah tangga (RT) dari kegiatan transaksi jual beli barang konsumsi antara masyarakat dan pelaku UMKM di even-even BP Batam.

Pertumbuhan ekonomi Kepri pada triwulan kedua 2018 dari sisi pengeluaran ditopang oleh peningkatan kerja investasi sebesar 41,90 persen. Tapi di posisi kedua, konsumsi RT menyumbang andil sebanyak 39,57 persen.

Sedangkan dari pertumbuhan kredit di bank, UMKM di Kepri termasuk stabil. Pada triwulan kedua 2018, kredit UMKM di Kepri tumbuh sebesar 5,37 persen (yoy). Memang melambat dari triwulan sebelumnya yang tumbuh 6,35 persen.

Meskipun begitu, tingkat kredit macet atau non performing loan (NPL) cenderung membaik. Pada triwulan kedua, NPL membaik di angka 4,45 persen dibandingkan triwulan peratama yang sebesar 6,00 persen.

Secara sektoral, porsi terbesar penyaluran kredit UMKM diserap oleh sektor perdagangan besar dan eceran dengan porsi sebesar 46,49 persen. Diikuti oleh sektor konstruksi yang memiliki porsi sebesar 10,52 persen dari total kredit UMKM.

Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kepri Gusti Raizal Eka Putera mengatakan pembinaan UMKM masih merupakan fokus utama bank sentral ini.

“Kami akan terus lakukan itu, tingkatkan kapabilitasnya. Agar kami dorong produknya berkualitas,” ujarnya.

BI Kepri sudah melakukannya sejak beberapa tahun terakhir. Dan UMKM binaan BI ini sudah ada yang mampu ekspor keluar negeri seperti Johor di Malaysia dan Singapura.”Ada juga produknya yang dijual di supermarket Singapura walau skalanya belum besar,” ucapnya.

BI Kepri berupaya mendorong penggunaan teknologi agar produk dari UMKM ini bisa tahan lama. Contohnya produk dari umbi-umbian. “Kendalanya adalah tidak tahan lama. Maka kami berikan pelatihan teknologi supaya produknya bisa tahan lama,” ucapnya.

Pembinaan tahap awal dimulai dari manajemen hingga proses packaging telah selesai dilakukan. Dan sekarang sasaran BI Kepri adalah ekspor dan mendorong peran serta UMKM dalam mendukung sektor pariwisata.

“UMKM itu tak terpisahkan dengan sektor pariwisata. Wisatawan datang ke Batam butuh makan dan souvenir yang bisa dibawa. Tapi tentunya yang berkualitas dan memenuhi kualitas yang baik,” tegasnya.

Sedangkan dari Dinas Koperasi dan UMKM Pemerintahan Kota (Pemko) Batam memberikan sejumlah kemudahan bagi pengembangan UMKM di Batam.

Salah satu contohnya yakni Pemko Batam akan segera mengoperasikan Gedung Pusat Layanan Usaha Terpadu (Pulut) di Bengkong sebagai sentra pemasaran produk UMKM di Batam.

“Gedung Pulut merupakan bantuan hibah lahan dari pengusaha setempat dan hibah dana dari Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (KUKM),” kata Kabid UMKM Dinas Koperasi dan UMKM Pemko Batam Zulfikar di Sekupang, Rabu (26/9).

Gedung Pulut berlokasi tepat di kawasan Golden Prawn City Bengkong dan berdiri diatas lahan seluas 5000 meter persegi. Dana pembangunannya sebesar Rp 2,3 miliar dan saat ini gedung dua lantai tersebut sudah hampir selesai proses pembangunannya.

“Disana nanti merupakan tempat pemasaran bagi UMKM yang mengalami kesulitan untuk memasarkan produknya,” ujarnya.

Disamping itu, Gedung Pulut ini akan menyediakan pelatihan bagi UMKM. Sebagai contoh, UMKM pemula akan diajarkan bagaimana cara mengemas produknya dan cara memasarkan yang efektif.

“Desember nanti akan selesai. Dan nanti diresmikan menteri dan akan operasi pada tahun 2019. Kita akan bantu promosikan UMKM Batam,” harapnya.

Selain itu, Pemko juga ikut memfasilitasi pelaku UMKM agar mendapatkan sertifikat halal untuk produknya. Dan tentu saja memberikan insentif berupa dana bergulir kepada UMKM yang sudah berjalan enam bulan keatas.

Zulfikar mengakui UMKM punya prospek cerah di Batam. Tiap tahun ratusan UMKM baru muncul. Sebagian besar merupakan UMKM berbasis kuliner dan kerajinan tangan.

“Alhamdulillah potensinya besar sekali. Karena dari yang kecil saja bisa bantu perekonomian keluarga,” katanya.

Dan banyak juga UMKM yang terdata di Pemko Batam dimiliki oleh mantan karyawan yang di PHK oleh galangan kapal. “Banyak mantan galangan kapal alih usaha jadi UMKM. Dan itu membantu perekonomian mereka,” jelasnya.

Berdasarkan data yang dihimpun Pemko Batam dari 2010 hingga 2017, total ada 2217 UMKM yang terdata berada di Batam. Pada tahun 2013, ada 346 UMKM baru. Lalu pada tahun 2014 meningkat menjadi 458 UMKM baru.

Kemudian pada tahun 2015, ada 339 UMKM baru. Sempat menurun drastis pada tahun 2016 karena hanya ada 24 UMKM baru, namun meningkat tajam pada tahun lalu dengan munculnya 245 UMKM baru

“Tiap satu UMKM bisa mempekerjakan tiga orang paling sedikit. Dan saat ini ada 2217 UMKM, sehingga ada 6.651 lapangan kerja. Bayangkan jika UMKM terus tumbuh,” kata Zulfikar mengakhiri pembicaraan.

…………………….

Niat pemerintah daerah yang mau berkolaborasi dengan UMKM tentu saja mendapat tanggapan positif. Kiprah UMKM di Batam memang dianggap mumpuni untuk ikut serta menopang perekonomian Batam.

Ada banyak pilihan sektor UMKM, namun kuliner sudah menjadi pilihan umum wirausahawan di Batam. Meskipun begitu, tak banyak yang berimprovisasi mengenai rasa. Nopri Wilisman punya sudut pandang berbeda. Ia coba-coba dengan alpukat dan ternyata menghasilkan kombinasi rasa yang berbeda.

Cake dengan aneka rasa buah sangat populer di Batam, seperti Kek Pisang Villa yang membuat cake rasa pisang atau Aroma yang menciptakan cake buah naga. Selain menciptakan kelas wirausaha baru, juga mampu menambah variasi rasa bagi calon pembeli.

Nopri memandang ini sebagai ladang rezeki baru bagi kehidupannya. Ditemui di rumahnya di Komplek Bukit Kemuning, Seibeduk, Batam, ternyata ia sedang sibuk mengoles saripati alpukat diatas cake dasar.

Ia kemudian menghentikan kegiatannya dan menyambut kedatangan pewarta koran ini. Tak lama setelah itu, ia mulai bercerita mengenai awal mula menjalani bisnis ini.

“Sebelum ini, saya adalah Chef de Party di berbagai hotel di Batam. Posisi saya sebagai kaki tangan chef dan tugasnya mengatur menu-menu,” katanya.

Tak lama setelah bercerita, Istri Nopri datang dan membawa nampan berisikan cake alpukat dan secangkir kopi. Aroma kopi begitu nikmat begitu juga dengan harum cake alpukat.

Ayah dari Almira ini mengungkapkan belasan tahun ia menghabiskan waktu sebagai chef di hotel-hotel ternama di Batam seperti Harmoni One, Bidakara, Vista, Goodway dan Pacific. Selama bekerja di hotel, ia menjadi mahir dalam bidang pastery dan bakery atau roti-rotian.

“Tapi saya jenuh dan dari segi penghasilan, gitu-gitu saja. Karena saya punya pengalaman di bidang pastery dan bakery maka coba inovasi baru dengan alpukat,” paparnya.

Mengambil merk dagang Almira sesuai dengan nama putri pertamanya, ia mulai berwirausaha dengan modal Rp 5 juta pada tahun 2014. Namun jangan bayangkan ia langsung memproduksi cake seperti saat ini. Pada awalnya ia membuat cupcake ukuran kecil. Ia memproduksi 300 cupcake kala itu. Katanya waktu ia coba-coba dulu untuk melihat respon pembeli.

“Lalu saya titipkan di Klinik Casa Medica. Saya jual per porsi Rp 3000. Baru setelah itu dapat tempat di Sekupang,” ungkap pria asal Riau ini.

Dagangannya selalu habis. Melihat realita tersebut, ia mencoba memperluas lini usahanya dengan membuat cake. Nopri kemudian menitipkannya di lima konter stan berjualan miliknya.

“Di SP Plaza Sekupang ada dua. Di bandara ada dua, dan di Batuaji ada dua. Tiap sore hingga malam saya produksi dan paginya saya antar ke masing-masing konter,” tutur Nopri.

Dari segi harga, seporsi Almira Cake sangat terjangka, mulai dari Rp 60 ribu tergantung rasa. Khusus untuk produksi, Nopri menggunakan halaman belakang rumahnya yang disulap menjadi dapur produksi. Dalam sehari ia biasa memproduksi 250 potong Cake Almira yang kemudian diantarnya ke konter penjualan. 50 potong untuk masing-masing konter.

Suhu dapur produksi cukup membuat gerah. Suhu panas diperlukan untuk membuat cake memiliki tekstur yang lembut. Dalam proses produksi, Nopri menghabiskan delapan kilogram alpukat perhari dan 25 kilogram tepung. Ia belanja alpukat di konter buah atau memesannya dari pedagang lokal dan luar daerah Kepri seperti Padang Sumatera Barat dan Medan.

Seiring berjalannya waktu, satu persatu rasa mulai dicoba Nopri. “Coba berimprovisasi,” katanya.

Setelah cake alpukat, ia membuat brownies, lalu cake pisang dan cake buah naga. Baginya agar bisa mengembangkan usaha, perlu rajin-rajin berimprovisasi.

Dari usaha yang ia rintis sejak 2014 ini, Nopri mampu memberikan pekerjaan kepada enam orang. Satu orang ikut di bagian produksi bersama ia dan istrinya dan lima lainnya menjaga konter.

Karena ekspansi usaha yang terus meningkat, ia memberanikan diri mengikuti kompetisi Blueband Master Oleh-Oleh. Dan ternyata Cake Almira bisa menjadi juara pertama pada tahun 2016 untuk cake alpukat dan tahun berikutnya untuk cake buah naga.

Selain kuliner, Batam juga memiliki ragam dunia kewirausahaan lainnya, seperti sektor konveksi. Sebagai contoh produk baju khas Melayu dari Qisty Production. Baju Melayunya bukan sembarang baju karena sudah menjadi langganan tetap di Singapura.

Pemiliknya adalah Abdun Baskoro Cahya. Ia merupakan tipikal pria optimis. Dulu, berulang kali produknya ditolak oleh butik di negeri jiran, ia tak patah arang. Berbekal semangat pantang menyerah, kini ia menjadi pemasok Baju Melayu tetap di sejumlah pasar ternama di Singapura dengan merk dagang Qisty Production.

Mengunjungi Workshop Qisty Production di Ruko Pesona Niaga Blok D Batamcentre tak ubahnya mengunjungi workshop penjahit pada umumnya. Ruangan 15 x 4 meter ini tidak tertata rapi, tumpukan baju terlihat disana sini. Dalam ruangan ini juga, Baskoro menyambut pewarta koran ini dengan senyuman hangat.

“Pertama hijrah ke Batam pada tahun 1996. Waktu itu saya merupakan kontraktor yang diperintah atasan di Jakarta ikut proyek UPT Pelabuhan Batuampar,” kata Baskoro menjelaskan awal mula ia ke Batam, Minggu (30/9).

Tak lama di Batam, ia menikah pada tahun 2003. Setelah itu pada tahun 2006, ia sakit tifus. Waktu sakit, ia mendapat saran dari mertuanya. Ia disarankan untuk alih profesi.

“Lalu saya teringat bahwa saudara saya di Bukit Tinggi jualan Baju Khas Minang. Dan karena punya kawan di Malaysia dan Singapura, saya dibantu supaya bisa jualan disana,” kisah Baskoro.

Singkat cerita, ia menjadi reseller pada tahun 2006. Saat itu masih jauh dari angannya untuk memproduksi Baju Melayu. Dengan modal nekat, ia mencoba peruntungannya di Pasar Geylang Singapura.

Ia mencoba dan ia ditolak. Berulang kali. Karena Baju Khas Minang kurang diminati di Singapura, maka ia kali ini mencoba membawa Baju Khas Solo. Namun hasil yang juga didapat sama saja. Ditolak berulang kali.

Sampai suatu keberuntungan datang kepadanya. Ia berkenalan dengan Mela, Wanita Indonesia yang buka butik disana. Dari saran temannya tersebut, ia tahu bahwa tipikal baju yang diminati Warga Singapura adalah Baju Khas Melayu.

“Dan dia juga yang memberi orderan pertama pada saya. Makanya setelah kembali ke Batam, saya cari penjahit untuk membuat baju sesuai dengan model yang diberikan kepada saya,” jelasnya.

Dari momen tersebut, usahanya terus berkembang. Dari yang awalnya dapat pesanan 40 potong, sekarang berkembang menjadi terima pesanan hingga 268 potong perbulan untuk pasar di Singapura. Dan bisa membengkak dua kali lipat menjelang Bulan Ramadhan.

Setelah menjadi langganan tetap untuk Pasar Geylang, ia kemudian menjadi pemasok Baju Khas Melayu untuk Pasar Tanjung Katung Complex dan kemudian Pasar Coo Chiat Complex. Lokasinya berdekatan sehingga memudahkan ia dalam memanajemen urusan logistik.

Setelah itu perlahan-lahan dari laba yang terus meningkat, ia membeli ruko di Bilangan Batamcentre. Rekan-rekan penjahit yang dulu sering membuatkan baju untuknya diajak bekerja dengannya. Ia bisa membeli mesin jahit, mesin obras, setrika uap dan perlengkapan lainnya yang dibutuhkan dalam bisnis konveksi.

“Meski begitu, saya tetap memperluas pasar dengan membawa barang dagangan keliling pasar-pasar lain di Singapura,” katanya lagi.

Secara tidak langsung, Baskoro ikut melestarikan kebudayaan Melayu. Dan itu ikut membantu perkembangan usahanya.

Baskoro merupakan pencerita andal. Sehingga membuat pendengar tak sadar sudah lupa waktu

Ia kemudian mengungkapkan bahwa Qisty Production membuat beragam Baju Melayu yang dibagi atas dua kategori yakni baju pria dan wanita. Untuk baju pria, ia membuat Baju Cekak Musang, Baju Teluk Belanga dan Baju Reihan.

Baskoro mengatakan selain berdagang, ia juga mempelajari budaya fashion negara jiran. Dan itu juga mendukung perkembangan usahanya.

“Cekak Musang memiliki lima kancing kerah dan populer di Malaysia. Sedangkan untuk di Singapura, Cekak Musangnya memiliki tiga kancing kerah,” paparnya.

Kemudian ada Teluk Belanga yang memiliki kerah bulat dan satu kancing kerah. Dan terakhir Baju Reihan dinamai sesuai nama band nasyid terkenal asal Malaysia. Bentuk bajunya seperti kemeja.

Untuk baju wanita, ada lima tipe yang dibuat oleh Qisty Production yakni Baju Kurung Melayu, Baju Pisak Gantung, Baju Pisak Pahang, Baju Mini Kurung dan Baju Kurung Modern.

“Baju Khas Melayu ini biasa digunakan ketika hari-hari besar, pernikahan dan juga dipakai di Hari Jumat,” tuturnya.

Setelah itu, pasarnya membentang hingga Pasar Arab Street, Pasar Punggol dan Pasar Ang Mo Kio.”Namun berbeda dengan Geylang dan lainnya yang memesan baju jadi, di pasar-pasar itu pesannya biasa baju tempahan,” jelasnya.

Untuk pasar lokal, ia biasa mensuplai Baju Khas Melayu ke DC Mall. Sekali pesan, bisa mencapai 150 potong baju dan membengkak menjadi dua kali lipat saat memasuki Bulan Ramadhan. Baskoro sering juga dapat pesanan dari sekolahan untuk membuat baju seragam.

Ia sangat bersyukur memilih jalan sebagai wirausaha. Selain memiliki usaha yang terus berkembang, ia juga dapat menjaga kesehatannya. Sekarang ia memiliki total omzet mencapai Rp 45 juta perbulan. Dan menjelang Bulan Ramadhan bisa meningkat hingga Rp 65 juta dari modal awal hanya Rp 11 juta.

Dari bisnis konveksi yang dijalaninya ini, ia mampu memberikan pekerjaan kepada enam orang dan bisa meningkat hingga 15 orang menjelang Bulan Ramadhan.

Ia juga rajin mengikuti pameran-pameran baik di dalam maupun luar negeri, termasuk yang diadakan oleh Bank Indonesia. Baskoro juga banyak menimba ilmu kewirausahaan dari lembaga pelatihan wirausaha seperti Al-Ahmadi Entrepreneuship Centre.

Bagi Baskoro, dalam berwirausaha harus punya semangat pantang menyerah dan terus berinovasi, baru bisa sukses.”Target berikutnya adalah membuat galeri sendiri agar kustomer bisa melihat langsung produk Baju Melayu Qisty Production,” ucapnya.

Ada juga wirausahawan yang menggunakan pengalaman yang dimilikinya agar berguna bagi orang lain. Contohnya Fatma Nandra, pemilik Diandra Shop.

Berwirausaha baginya menjadi jalan pembuka untuk membantu sesama. Sejatinya wanita asli Riau ini merupakan wirausaha yang bergerak di sektor kerajinan tangan. Namun, ia juga dipercaya pemerintah untuk menjadi pendamping Masyarakat Ekonomi Asia (MEA) bagi wirausaha pemula di Batam.

“Tugas pendamping MEA ini membantu wirausaha pemula memahami alur-alur berusaha mulai dari tahap perizinan hingga proses produksi sebelum produknya dipasarkan,” kata wanita yang biasa disapa Nandra ini kepada Batam Pos, Sabtu (1/10) di Kantin Rumah Sakit Awal Bros Batam.

Kehadiran pendamping MEA menjadi bonus bagi wirausaha pemula. Karena pengalaman yang dimiliki Nandra dapat dibagikan untuk bisa memulai usaha dengan baik.

Diantara tugas-tugas pendamping MEA antara lain membantu mengurus perizinan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). “Agar bisa terdaftar di Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) dan Dinas Koperasi UMKM Batam,” katanya lagi.

Dengan terdaftar di pemerintah daerah, maka UMKM pemula mendapatkan fasilitas pembinaan.”Mereka kan berusaha, tapi perlu diarahkan juga. Sehingga jika dapat fasilitas pembinaan, maka akan belajar banyak hal terutama bagaimana cara packaging produk agar terlihat menarik saat dipasarkan,” ucapnya.

Selain wirausaha pemula, ada juga sejumlah wirausahawan yang sudah lama berkiprah, namun memiliki pembukuan yang buruk.”Ada juga usaha yang omsetnya besar hingga ratusan juta, tapi pembukuannya buruk,” ungkapnya.

Disinilah peran Nandra yang memberikan pelatihan bagaimana cara melakukan pembukuan yang baik. Tujuannya adalah mencegah kebocoran sehingga usaha tersebut dapat bertahan lama, bahkan tumbuh besar.

Menjadi pendamping MEA sudah dilakoni Nandra sejak tahun 2016. Selama dua tahun, ia mencoba menyelami dunia kewirausahaan yang dijalankan oleh masyarakat Batam. Makanya, ia mengetahui kendala-kendala yang menyebabkan riak-riak UMKM di Batam belum terdengar kencang.

“Kendalanya itu yakni ada di masalah packaging, baru izin usaha, sertfikasi halal, proses pembukuan dan minimnya pengetahuan tehnik pemasaran melalui media sosial (medsos),” paparnya.

Saat ini, pemasaran melalui medsos dianggap sangat efektif untuk mendapatkan pembeli. Jejaring sosial seperti Instagram, Facebook dan Whatsapp menjadi peluang berpromosi lebih cepat dan tepat sasaran.

Nandra juga aktif dalam melatih ilmu kerajinan tangan bagi para ibu-ibu rumah tangga di wilayah Kabil.

Berbicara mengenai sektor wirausaha yang digeluti Nandra, wanita berusia 32 tahun ini merupakan pengrajin kerajinan tangan. Ia membuka toko online bernama Diandra Shop.

“Diandra Shop menyediakan jasa pembuatan souvenir, hantaran, pelaminan, spot untuk berfoto dalam satu paket,” katanya mencoba mempromosikan usaha yang digelutinya.

Sebelum menekuni usahanya, Nandra bekerja di BNI sebagai Relationship Office yang mengurus bagian asuransi. Setelah itu, ia bekerja di kontraktor. Diandra Shop mulai ditekuninya sejak tahun 2012.

Awal mula ketertarikannya berawal dari pernikahan kerabatnya.”Awalnya saudara sepupu mau nikah. Lalu saya mencarikan souvenirnya dari Jawa. Tapi sudah keliling, tetap tak ada,” jelasnya.

Berangkat dari polemik tersebut, ia memutuskan untuk mulai mencoba membuat souvenir sendiri. Untuk tahap pertama, ia mendatangkan bahannya dari Johor. “Karena jika mengambil dari Jawa, logistiknya lebih mahal,” katanya.

Selama dua tahun, ia menekuni wirausaha sekaligus bekerja. Pada tahun 2014, ia memutuskan untuk mundur dari pekerjaanya dan memilik fokus berwirausaha.

“Dan tahun itu juga, saya bawa masuk kerajinan tangan lainnya seperti boneka, hiasan dinding dan lainnya. Dua tahun kemudian, saya tambahkan spot berfoto dalam usaha saya,” katanya lagi.

Dan saat ini, Diandra Shop benar-benar memanfaatkan momentum pernikahan sebagai ladang penghasilan. Namun, ia tidak bekerja sendiri. Karena hajatan pernikahan membutuhkan perlengkapan yang banyak, ia mengajak rekan-rekan wirausaha yang lain.

“Kalau saya sediakan pelaminan, maka saya ajak teman yang usaha di bidang catering, lalu saya ajak juga teman yang jago fotografi. Intinya dimana ada ladang rezeki, disitu saya mau berbagi,” ungkapnya.

Diandra Shop mempekerjakan tiga hingga lima orang untuk membuat souvenir. Nandra sendiri mengaku tidak membutuhkan tempat khusus untuk proses produksi. Karena bisa dibuat di rumah anggotanya masing-masing. Untuk keuntungan, Nandra mengaku bisa meraup laba bersih Rp 20 juta perbulan dari bisnisnya

Diandra Shop juga mengandalkan teknologi medsos dalam pemasaran. Ia aktif di Instagram dan banyak mendapat langganan dari media sosial.

“Bagi saya, berwirausaha membuka jalan untuk menolong sesama. Dan juga keleluasaan dalam menyusun waktu karena saya yang mengelolannya. Sekarang ini saya pun bersyukur karena punya cukup banyak waktu untuk melihat orang tua,” katanya mengakhiri pembicaraan.(leo)

Update