Pencarian korban kecelakaan pesawat Boing 737 MAX 8 milik Lion Air dengan nomor penerbangan JT 610 mulai bergeser ke dasar laut. Badan SAR Nasional (Basarnas) menduga masih banyak korban yang terperangkap di dalam badan utama pesawat.
Kabasarnas Marsekal Madya TNI Muhammad Syaugi menjelaskan, hingga pukul 17.00 WIB Selasa (30/10), baru ada 34 kantong jenazah yang berhasil dievakuasi tim gabungan. Sehingga dia memprediksi sebagian besar korban lainnya masih berada di dalam badan pesawat yang diduga tenggelam ke dasar laut.
”Kekurangannya mestinya di dalam pesawat,” ujar Syauqi, Selasa (30/10).
Syauqi menyebutkan, secara kasat mata permukaan perairan laut Karawang telah bersih. Baik oleh serpihan badan pesawat Lion Air, potongan tubuh korban, maupun barang-barang milik penumpang. Apakah Basarnas telah memetakan lokasi badan utama pesawat? Dia menuturkan, arus laut mengarah ke Selatan dan Barat Daya.
Hal itulah yang menjadi alasan mengapa Basarnas membuka posko di Tanjung Karawang.
”Harapannya selain petugas, nelayan-nelayan bisa melapor kalau menemukan sesuatu. Kalau lapornya di Tanjungpriok terlalu jauh,” ujarnya.
Sesuai undang-undang, pencarian korban kecelakaan pesawat bisa dilakukan selama tujuh hari. Namun, bila ada indikasi bisa ditemukan akan ditambah tiga hari. ”Setelah sepuluh hari kami analisa kembali, yang pasti kami berupaya keras 24 jam,” tegasnya.
Syaugi menjelaskan, saat ini evakuasi dan pencarian korban akan fokus ke dasar laut. Ada dua cara pencarian yang dilakukan. Pertama scanning menggunakan alat Multi Beam EchoSounder dan penyelam.
“Kami tetap butuh orang di bawah,” tuturnya.
Hingga saat ini proses scanning masih dilakukan, target utamanya untuk menemukan badan utama pesawat. Titik koordinat jatuhnya pesawat telah diketahui, namun bodi utama pesawat masih dideteksi. ”Nanti kalau sudah ditemukan, pasti kami update,” paparnya di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, kemarin.
Sementara informasi dari Disaster Victim Indonesia (DVI) Polri diketahui setidaknya ada 34 kantong jenazah yang telah dibawa ke RS Polri Kramat Jati hingga pukul 17.00, kemarin. Namun, bukan berarti jumlah tersebut sama dengan jumlah jenazah yang ditemukan.
Kepala RS Polri Kombes Musyafak menuturkan dalam proses identifikasi ini kemung-kinan jenazah tidak utuh. Ada bagian-bagian tubuh yang cukup banyak, sehingga memerlukan tes DNA.
”Dari semua itu perlu dicek satu per satu,” jelasnya.
Proses identifikasi terhadap jenazah korban memerlukan waktu sekitar 4 hari hingga 5 hari. Namun, tetap memerlukan keluarga korban untuk bisa segera mendatangi RS Polri.
”Untuk tes DNA dibutuhkan sampel, dari keluarga inti. Seperti, orangtua, anak, kakak atau adik kandung,” ujarnya.
Hingga pukul 15.00 diketahui dari 182 penumpang yang terdiri dari 179 penumpang dewasa, satu penumpang anak, dan dua penumpang bayi, masih ada 11 keluarga keluarga korban yang belum melaporkan atau menyerahkan data antemortem.
Tetap Terbang
Jatuhnya Pesawat Boeing 737 Max 8 milik maskapai Lion Air (JT-610) membuat Kementerian Perhubungan (Kemenhub) membuat langkah pencegahan. Seluruh pesawat berjenis serupa wajib melakukan inspeksi. Meski begitu, pesawat jenis ini tetap boleh terbang dan melayani penumpang.
Menhub Budi Karya Sumadi mengatakan, saat ini total ada sembilan unit pesawat Boeing 737 Max 8 di Indonesia. Rinciannya, delapan unit milik Lion Air dan satu lagi milik maskapai pelat merah Garuda Indonesia.
’’Kemenhub sudah kirim surat untuk Lion Air dan Garuda untuk inspeksi pesawat Boeing 737 Max 8,’’ kata Budi di dermaga Jakarta International Container Terminal (JICT) 2 Tanjung Priok, Selasa (30/10).
Budi menegaskan pengiriman surat untuk kedua maskapai itu tidak didasari dengan praduga apapun. Murni dilakukan untuk pengecekan. Pengecekan atau inspeksi itu dilakukan oleh Direktorat Kelaikan dan Pengoperasian Pesawat Udara Kemenhub. Kemudian hasilnya diserahkan ke Komite Nasional Kecelakaan Transportasi (KNKT).
’’Nanti KNKT yang menentukan apa yang menjadi penyebab (kecelakaan pesawat JT-610, red),’’ jelas Budi.
Menurut dia, proses inspeksi seluruh pesawat itu bukan lantas seluruhnya tidak boleh terbang. Pengoperasian tetap berjalan normal seperti biasa. Proses inspeksi hanya dilakukan untuk pemetaan atau mapping kondisi pesawat.
Apalagi, menurut Budi, ada informasi bahwa pilot pesawat nahas JT-610 sempat meminta persetujuan untuk kembali mendarat (return to base/RTB) di Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, Tangerang. Permintaan tersebut bisa mengindikasikan ada hal-hal yang perlu diklarifikasi. Budi menegaskan perlu dilakukan analisis berkaitan dengan kondisi pesawat.
Budi juga menjelaskan melalui upaya inspeksi tersebut, juga bakal diketahui catatan perawatan pesawat selama 30 hari terakhir. ’’Biasanya catatan itu ditulis dalam look book,” tuturnya.
Terkait dengan penjatuhan sanksi kepada maskapai, Budi mengatakan ada prosedurnya. Sanksi diberikan ketika sudah ada keputusan dari KNKT terkait penyebab kecelakaan. Sanksi diberikan setelah tahu apa kesalahannya.
’’Apakah yang salah manajemen, pesawatnya, kru, atau SOP. Kami menunggu dari KNKT,’’ kata dia.
Budi juga mengatakan, saat ini tidak hanya pemerintah yang melakukan investigasi. Pihak Boeing juga melakukan investigasi atas kecelakaan yang merenggut korban 189 orang itu. Nantinya hasil investigasi dari pemerintah maupun Boeing sama-sama diserahkan ke KNKT.
Sebelum memberikan keterangan kepada media, Budi sempat mendampingi Presiden Joko Widodo melihat puing-puing yang ditemukan selama proses pencairan korban.
Puing-puing itu dijejer sangat banyak. Mulai dari aneka tabung komponen pesawat, potongan busa bangku penumpang, sepatu dan sandal penumpang, serta baju milik penumpang.
Sebelum Jokowi tiba, beberapa petugas sempat berhasil menemukan potongan tubuh korban. Potongan tubuh tersebut dimasukkan dalam kantong mayat. Hampir bisa dipastikan dari sekian banyak kantong jenazah itu, tidak ada yang utuh. Terlihat saat diangkat petugas, potongan tubuh korban tidak terlalu besar. Setiap satu kantong mayat, dibawa satu ambulans ke RS Polri.
Bos Lion Air sekaligus Dubes RI di Kuala Lumpur Rusdi Kirana juga turut hadir di dermaga JICT 2. Dia datang lebih dahulu ketimbang Presiden Joko Widodo. Rusdi juga sempat melihat puing-puing pesawat miliknya. Awalnya dia sempat berada di kerumunan Jokowi. Tetapi Rusdi tidak ikut Jokowi saat melihat serpihan puing.
’’Kami bersedia diaudit. Kami bersedia diinspeksi,’’ katanya.
Dia menegaskan, Lion Air tidak keberatan jika pemerintah menjatuhkan penalti akibat kecelakaan tersebut. Dia menegaskan penjatuhan hukuman tentu tetap mengacu pada peraturan perundang-undangan. Bukan atas dasar emosi. Dia mengatakan, saat ini terlalu dini jika menyimpulkan siapa yang salah. Sebaiknya menunggu sampai blackbox ditemukan.(wan/ori)
