Iklan

Dag-dig-dug. Perasaan itu muncul tatkala menunggu kelahiran putri ketiga.
Kebahagiaan itu akhirnya tiba. Tanggal 03 November 2018 pukul 19.10 WIB, Adeeva Lanoverian Guntur Sunan telah lahir ke dunia. Gadis cilik itu merupakan putri ketiga kami. Menyusul kedua kakaknya, Akeila Lanoverian Guntur Sunan dan Ajeng Lanoverian Guntur Sunan.

Yang unik, ketiganya lahir di bulan yang sama. November. Akeila tanggal 20, Ajeng tanggal 07, Adeeva tanggal 03. Pastinya, ulang tahun mereka digelar sekali di bulan November. Dirapel. Kwakakakakak.

Lagi-lagi, awalan huruf A jadi idola. Namun diambil dari bahasa berbeda. Akeila bahasa Rusia yang berarti bijaksana. Ajeng dikutip dari bahasa Jawa yang berarti cantik. Sedangkan Adeeva dari bahasa Arab dengan arti berbakat.

Lanoverian merupakan akronim dari “lahir bulan November dari Afriani”. Guntur diambil dari nama pipinya (panggilan lain untuk ayah). Sunan merupakan gabungan dari nama kakek-neneknya. Supriyono-Nanik-Abdul Aziz-Sumini.

Terima kasih tak terhingga untuk jajaran RS Keluarga Husada dan Puskesmas Botania. Lewat keramahan dan profesionalisme mereka, ibu dan si bayi selamat. Meskipun nyaris dioperasi lantaran tensi yang tinggi. Itulah mengapa perasaan saya dag-dig-dug.
Sama dengan bisnis koran, bisnis pelayanan kesehatan merupakan bisnis kepercayaan.

Ketika pasien mendapat pelayanan bermutu, sudah barang tentu akan jadi rujukan untuk berobat. Kunci utamanya adalah pelayanan.

Jika pasien dilayani dengan baik, profesional, dan ramah, tingkat kesembuhannya pasti tinggi. Kepercayaan terhadap instansi itu sudah barang tentu meningkat. Pastinya akan diterpa gosip yang baik-baik.

Si pasien akan cerita pengalamannya ke keluarga, tetangga, dan teman kerja. Lalu, yang mendapat cerita akan meneruskan cerita baiknya. Begitu seterusnya. Bak menjadi pesan berantai.

Puskesmas Botania yang saya datangi pertama kali memberi perhatian ekstra. Padahal saat itu pelayanan kesehatan tutup. Namun bidan tetap melayani dengan ramah. Ketika mengharuskan untuk dirujuk, seketika itu juga pihak puskesmas yang berinisiatif menghubungi rumah sakit terdekat.

Tanpa ba-bi-bu, langsung mendapat rujukan. Kebetulan rumah sakit terdekat adalah RS Keluarga Husada. Jaraknya tidak sampai satu kilometer. Saya ke rumah sakit itu sendirian. Anak-anak saya yang masih kecil saya tinggal di puskesmas. Alhamdulillah, dijaga. Bahkan diajak main.

Tiba di rumah sakit, dokternya sedang melakukan operasi. Namanya dr Decyaran Lebang SpOG. Dokter senior. Oleh pihak rumah sakit, saya disuruh menemani istri saja. Tidak perlu menunggu. Nanti pasti dihubungi dengan meninggalkan nomor telepon. Akhirnya saya kembali ke puskesmas.

Eh, beberapa saat kemudian mendapat telepon. Diminta membawa istri ke rumah sakit. Tiba di rumah sakit, langsung dilayani dengan baik. Si dokter juga menyambut di ruang tunggu. Tak berselang lama langsung ditangani. “Ini baru keren,” kata saya.

Pihak rumah sakit langsung menangani istri saya. Katanya, dampingi dulu istri, administrasi menyusul. Atau sambil jalan. Keselamatan pasien lebih utama. Dalam kondisi darurat, memang harusnya begitu. Setelah masuk ruang bersalin, barulah administrasi diurus. Hati pun tenang.

Ini yang saya maksud happy ending. Maklum. Sesaat sebelum prosesi persalinan, saya nekat masuk kerja. Saat itu, sudah bukaan pertama. Bukan tanpa sebab. Ada janji dengan agen koran Batam Pos yang tidak bisa ditinggalkan. Saya sampaikan kepada teman-teman kantor:

“Urusan kantor ya kantor, urusan keluarga ya keluarga”.Setelah rapat kelar, Suzuki Ertiga Dreza BP 1851 HR saya pacu. Namun tetap mengutamakan keselamatan. Meskipun agak kencang sedikit. Kwakakakakak.

Alhamdulillah, belum terlambat. Masih sempat mengantar istri ke puskesmas. Meskipun akhirnya dirujuk karena tingginya tensi. Tapi tak apa. Semua berjalan sesuai rencana. Yang penting semua selamat dan sehat.

Tugas pertama untuk mengumandangkan azan menyambut si kecil dilakukan. Tugas berikutnya tentu menjaga amanah yang diberikan. Menjadikan Adeeva anak yang saleha, berguna bagi bangsa, agama, dan negara.

Rasa lelah dan letih terobati. Sontak hilang ketika melihatnya lahir. Makin bahagia ketika melihat miminya sehat. Duh… Sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Kehadiran buah hati merupakan berkah bagi kita para orangtua. Mereka adalah titipan. Amanah dari Sang Pencipta yang harus kita jaga. Tidak boleh disia-disiakan. Harus benar-benar dijaga.

Mau jadi apa mereka nantinya, tergantung kita. Bagaimana orangtua membimbingnya. Dengan ajaran baik, anak-anak akan menjadi baik. Jika diajarkan buruk, bisa-bisa menjadi lebih buruk.

Kelahiran putri ketiga mengingatkan saya akan sesuatu. Kedewasaan. Baik dalam bersikap, berbuat, dan bertanggungjawab. Ini menjadi motivasi untuk terus berbuat baik. Entah untuk diri sendiri, keluarga, perusahaan, lingkungan, atau untuk bangsa dan negara.
Tentunya, sebagai orangtua kita tidak ingin mendapat “stempel” negatif dari anak-anak kita. Sehingga kita termotivasi untuk menjadi yang terbaik. Minimal untuk keluarga. ***

Advertisement
loading...