batampos.co.id – Pesawat Lion Air JT 610 yang jatuh di laut Karawang, Jawa Barat, pada Senin (29/10) lalu dikabarkan milik perusahaan asal Tiongkok, China Minsheng Investment Group Leasing Holding Ltd (CMIG). Pesawat tersebut merupakan satu dari bebera-pa pesawat Boeing 737 Max 8 yang disewa Lion Air Group dari CMIG.
Seperti dikutip Washington Post pada Kamis (1/11), penyewaan pesawat dalam bisnis penerbangan adalah hal yang lumrah. Sayangnya, hingga kemarin belum ada tanggapan resmi dari pihak CMIG.
Namun dalam sebuah pernyataan yang dirilis tanggal 14 Agustus lalu, CMIG mengumumkan pengiriman satu pesawat Boeing 737 MAX 8 MSN 43000 di Seattle untuk dioperasikan oleh Lion Air.
“Pesawat ini merupakan salah satu dari beberapa transaksi pesawat yang ada,” tulis pihak CMIG dalam rilisnya.
Chief Executive Officer CMIG Aviation Capital Peter Sixiang Gao mengatakan, Boeing MAX8 ideal untuk mendukung pertumbuhan masa depan Lion Air Group. Sebagai peserta sektor swasta, CMIG menanggapi secara aktif sebagai tugasnya untuk mendukung Belt and Road Initiative China dengan melakukan transaksi di wilayah tersebut.
CMIG Aviation Capital adalah bisnis penyewaan pesawat terbang yang berkantor pusat di Tianjin, Tiongkok, dengan lini bisnis di Hong Kong, Irlandia, dan Singapura. Portofolionya terdiri dari 21 pesawat trunk-liner modern baru yang disewakan dalam jangka panjang untuk 15 maskapai penerbangan di delapan negara dan wilayah.
Dalam rilis yang sama, pihak Lion Air Group membenarkan jika Lion Air Group menyewa beberapa pesawat milik CMIG. Di antara pesawat yang disewa itu berjenis Boeing 737 MAX 8.
“Kami senang memiliki CMIG sebagai pemberi sewa kepada Lion Group dan kami berharap dapat memperluas dan memperkuat kemitraan bisnis ini. Sebagai operator domestik terbesar di Indonesia, keselamatan dan keandalan adalah prioritas keunggulan kami,” kata Presiden Direktur Lion Air Group Edward Sirait, sebagaimana dikutip dalam rilis tersebut.
Seperti diketahui, pesawat Lion Air PK-LQP yang jatuh di Karawang Senin (29/10 lalu merupakan tipe Boeing 737 MAX 8. Pesawat ini dioperasikan Lion Air sejak 15 Agustus 2018 atau sehari setelah pers rilis itu diterbitkan.
Namun saat hal ini dikonfirmasi ulang, Presiden Direktur Lion Air Edward Sirait menolak berkomentar.
“Saya pikir nggak perlu lah,” kata Edward lewat pesan singkat, Kamis (1/11).
Dalam acara Paris Air Show 2017 lalu, Lion Air mencatatkan kontrak pembelian pesawat besar-besaran. Pada April 2018, Lion Air Group resmi meneken konntrak pembelian 50 pesawat Boeing 737 Max 10. Total nilai transaksi mencapai 6,24 miliar dolar AS. Pembelian pesawat itu melengkapi Boeing MAX 8 dan MAX 9 yang sudah dioperasikan oleh Lion Air Group.
Black Box Ditemukan
Sementara upaya pencarian kotak hitam (black box) Lion Air JT 610 sudah membuahkan hasil. Satu dari dua black box pesawat Lion Air PK LQP itu sudah ditemukan, Kamis (1/11) pagi.
Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto menduga kuat kotak hitam yang sebenarnya berwarna orange itu adalah Flight Data Recorder (FDR). Isinya data-data penerbangan seperti ketinggian, arah, dan kecepatan pesawat. FDR punya kapasitas merekam selama 25 jam dari penerbangan. Sehingga data penerbangan sebelumnya pun bisa terbaca dari FDR.
Selain FDR, ada pula Cocpit Voice Recorder (CVR) yang berisi rekaman percakapan pilot dengan co-pilot dan kru kabin, suara di kokpit, serta percakapan dengan petugas menara pengawas. Balai Pengkajian dan Penerapan Teknlogi (BPPT) yang menemukan titik FDR dengan peralatan canggih di Kapal Baruna Jaya I itu yakin bisa mendeteksi pula lokasi CVR, Jumat (2/11) hari ini.
Sekitar pukul 18.20, FDR yang dimasukan ke dalam kotak khusus berisi air itu tiba di dermaga JICT oleh Kapal RIB Taifib. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi bersama Ketua KNKT Soerjanto dan Kepala Balai Teknlogi Survei Kelautan BPPT M Ilyas. Budi menjelaskan temuan yang bisa menjadi petunjuk penyebab Lion Air penerbangangan Jakarta-Pangkal Pinang itu celaka.
”Semoga dengan diperolehnya FDR ini kami harapkan, kita bisa meneliti lebih jauh,” kata Menteri Budi.
Kepala KNKT Soerjanto menuturkan FDR yang ditemukan itu sudah lepas dari cangkang. Hanya menyisakan crash protection box yang berisi kartu memori. Nah di kartu itulah data-data penerbangan tersimpan. Sehingga bisa dianalisis untuk menemukan petunjuk utama penyebab kecelakaan pesawat Lion Air. Butuh waktu dua hingga tiga pekan untuk menganalisis data. Dia memastikan penyelidikan yang sepenuhnya di Indonesia itu akan independen.
”Tidak ada kaitannya Airbus dengan ini ya. Kami menyelidikinya masalah kenapa kecelakaan ini ya independen,” tegas dia.
Dia yakin bahwa benda yang dari kejauhan terlihat seperti tabung itu adalah FDR. Tapi, untuk memastikan perlu ada penelitian lebih lanjut di laboratorium.
Sedangkan Kepala Balai Teknologi Survei Kelautan BPPT M. Ilyas mengungkapkan, sejak hari kedua pencarian atau Selasa (30/10) sebenarnya sinyal dari black box itu sudah diketahui. Tapi, para peneliti masih belum sepenuhnya yakin.
Hingga berulangkali dipastikan petugas di Kapal Baruna Jaya I yang membawa alat Multibeam Echosounder Hydrosweeps DS, Side Scan Sonar Edgetech 4125, G-882 Marine Magnetometer, dan Remote Operated Vehicle (ROV)-Seaeye 12196 Falcon.
”Sinyal itu dipastikan dengan ping locator milik KNKT Indonesia dan Singapura. Ada sumber frekuensi dari black box. Kami pastikan lagi dengan transponder,” kata Ilyas.
Caranya, menurut Ilyas, dengan mengirimkan sinyal berkekuatan 37,5 kilohertz sesuai dengan sinyal yang dimliki black box. Dengan alat penerima sinyal itu bisa dideteksi lokasinya dengan metode triangulasi data. Jadi, pengecekan dengan cara menembakan sinyal itu dari tiga lokasi berbeda. Titik lokasi itu lantas diberikan kepada penyelam dari TNI dan Basarnas.
Penyelam yang membawa ping locator milik KNKT mendeteksi ke area yang lebih kecil. Cara kerjanya semakin dekat dengan lokasi semakin terdengar suara ping. Hingga akhirnya Anggota Batalyon Intai Amfibi 1 Marinir Sertu Hendra Syahputra menemukan FDR di kedalaman 35 meter. Lokasi koordinat temuan itu di S 05 48 48.051 – E 107 07 37.622 dan koordinat S 05 48 46.545-E 107 07 38. Temuan itu sekitar pukul 10.30.
Hari ini, Jumat (2/11), tim dari BPPT masih punya pekerjaan besar untuk mencari VCR. Lokasinya sebenarnya sudah diketahui kemarin. Tapi, lokasi perkiraan itu berada sekitar 250 meter dari pipa Pertamina. Sehingga kapal Baruna Jaya pun harus bergeser hingga 600 meter dari lokasi yang diduga VCR yang ditandai dengan inisial C 31 itu. Sesuai standar, kapal hanya boleh lego jangkar dengan jarak lebih dari 550 meter dari pipa.
”Sudah tidak terdengar lagi pingnya. Dan tadi juga turun dengan rubber boat, dengan ping loacator dan KNKT Singapura dan Indonesia tidak ada bunyi,” ujarnya.
Sore kemarin ada penyelaman oleh anggota TNI dan Basarnas dengan membawa ping locator untuk mencari lokasi VCR. ”Mudah-mudahan mengetahui oh sudah ada bunyi. Berarti masih di situ,” kata Ilyas.
Strategi yang akan dilakukan tim di kapal BPPT itu hari ini dengan tetap menurunkan jangkar 600 meter dari pipa Pertamina. Tapi, dengan ROV yang punya kabel sepanjang 1.200 meter itu bisa menjelajah ke lokasi tersebut.
”Bunyi ping tidak terdengar itu bisa jadi karena lumpur. Informasi dari penyelam lumpur bisa selutut,” katanya.(jun)
