Proyek Palapa Ring dari Kemenkominfo menjanjikan hadirnya internet cepat di daerah terluar, terdepan, dan tertinggal (3T). Di wilahaya barat, Palapa Ring yang sudah beroperasi sejak Maret 2018 lalu sudah mulai dirasakan manfaatnya. Salah satunya, bisnis online mulai menjamur.
AHMADI SULTAN, Batam Pos
Mata Arief Naen fokus pada layar smartphone di genggamannya, Rabu pagi (31/10). Ia mengolah foto-foto hasil jepretannya supaya lebih ciamik. Foto-foto itu memotret keindahan objek wisata Alif Stone Park di Natuna. Usai mengolah beberapa foto, ia beralih ke media sosial Facebook.
Dari rumahnya di Desa Sepempang, Kecamatan Bunguran Timur, Natuna, Arief Naen mengunggah foto pertama. Pada keterangan fotonya, ia menyampaikan ajakan dukungan Natuna menuju geopark nasional. Hanya beberapa detik, foto itu berhasil tampil pada lini masa akun sosial medianya.
Menyusul kemudian foto-foto lainnya. Temanya sama. Potensi Natuna sebagai geopark nasional maupun Natuna sebagai bagian dari Global Geopark Network of UNESCO. Kabupaten Natuna memang memiliki banyak situs, termasuk batu granit berusia lebih dari 100 juta tahun.
Belakangan, pria yang biasa disapa Naen ini pun semakin giat membagikan foto keindahan Natuna melalui media sosial. Apalagi tidak membutuhkan waktu yang lama. Hanya memerlukan waktu beberapa detik saja, fotonya sudah bisa dilihat pengguna media sosial lainnya di Indonesia, bahkan luar negeri.
“Sekarang sangat asyik dan semakin semangat untuk memperkenalkan daerah sendiri ke luar. Internet sudah lancar. Apalagi sudah 4G,” ujar Naen kepada Batam Pos, Rabu (31/10).
Penggiat wisata Natuna ini menceriatakan, hampir setiap hari ia memosting foto-foto potensi wisata Natuna. Ia bisa melakukannya dari rumah dan tidak perlu lagi ke pusat kota Ranai yang berjarak 7 kilometer hanya untuk memosting foto di Facebook maupun Instagram. Foto-foto itu mengabarkan keindahan Natuna yang tersembunyi dan berhasil menarik wisatawan untuk datang ke Natuna.
“Sudah banyak wisatawan yang menghubungi untuk dibawa berwisata di Natuna. Ada perorangan, grup, atau pegawai pemerintahan yang sedang bertugas di Natuna dan ingin wisata juga,” ujar Naen.
Naen membandingkan, pada tahun 2017 lalu, wisatawan yang menghubunginya dan datang ke Natuna untuk liburan hanya belasan orang saja. Sementara hingga Oktober 2018, wisatawan yang sudah berkunjung ke Natuna dan menggunakan jasa Naen mencapai 68 orang.
“Saya selalu catat nama-nama wisatawan yang menggunakan jasa saya, jadi saya tahu persis,” kata penerima penghargaan Penggiat Promosi Wisata Natuna lewat Media Sosial 2017 ini.
Naen mengungkapkan, sejak Palapa Ring Barat (PRB) beroperasi Maret lalu, ia merasakan manfaat yang sangat signifikan. Internet lancar. Ini sangat mendukung hobinya menyebar foto potensi wisata Natuna di media sosial.
“Sekarang kalau posting satu foto di Facebook, tidak lama sudah terposting. Paling butuh 5-6 detik saja. Tidak ada kendala lagi,” katanya.
Kemudahan mengakses jaringan internet juga dimanfaatkan masyarakat Natuna lainnya meraup pundi rupiah. Banyak kalangan masyarakat, membuka usaha dengan menjual produk lokal secara online, terutama di jejaring sosial. Mulai makanan siap saji hingga kerajinan tangan.
Abdul Mazi, warga Sungai Ulu di Kecamatan Bunguran Tengah, juga mengaku semakin terbantu dalam mempromosikan kerajinan tangan miliknya. Abdul Mazi, salah satu pemilik usaha kerajinan tangan vas bunga dari olahan kayu yang sudah ditekuninya sejak beberapa tahun terakhir. Dengan fasilitas internet yang semakin baik, Abdul Mazi bisa mempromosikan usahanya. Bahkan vas bunga buatannya dapat dipromosikan hingga ke luar daerah tanpa harus meninggalkan Natuna.
“Promosi sekarang lebih mudah, lewat internet maupun jejaring sosial. Sekarang pembeli bisa dari mana saja,” tutur Abdul Mazi, Selasa (30/10).
Hal berbeda dirasakan Abdul Mazi dan Arief Naen ketika Palapa Ring Barat belum beroperasi. Mereka membutuhkan waktu yang lebih lama untuk memosting satu foto saja.
“Dibanding dulu, sulit meng-upload (mengunggah) foto di internet,” tegas Abdul Mazi.
Sementara Naen mengatakan, ia terkadang memerlukan waktu 30 menit saat memosting satu foto saja. Kala itu, lanjut Naen, di rumahnya lebih sering mendapatkan jaringan edge.
“Belum jaringan 3G. Jadi saya harus ke kota mencari spot untuk internet yang lancar,” katanya.
Manfaat beroperasinya jaringan fiber optik Palapa Ring Barat tidak hanya dirasakan masyarakat. Namun di sisi Pemerintah Daerah pun sangat terbantu. Kepala Dinas Kominfo Pemkab Natuna Raja Darmika mengatakan, Palapa Ring Barat memberikan alternatif untuk Pemerintah Daerah dalam hal penggunaan layanan internet
“Sebelumnya menggunakan satelit dengan biaya lebih mahal, digantikan layanan Astinet Telkom dari PRB yang lebih jauh lebih murah,” ujar Raja Darmika.

Akibatnya biaya telekomunikasi Pemerintah Daerah Natuna relatif besar. Setahun bisa menghabiskan anggaran Rp 400 juta untuk kontrak layanan satelit dengan kapasitas 2 mega bait. Tapi sekarang dengan fiber optik, biaya langganan hanya Rp 20 jutaan sebulan dengan kapasitas tidak terbatas.
“Selain efektif, kualitas jaringan internet sudah lebih baik,” kata Darmika.
Bupati Natuna Abdul Hamid Rizal mengatakan, kelancaran komunikasi di Natuna adalah bagian dari pertahanan negara. Menurut Hamid, sebelum beroperasinya PRB Natuna terisolasi karena terbatasnya layanan telekomunikasi. Hamid pun mengungkapkan pengalaman di tahun 2000 lalu, kala Natuna masih dalam kondisi serba keterbatasan.
Saat itu, katanya, Pemerintah Daerah kesulitan untuk melaporkan berbagai peristiwa di perbatasan termasuk ancaman dari luar. Namun berjalannya waktu dan beroperasinya PRB di Natuna, segala kemudahan berkomunikasi dapat diraskan Pemerintah Daerah dan dimanfaatkan masyarakat.
“PRB juga melepas Natuna dari terisolirnya di perbatasan. Kami berharap,semua operator seluler menggunakan layanan PRB ini, terutama di pulau-pulau,” harapnya.
Raja Darmika mengatakan kemudahan mengakses telekomunikasi di Natuna lewat jaringan fiber optik memang belum bisa dinikmati masyarakat Kabupaten Natuna secara merata. Beberapa kecamatan di Natuna belum terkenoneksi jaringan tersebut. PRB baru fokus di wilayah ibukota Natuna, Ranai dan sekitarnya.
Sementara belum semua operator seluler menggunakan layanan dari fiber optik. Saat ini, menurut Darmika, baru operator Telkomsel dan Telkom menggunakan jaringan fiber optik PRB. Pemanfaatan oleh operator lain masih hitungan bisnis. Padahal Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) -dulu bernama BP3TI- sudah menawarkan harga PRB jauh lebih murah dibanding kota besar lain.
Di Kecamatan Bunguran Selatan yang masuk kawasan pariwisata masih menggunakan layanan 2G dari operator seluler. Sejauh ini operator seluler sebagian fokus memenuhi kebutuhan pertahanan militer. “Memang di Kemamatan Bunguran Selatan, operator masih fokus untuk pangkalan militer termasuk di kawasan Selat Lampa,” kata Darmika.
Namun menurut Darmika lagi, Pemerintah Daerah Natuna sudah menyampaikan imbauan kepada operator seluler di Natuna. Sejauh ini baru Telkomsel, dan untuk wilayah pulau-pulau baru Pulau Sedanau sudah mendapat layanan 4G, menggunakan radio IP Long Haul, dari pemanfatan PRB oleh Telkomsel. “Kecuali wilayah Kecamatan Bunguran Timur sudah hampir menyeluruh,” papar Darmika.
Telkom Ranai yang menawarkan layanan Indihome sudah menggunakan fasilitas internet dari fiber optik yang diawasi BAKTI. Kepala Plaza Telkom Ranai Yusnedi mengatakan, layanan Indihome ini sudah dibuka sejak Agustus lalu setelah layanan fiber optik Palapa Ring Barat dioperasikan. Beberapa pelanggan sudah terpasang layanan Indihome.
Kecepatan layanan internet Indihome, katanya, minimal 10 megabyte dan kecepatan maksimalnya tidak terbatas. Pelanggan Indihome juga bisa mendapat layanan telepon rumah dan layanan siaran televisi serta internet. Sementara untuk pelanggan perkantoran, menggunakan layanan Astinet atau layanan khusus dari Telkom.
“Indihome ini triple play, pelanggan mendapat layanan telepon, internet dan layanan televisi. Dan tahun ini Telkom Ranai sepenuh mendukung kegiatan seleksi CPNS secara online,” kata Yusnedi, Rabu (31/10).
***

Di Anambas, proyek Palapa Ring Barat juga sudah beroperasi bersamaan dengan proyek di Natuna. Masyarakat di ibukota Anambas, Tarempa dan sekitarnya sudah merasakan manfaatnya. Anton Rio, warga Sri Tanjung, Tarempa, Kecamatan Siantan, mengatakan kecepatan internet sudah lebih baik dibanding sebelum Palapa Ring Barat beroperasi.
Aktivitasnya sebagai buzzer Kementerian Pariwisata semakin terbantu. Setiap hari ia tidak perlu lagi jauh-jauh dari rumahnya untuk menggunakan Twitter. Cukup di sekolah dekat rumahnya yang memiliki spot free wifi. Dengan fasilitas internet yang baik, Anton Rio menebarkan cuitan tentang pariwisata dan kebijakan terkait pariwisata.
“Udah makin lancar sekarang. Sekian detik cuitan sudah terkirim,” ujar pemuda berusia 23 tahun ini, Rabu (31/10).
Apalagi di area-area ketinggian dan dekat dari BTS, layanan internet sangat lancar. Di Anambas, lanjut Anton, anak muda yang gemar berbagi foto lewat Instagram atau sering menggunakan media sosial, sering berkumpul di dekat Network Operation Centre (NOC) Palapa Ring Barat yang berlokasi di Air Padang, Kecamatan Siantan.
Di kawasan yang disebut Bay Hill ini banyak kafe dan spot wifi gratis yang disediakan untuk masyarakat. Setiap hari, tempat tersebut ramai dan mereka menimati berselancara di dunia maya hingga tengah malam. Bahkan hingga dini hari.
“Kalau mau main internet mereka ramai di kafe-kafe dekat situ. Dari sore sampai malam mereka berkumpul di situ,” kata Anton.
Lulusan Sekolah Tinggi Teknologi Indonesia Tanjungpinang ini juga sesekali datang ke Air Padang untuk mendapatkan layanan internet yang lebih kencang dan gratis. “Biasanya kalau ada materi twit pagi, saya di rumah kakak. Sore sampai malam baru ke Air Padang,” tuturnya.
Sebelumnya, hampir setiap hari Anton harus pergi dari rumahnya ke Air Padang yang berjarak 7 kilometer untuk menikmati layanan internet. Sebab hanya di area itu dan kantor pemerintahan tersedia layanan internet yang baik. Sementara di rumahnya, jangankan menikmati layanan internet, untuk menelpon saja kadang sulit.
“Sinyal susah. Apalagi internet. Posting materi twit lama, apalagi kalau pakai foto bisa 3-5 menit baru terposting,” ujar dia.
Riki Tri Saputra, warga Tarempa, juga mengatakan layanan internet dengan jaringan 4G sudah bagus di tempat-tenpat tertentu. Seperti lokasi yang berada di ketinggian, dekat dengan BTS, dan dekat pusat pemerintahan. Sementara lokasi yang berada di balik bukit relatif kurang bagus sebab hanya mendapatkan jaringan 3G dan H+.
“Alhamdulillah sekarang lebih baik. Di daerah yang dekat tower itu lancar. Jadi terbantu untuk akses internet,” katanya.
Pegawai tidak tetap di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Anambas ini mengatakan tidak hanya untuk kepentingan pribadi, tugas-tugas di kantor pun terbantu sejak Palapa Ring Barat beroperasi. “Kalau posting foto di medsos tidak sampai beberapa menit, bahkan hitungan detik sudah terposting,” kata dia.
Tidak hanya masyarakat yang menikmati kemudahan mengakses internet, Pemerintah Daerah pun sudah merasakannya. Pada saat pendaftaran Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di Kabupaten Kepulauan Anambas 19 September lalu, Pemerintah Daerah menggunakan layanan internet berbasis fiber optik Palapa Ring Barat.
Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik Pemkab Anambas Japrizal mengatakan jaringan internet untuk pendaftaran CPNS lalu sudah memadai. Ini setelah Palapa Ring Barat beroperasi meski statusnya masih uji coba.
”Jaringan kita sudah memadai karena saat ini PRB sudah diujicoba. Jadi, sangat membantu selama pendaftaran dan seleksi jaringan,” kata Japrizal, beberapa waktu.
Sebelum Palapa Ring Barat beroperasi, layanan internet di Tarempa dan sekitarnya relatif buruk. Riki Tri Saputra mencontohkan saat menggunakan media sosial seperti Facebook dan Instagram, membutuhkan waktu beberapa menit untuk memosting foto.
“Posting foto di Instagram, satu foto itu habis waktu 10 menit. Paling cepat 7-8 menit baru terposting,” katanya.
Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik Kabupaten Kepulauan Anambas Jefrizal, menjelaskan, memang belum semua perusahaan telekomunikasi yang memanfaatkan jasa fiber optik proyek Palapa Ring Barat. Sampai saat ini baru ada satu perusahaan telekomunikasi saja yang memanfaatkan fiber optik tersebut.
“Yang memanfaatkan fiber optik baru PT Telkom saja yang saat ini sudah interkoneksi, perusahaan swasta belum ada,” ungkap Jefrizal, Kamis (1/11).
Mengenai tarif kata Jefrizal, sudah diatur didalam peraturan menteri keuangan. Meski begitu, lanjutnya, untuk saat ini manfaat yang sudah dirasakan yakni sinyal 4G yang sudah menjangkau Tarempa dan di kantor bupati Anambas. “Pihak Telkom juga perlu kembangkan jaringan lagi untuk tambah layanan kepada masyarakat,” ungkapnya lagi.
***
Palapa Ring merupakan pembangunan infrastruktur tulang punggung jaringan telekomunikasi broadband (pita lebar) yang menjangkau wilayah terpencil dan perbatasan. Wilayah tersebut rata-rata tidak terlayani operator telekomunikasi swasta yang enggan memasuki dengan alasan bisnis yang tidak menguntungkan.
Solusinya, pemerintah masuk dan membangun sendiri jaringan telekomunikasi. Proyek Palapa Ring dilaksanakan oleh Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI), sebuah unit organisasi di bawah Kementerian Komunikasi dan Informatika.
Proyek Palapa Ring terbagi menjadi Paket Barat, Tengah, dan Timur. Palapa Ring Paket Barat sudah rampung sejak 2 Maret 2018 lalu. Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara sendiri yang langsung datang saat demonstrasi Palapa Ring Barat di Network Operation Centre (NOC) Tarempa, Anambas, 26 Maret 2018.
Perangkat NOC yang ada tersebut tidak terlalu besar namun memori didalamnya memiliki kapasitas hingga 100 Giga. Jadi jika masing-masing penggunaan hanya 2 giga, maka dapat melayani sekitar 50 ribu pelanggan. Namun untuk tahap awal ini baru dipakai 10 giga saja.
Palapa Ring Barat menghubungkan sejumlah kabupaten dan kota di Pulau Sumatera dan Kalimantan dengan kabel serat optik yang membentang sepanjang 2.275 kilometer. Akses Internet menggunakan solusi teknologi Fiber optik ini rata rata 2 Mbps.
Khusus di wilayah Sumatera, Palapa Ring Barat menjangkau lima kabupaten di Provinsi Riau dan Kepulauan Riau. Lima kabupaten tersebut yakni Kabupaten Bengkalis, Kabupaten Kepulauan Meranti, Kabupaten Natuna, Kabupaten Lingga, dan Kabupaten Kepulauan Anambas. Kelima wilayah tersebut merupakan wilayah yang dianggap tidak layak secara finansial.
Selain lima kabupaten tersebut, Proyek Palapa Ring Paket Barat juga menjangkau enam kabupaten/kota yang merupakan titik interkoneksi dengan jaringan tulang punggung serat optik, yang telah dibangun oleh operator telekomunikasi. Salah satunya adalah Kota Singkawang, Kalimantan Barat.
Menteri Rudiantara berjanji pemerataan akses internet di Indonesia terwujud pada tahun 2019 mendatang. Ia pun menguungkapkan bahwa proyek ini adalah nawacita Presiden Joko Widodo, yang membangun Indonesia dari daerah pinggiran.
“Karena kami harus membangun seluruh Indonesia,” ujar Menteri Rudiantara saat kunjungannya ke Anambas.
Rudiantara melanjutkan, proyek PRB ini untuk melengkapi fasilitas yang sudah dibangun oleh provider. Dari 57 daerah yang sebelumnya belum mendapatkan pembangunan tersebut, maka Pemerintah pusat hadir untuk melengkapi pembangun yang masih kekurangan tersebut.
Negara, kata Rudiantara lagi, tidak menghitung untung atau rugi dalam hal ini. Tapi negara berfikir bagaimana masyarakat di seluruh Indonesia dapat menikmati akses telekomunikasi yang layak. “Karena masyarakat punya hak menikmati layanan telekomunikasi,” katanya.
Sementara Kadiv Sumber Daya Manusia dan Hubungan Masyarakat Ari Soegeng Wahyuniarti mengatakan, ada sejumlah manfaat nyata dari proyek Palapa Ring ini. Pertama, jaringan internet jadi super cepat. Terutama di daerah tertinggal, terluar, dan perbatasan.
Kedua, internet murah.
Selain jaringan internet supet cepat, Palapa Ring juga dapat memberikan manfaat lainya yaitu memberikan internet dengan harga yang murah. Dengan Palapa Ring ini diharapkan dapat memberikan internet yang murah bagi masyarakat.
“Sehingga peluang masyatakat dalam menggunakan internet untuk sebuah kemajuan semakin besar,” kata Ari, Minggu (4/11).
Ketiga, internet mampu menjangkau pelosok Indonesia. Selama ini ada kesan akses internet yang baik hanya bisa dinikmati warga di perkotaan saja. Namun sejak ada proyek Palapa Ring ini, kini layanan internet bisa diakses oleh seluruh warga Indonesia di daerah pelosok sekalipun.
Manfaat keempat, memberikan peluang bisnis baru bagi UKM.
Jika jaringan internet super cepat sudah hadir di Indonesia dan harga yang diberikan cukup murah, tentu saja memberikan peluang bisnis baru bagi UKM. Sehingga hal ini dapat mewujudkan Indonesia sebagai pusat dari ekonomi digital pada tahun 2020 mendatang, hal tersebut bukan tidak mungkin dan dapat terealisasikan.
Kelima, pendukung peluang di masa depan.
Manfaat lain dari Proyek Palapa Ring mendukung ekonomi digital Indonesia di masa depan, dengan begitu para pengusaha yang memiliki basic digital berpeluang mengembangkan perusahaanya.
“Belum lagi para pendatang baru yang ingin memulai bisnis startup digital, sehingga perekonomian digital di Indonesia terus berkembang pesat,” terang Ari. (arn/sya)
