Ini kabar baik. Kedatangan Duta Besar Republik Indonesia (Dubes RI) untuk Mesir, Helmy Fauzi dan sejumlah pengusaha dari “Negeri Piramida” membawa angin segar.

Beberapa peluang kerja sama kemungkinan bisa dijajaki. Potensi munculnya mega-investasi bisa saja terjadi. Ini merupakan kelanjutan pertemuan Badan Pengusahaan (BP) Batam yang dinakhodai Lukita Dinarsyah Tuwo, dengan pengusaha dan otoritas perdagangan bebas di Terusan Suez, beberapa pekan lalu.

Ini kabar baik. Jika kerja sama dengan Mesir menemui kata sepakat, tentu akan memberikan efek positif bagi perkembangan Batam, dan seluruh wilayah Kepulauan Riau (Kepri) pada umumnya. Roda perekonomian pastinya berputar. Makin kencang.


Berbagai upaya yang dilakukan BP Batam untuk mendatangkan investor patut diapresiasi. Luar biasa. Sangat-sangat hebat. Bahkan, kalau perlu kita kasih empat jempol. Hehehehehehe

Kita sama-sama tahu. Batam menjadi hub di kawasan Asia Tenggara. Lokasinya berbatasan langsung dengan negara-negara tetangga. Berada di Selat Malaka yang merupakan jalur pelayaran tersibuk di dunia. Sehingga, ekonomi Batam harus tumbuh. Tidak boleh runtuh.

Kedatangan pemodal asal Mesir ini begitu baik. Kabarnya, mereka sangat tertarik menggelontorkan uangnya untuk berinvestasi di Kepri. Ini yang harus kita jaga. Kita kawal bersama. Intinya, menjaga agar Batam tetap kondusif.

Di situasi sekarang, Batam memang butuh suntikan. Tidak hanya dari dalam, tapi juga dari luar negeri. Tidak hanya dari Asia Tenggara, tapi dunia. Dengan begitu, ekonomi pastinya semakin tumbuh. Apa yang kita cita-citakan akan tercapai.

Batam harus menjadi surga investasi. Tidak boleh tidak. Toh, semua pihak punya komitmen sama. Punya visi seragam. Menjadikan Batam lebih hebat.

Begitu juga dari pengusaha. Senin (22/10) siang, saya kedatangan tamu istimewa. Johanes Kennedy Aritonang beserta rombongan Forum Tanggungjawab Sosial Perusahaan (TSP) Batam dan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI).

Melalui TSP, pemerintah mendorong pengalokasian budget corporate social responsibility (CSR) lebih terkontrol dan terarah. Bahkan, TSP sudah menyiapkan rencana, apa saja yang dibutuhkan Batam. Destinasi apa yang akan diciptakan.

Di saat badai defisit menghantam keuangan daerah, CSR yang tepat sasaran bisa menjadi alternatif. Di sinilah peran pengusaha begitu menentukan. Karena apa, Batam harus terus membangun. Tidak boleh stop.

Sama seperti BP Batam, usaha dan kerja keras yang dilakukan pengusaha melalui TSP juga layak mendapatkan empat jempol. Hehehehehe

Jika distribusi CSR terkontrol, terarah, dan tepat sasaran, dapat membantu terciptanya infrastruktur lainnya di Batam. Akan lebih baik jika seluruh perusahaan di Batam, menyalurkan CSR melalui TSP. Toh, dengan keterbukaan informasi seperti saat ini, semua dapat dimonitor.

Diapakan CSR itu nantinya dan sejauh mana realisasinya, dapat dicek di tsp.batam.go.id. Distribusinya dapat kita awasi bersama-sama.

Saya sempat melihat beberapa proyek CSR yang sudah di-list TSP. Mulai dari taman, gapura, dan lainnya. Perusahaan yanh ingin mengalokasikan CSR boleh memilih. Bahkan, penggarapannya bisa dengan cara keroyokan.

Empat jempol juga layak diberikan kepada Pemko Batam. Mereka juga terus menggesa pembangunan infrastruktur. Kita sama-sama lihat, hampir semua jalan protokol di Batam lebar. Bikin iri daerah lain. Hehehehe

Di tangan duet Muhammad Rudi dan Amsakar Achmad, pembangunan infrastruktur terus terjadi. Tanpa henti. Selesai satu titik, beralih ke titik lainnya.

Sinergi antara BP Batam, Pemko Batam, dan pengusaha merupakan titik balik semakin mantapnya Batam. Semua bersatu untuk Batam.

Tentunya kita berharap, Batam menjadi semakin maju dan jaya. (*)

Loading...