x.batampos.co.id – Warga kembali mengeluhkan kelangkaan gas elpiji 3 kilogram. Di Kecamatan Seibeduk misalnya, keberadaan gas melon bersubsidi itu kosong di beberapa pangkalan, kalaupun ada, warga mendapatkannya di pangkalan tak resmi dan harganya cukup mahal yakni Rp 23 ribu dari harga resmi Rp 18 ribu. Mirna, warga Puriagung II, Mangsang mengaku kelangkaan gas bersubsidi itu sudah berlangsung dua minggu belakangan ini.

“Susah sekali dapatnya. Harus keliling dulu,” kata Mirna, Rabu (31/10).

Ia mengatakan sudah mencari kebeberapa pangkalan, namun ternyata tetap kosong. Ia pun baru menemukan gas terrsebut setelah berkeliling cukup lama. Adanya gas itu pun tidak dipangkalan resmi namun di warung kecil pinggir jalan.

“Di warung dengan pangkalan beda harga lima ribu. Mahal memang, tapi karena butuh saya beli saja,” kata ibu rumah tangga ini.

Hal yang sama dituturkan Maryam. Penjual sarapan pagi ini merasakan kelangkaan gas tersebut selama dua minggu belakangan ini. “Di pangkalan perumahan saya ada, cuman itu sudah dipesan sama warga lain,” katanya.

Maryam mengatakan sempat kelimpungan mencari gas, beruntung setelah berkeliling cukup lama, gas melon itu ia dapat di warung kecil pinggir jalan. “Lima hari nyari-nyari. Untung masih ada satu gas yang sengaja di setok,” jelasnya.

Sementara Alfiani, salah satu pemilik pangkalan gas di Seibeduk mengaku kelangkaan gas 3 kilogram cepat habis lantaran diburu warga. “Siang datang sorenya sudah diborong warga,” ucapnya.

Terkait kelangkaan, Alfiani mengaku bukan karena harga gas naik atau pihak Pertamina mengurangi jatah yang diantar ke pangkalan. (une)