Sejumlah pesawat saat parkir di Bandara Hang Nadim Batam. | Cecep Mulyana/Batam Pos

x.batampos.co.id – Sebuah bandara perlu alat pemantau bandara atau advance surface movement guidance control surveilance (A-SMGCS).

Berdasarkan catatan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), di Indonesia baru ada dua bandara yang dilengkapi A-SMGCS, yaitu Bandara Juanda di Sidoarjo, Jawa Timur, dan Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng.

Loading...

Padahal fungsi perangkat A-SMGCS itu cukup vital, yakni memantau pergerakan kendaraan maupun pesawat di bandara untuk mencegah terjadinya tabrakan atau senggolan. Kepala Pusat Teknologi Elektronika BPPT Yudi Purwantoro mengatakan, perlengkapan A-SMGCS yang terpasang di kedua bandara itu pun buatan luar negeri.

“(tapi) BPPT saat ini juga mengembangkan perangkat A-SMGCS,” katanya di Jakarta, Sabtu (20/10).

Yudi menargetkan, tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) perangkat A-SMGCS itu nantinya lebih dari 50 persen. Dia menuturkan, targetnya nanti mulai dari requirement, desain, manufaktur, pengujian, hingga peranti lunak perangkat A-SMGCS karya BPPT merupakan hasil karya anak negeri.

“Hanya komponen dasar yang harus ekspor,” jelasnya.

Menurut Yudi, perangkat A-SMGCS karya BPPT sudah melalui proses uji coba di kompleks Puspiptek, Serpong. Caranya sensor kendaraan dipasang di mobil, kemudian mobil tersebut berkeliling kompleks Puspiptek.

Uji coba berikutnya rencananya bakal dilakukan di Bandara Juanda akhir Oktober ini. Yudi berharap pemantauan kendaraan oleh perangkat A-SMGCS karya BPPT ini lebih akurat.

Sebab mereka sudah bekerja sama dengan Jepang terkait pemanfaatan sinyal satelit QZSS (Quasi-Zenith Satellite System). Kerja sama dengan Jepang itu dilakukan pada Jumat (19/10).

Dia mengatakan sistem satelit QZSS itu terdiri atas empat unit satelit, tiga di antaranya sudah mengorbit di angkasa. Rencananya satelit keempat diluncurkan April 2019.

“Satelit QZSS nanti beredar di atas Indonesia,” pungkasnya.

(wan/ce1/JPC)

Loading...