Jumat, 10 April 2026

Wasiat Kashoggi, Ingin Dimakamkan di Madinah

Berita Terkait

x.batampos.co.id – Salah Khashoggi, putra almarhum Jamal Khashoggi, sedang menjadi perhatian media pekan ini. Setelah foto pertemuannya dengan Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud dan Pangeran Muhammad bin Salman (MBS) beredar, dia kembali menjadi topik utama setelah tiba di Amerika Serikat (AS), Jumat (26/10).

Pemerintahan MBS mencabut larangan bepergian untuk Salah. Itu terjadi setelah Menlu AS Mike Pompeo berunding dengan para petinggi Arab Saudi dalam lawatannya pekan ini.

”Salah punya kewarganegaraan ganda. Saudi dan AS,” kata seorang pejabat AS yang membenarkan kabar kedatangan Salah di negerinya.

Di AS, Salah punya tiga saudara kandung. Mereka tinggal bersama istri pertama Khashoggi, Rawia Al Tunisi, di Washington. Namun, Salah belum tentu menetap bersama mereka.

Sejak Khashoggi meninggalkan Saudi pada 2017, pemerintahan MBS mencekal Salah. Dia tidak boleh menyusul ayahnya ke AS. Pencekalan Salah itu, konon, juga menjadi cara Saudi untuk menekan Khashoggi agar tidak terlalu lantang mengkritik MBS. Namun, rupanya, intimidasi itu tak kuasa membungkam pria 59 tahun tersebut.

Beberapa media Barat memberitakan bahwa Salah boleh angkat kaki dari Saudi setelah menerima undangan kerajaan. Beredarnya foto Salah dan MBS yang bersalaman membuat Saudi terlihat baik. Setelah merasa diuntungkan oleh foto-foto itu, MBS pun lantas mencabut larangan untuk putra sulung Khashoggi tersebut.

Khashoggi yang sedianya akan menikahi tunangannya, Hatice Cengiz, itu pernah berwasiat. Jika meninggal dunia, dia ingin dimakamkan di Madinah. Kini nyawanya sudah melayang. Tapi, jenazah bapak empat anak tersebut entah ada di mana.

Teka-teki jenazah Khashoggi itu membuat Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan geram. Kemarin dia kembali mendesak Saudi untuk segera mengungkap dalang pembunuhan berencana di Konsulat Saudi di Istanbul tersebut.

”Siapa yang memberi perintah kepada 15 orang itu untuk datang ke Turki?” tanya Erdogan, Jumat (26/10) dalam pidatonya di markas partainya, Adalet ve Kalkinma Partisi (AKP). Lima belas orang yang dia maksud adalah anggota Firqat El Nemr alias Tiger Squad yang diduga menghabisi Khashoggi pada 2 Oktober.

Turki terus-terusan minta Saudi buka suara. Sebab, mereka tidak mau dianggap melanggar wewenang negara tersebut. Sebab, pembunuhan terjadi di kantor perwakilan diplomatik Saudi.

”Tentu saja kami punya informasi lain. Juga, dokumen-dokumen. Tapi, tak perlu buru-buru (mengungkapkan),” ujarnya seperti dilansir Reuters.

Presiden ke-12 Turki itu sudah berbicara dengan Pangeran Muhammad bin Salman Rabu (24/10). Itu adalah kali pertama mereka bicara setelah kasus Khashoggi mencuat.

Pasca mengakui adanya pembunuhan di konsulat, Saudi menangkap 18 orang yang diduga terlibat. Satu di antaranya tewas dalam kecelakaan yang mengundang tanya. Jika benar sudah menahan para terduga pelaku pembunuhan, Saudi seharusnya bisa mengorek keterangan dengan mudah.

”Jika Anda tidak bisa membuat mereka berbicara, serahkan mereka kepada kami. Insiden ini terjadi di Istanbul. Biarkan kami mengadili mereka,” ujar Erdogan kepada MBS. Dia menambahkan jika MBS tak terlibat dan ingin membersihkan namanya, 18 orang itu kuncinya.

Sementara itu, kantor berita Anadolu menyebut tim investigator Turki sudah mendengarkan kesaksian 38 staf konsulat Saudi di Istanbul. Rencananya jaksa penuntut umum Saudi Syekh Saud Al Mojeb dijadwalkan ke Turki Minggu (28/10).

Jika AS dan negara-negara Barat mengecam Saudi, tidak demikian halnya dengan Rusia. Negeri Beruang Merah itu memilih percaya kepada Saudi. Kamis (25/10) Raja Salman menghubungi Presiden Rusia Vladimir Putin untuk memastikan otoritas Saudi akan mengadili siapa pun yang bertanggung jawab atas kasus Khashoggi.(JPG)

Update