Sabtu, 4 April 2026

Kampung Terih, Destinasi Digital yang Eksis hingga Inggris

Berita Terkait

Usianya belum genap setahun. Tapi pesona destinasi wisata digital Kampung Terih di Nongsa, Batam, sudah mendunia. Tak hanya di wilayah Asia, Kampung Terih juga dikenal sejumlah turis dari negara-negara di Eropa.

Suasana di Kampung Terih terlihat ramai, Minggu (28/10) pagi. Sejumlah remaja dengan seragam pramuka lengkap berbaris rapi di pantai Kampung Terih. Bukan di hamparan pasirnya, melainkan di perairan laut yang kedalamannya setinggi lutut para remaja itu.

Meski berbaris di air, mereka terlihat tetap khidmat menirukan kata demi kata yang diucapkan oleh seorang senior yang berdiri di bibir pantai. Kata-kata itu seperti sebuah ikrar-janji.

“Ini sedang ada pelantikan Saka Pariwisata Batam 2018,” kata Nunung Sulistiyanto, pengelola destinasi wisata digital Kampung Terih, Minggu (28/10) lalu.

Pria yang karib disapa Inung ini mengatakan, pihaknya membuka lebar-lebar pintu Kampung Terih untuk lokasi kegiatan dari pihak luar. Khususnya kegiatan yang berbau kepariwisataan dan pelestarian lingkungan hidup.

Inung kemudian menceritakan awal mula terciptanya destinasi digital Kampung Terih. Bersama komunitas Penjelajah Alam Kepri (Pari), Inung menemukan Kampung Terih ini pada awal 2017 lalu.

Kampung Terih sebenarnya merupakan satu dari 36 titik kampung tua yang di Batam. Namun kampung tua Kampung Terih ini terlihat istimewa karena posisinya yang menghadap langsung ke pusat pemerintahan Kota Batam di Batam Centre. Sehingga dari kampung ini terlihat pemandangan Kota Batam lengkap dengan gedung-gedung tingginya.

Warga mendayung sampan untuk menuju tepian pantai Terih Nongsa. F Cecep Mulyana/Batam Pos

Tak hanya itu, di Kampung Terih sendiri juga terdapat beberapa daya tarik. Seperti hutan bakau yang masih rimbun, air laut yang jernih, dan kekayaan kuliner khas Melayu dari warganya.

“Sehingga tercetus niat mengembangkan kampung tua ini menjadi destinasi wisata kekinian. Yakni jadi destinasi wisata digital,” kata Inung yang juga Ketua Umum PARI Kepri ini.

Niat Inung dan PARI ini berjalan mulus karena mendapat respon positif dari warga setempat. Kebetulan, lahan seluas 12 hektare yang kini dikelola menjadi destinasi wisata digital itu milik satu keluarga yang terdiri dari empat orang.

Setelah melalui berbagai pendekatan dan perundingan, akhirnya para pemilik lahan itu merelakan lahan mereka dijadikan daerah wisata. PARI dan para pemilik lahan kemudian bersepakat menandatangi perjanjian kerja sama. Isi perjanjian itu antara lain soal bagi hasil omset dari tiket masuk ke Kampung Terih.

Pengembangan desa wisata Kampung Terih makin pesat karena mendapat dukungan penuh Kementerian Pariwisata (Kemenpar) RI. Dengan bantuan dana sebesar Rp 68 juta, Inung dan rekan-rekannya di PARI kemudian mulai membangun sejumlah fasilitas di Kampung Terih.

Mulai dari pelantar kayu di antara rerimbunan hutan bakau, spot-spot foto yang instagramable, hingga sarana pendukung lainnya seperti toilet dan pondok-pondok tempat bersantai pengunjung.

Singkat cerita, tepat pada 10 Desember 2017 lalu desa wisata Kampung Terih diluncurkan. Ini merupakan destinasi wisata digital ke-7 dari 30 destinasi digital di seluruh Indonesia.

Sejak saat itu, kata Inung, Kampung Terih banyak dikunjungi wisatawan. Bukan hanya turis lokal, Kampung Terih juga banyak dikunjungi turis mancanegara.

Inung mencatat, sepanjang Desember 2017 hingga Oktober 2018, sudah ada ratusan turis dari 16 negara yang berkunjung ke Kampung Terih. Mulai turis dari Malaysia, Singapura, Vietnam, Filipina, Rusia, Thailand, India, Korea, Trinidad Tobago, Polandia, hingga Ukraina.

Kemudian ada juga turis asing dari Tiongkok, Brasil, Italia, Prancis, hingga turis asal Inggris. Dari hasil ngobrolnya dengan tamu-tamu asingnya itu, kata Inung, rata-rata mereka mengetahui Kampung Terih dari media sosial.

“Ternyata Kampung Terih ini dikenal sampai Inggris,” kata Inung.

Sejumlah pengunjung saat menikmati sauasana pantai Terih Nongsa. F Cecep Mulyana/Batam Pos

Pengembangan wisata Kampung Terih memang menggunakan konsep wisata digital. Yakni wisata yang mengandalkan publikasi melalui media sosial yang tentunya didukung dengan fasilitas kekinian yang Instagramable. Sehingga tak heran jika pesona Kampung Terih ini cepat tersebar hingga ke mancanegara.

Bahkan, kata Inung, ada turis asal Korea yang datang ke Kampung Terih karena terpikat dengan foto-foto yang diunggah para netizen di sejumlah media sosial, khususnya Instagram. Turis tersebut, kata Inung, tengah liburan di Batam dan nekat mencari sendiri lokasi Kampung Terih melalui aplikasi di Google.

“Artinya konsep digital yang kami kembangkan di sini udah kena banget. Karena banyak pengunjung yang tertarik untuk datang setelah melihat postingan di Instagram dan Twitter,” katanya.

Menurut catatan Inung, dalam sebulan rata-rata pengunjung Kampung Terih mencapai 3.000 orang. Bahkan pernah dalam sebulan jumlah kunjungan mencapai 8.000 orang.

“Pernah dalam sebulan omset kami sampai Rp 40 juta. Artinya ada sekitar 8.000 pengunjung selama sebulan itu,” katanya.

Inung menjelaskan, tiket masuk ke Kampung Terih sangat terjangkau. Yakni hanya Rp 5.000 untuk turis lokal, dan Rp 10 ribu untuk turis asing.

Sementara sejumlah pengunjung yang ditemui Minggu (28/10) lalu mengaku terkesan dengan konsep wisata di Kampung Terih. Selain nuansa alamnya yang masih sangat natural, wisata Kampung Terih dilengkapi dengan fasilitas dan spot foto yang Instagramable.

Selain itu, di sepanjang pelantar kayu yang membelah hutan bakau Kampung Terih terdapat ornamen-ornamen yang kreatif. Mulai dari tulisan di papan kayu yang bernada jenaka, hingga hiasan topi dan payung yang digantung di ranting-ranting bakau.

“Ini perpaduan antara kekuatan natural dan konsep digital yang sangat sempurna,” kata Susanto, pengunjung dari Batamkota.

Pria asal Sumatera Utara ini berharap pengelola menambah atraksi lain di lokasi desa wisata Kampung Terih. Sehingga pengunjung memiliki pilihan lain selain menikmati hutan bakau dan spot-spot berfoto ria.

Mendorong Ekonomi Warga Lokal
Kehadiran desa wisata digital Kampung Terih menjadi harapan baru bagi warga setempat. Mereka ikut merasakan dampak positifnya dari banyaknya pengunjung ke Kampung Terih.

Di antaranya dampak bagi perekonomian. Sebab pengelola Kampung Terih sengaja menyediakan sarana Pasar Mangrove bagi warga setempat. Di Pasar Mangrove itu, pengelola menyediakan lapak-lapak untuk berjualan warga.

“Sewanya sangat murah. Hanya Rp 50 ribu per lapak per bulan,” kata Nunung Sulistiyanto, pengelola destinasi wisata digital Kampung Terih, Minggu (28/10) lalu.

Di lapak Pasar Mangrove ini, warga bisa berjualan aneka dagangan. Mulai dari souvenir, jajanan tradisional, hingga kuliner khas Melayu yang identik dengan masakan hasil laut (seafood).

“Kami ingin kehadiran destinasi wisata digital ini bisa ikut mendorong ekonomi warga sekitar,” kata pria yang akrab disapa Inung ini.

Berharap Dukungan Pemerintah
Inung mengakui, saat ini pengembangan dan pengelolaan destinasi wisata digital Kampung Terih masih belum maksimal. Masih banyak sarana umum yang perlu dibangun. Seperti toilet yang memadai, musala, dan bangunan permanen lainnya untuk lokasi berjualan warga.

Karena itu, Inung berharap ada campur tangan pemerintah daerah dalam pengembangan Kampung Terih. “Karena kalau kami sendiri yang membangun, progresnya sangat lambat. Biayanya sangat tinggi,” kata Inung.

Pria yang juga menjadi Ketua Genpi Kepri ini mengatakan, saat ini memang sudah ada beberapa pihak yang menyalurkan dana CSR-nya ke Kampung Terih. Misalnya Bank Indonesia Kantor Perwakilan Kepri yang telah menyumbang sejumlah peralatan. Seperti life jacket, hammock, sound system, speed boat, tenda, dan lainnya.

“Totalnya Rp 126 juta,” katanya.

Namun bantuan dari pemerintah daerah, Inung menilai sejauh ini masih minim. Khususnya dari Pemko Batam.

Menjawab hal ini, Plt Kadis Pariwisata Kota Batam Ardiwinata mengatakan, pihaknya sangat mendukung kehadiran wisata digital Kampung Terih. Menurut dia, dukungan tidak harus berupa bantuan dana tunai.

“Konsep pengembangan wisata itu ada tiga. Yakni atraksi, aksesibilitas, dan amenitas,” kata Ardi, Rabu (31/10).

Sejauh ini, Ardi mengaku pihaknya sudah mendatangkan atraksi di Kampung Terih. Sebulan sekali, Dinas Pariwisata Kota Batam menggelar atraksi budaya di Kampung Terih. Mulai dari tarian tradisional, pertunjukan seni musik daerah, dan lain sebagainya.

Dari segi aksesibilitas, menurut Ardi saat ini akses ke Kampung Terih sudah sangat baik. Dimana jalan sudah berupa aspal yang dibangun pemerintah.

Kemudian dari sisi amenitas atau segala fasilitas pendukung di kawasan Kampung Terih, Ardi mengaku juga akan memberikan dukungan. Jika tidak bisa melalui anggaran daerah, kata dia, pihaknya bisa mengusahakan ke pihak lain. Baik dari swasta atau ke pemerintah pusat melalui Kemenpar.

“Silakan diajukan ke kami. Kalau tidak ada anggaran di APBD, kami bisa mendorong dari CSR perusahaan atau Kementerian Pariwisata. Karena pengembangan destinasi digital ini menjadi perhatian serius dari Pak Menteri Arief Yahya,” kata Ardi. (suparman)

Update