Iklan

Bersinergi dengan sejumlah pihak, PT Pertamina mengembangkan Desa Berdaya di Kecamatan Nongsa, Batam, Kepulauan Riau. Program ini merupakan upaya nyata Pertamina untuk mewujudkan kemandirian dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat Nongsa.

Sanggar Mentari di Kelurahan Batubesar, Kecamatan Nongsa, Batam, mendadak riuh, Minggu (28/10) lalu. Sejumlah remaja putra dan putri terlihat saling bersenda-gurau di sela kegiatan yang mereka ikuti, pagi itu.

Seperti biasanya, pagi itu para remaja dari Remaja Masjid Nurul Hidayah Batubesar tersebut mengikuti pelatihan membuat kerajinan dari kulit kerang. Kegiatan yang sudah berlangsung sejak tiga bulan terakhir ini merupakan hasil kolaborasi antara Pertamina Depot Pengisian Pesawat Udara (DPPU) Hang Nadim dengan Politeknik Negeri (Poltek) Batam.

Didampingi pelatih dari pengurus Sanggar Mentari dan dari Poltek Batam, pagi itu mereka berlatih cara memotong kulit kerang dengan mesin pemotong. Secara bergantian mereka mengikuti sesi ini. Sesi ini terus diulang sampai para peserta pelatihan benar-benar mahir cara memotong kulit kerang dalam berbagai motif.

“Daripada nganggur saat hari libur, mending ikut pelatihan ini,” kata Via Resta, salah satu peserta, Minggu (28/10) lalu.

Siswi kelas VIII SMK Negeri 7 Batam ini mengaku tertarik mengikuti pelatihan membuat kerajinan kulit kerang ini karena melihat prospeknya ke depan. Kata dia, kerajinan dari kulit kerang ini memiliki nilai jual yang tinggi.

“Kalau sudah bisa, nanti buat karya sendiri dan bisa dijual. Uangnya bisa untuk jajan dan biaya sekolah. Jadi tak selalu bergantung sama orangtua,” kata Via penuh semangat.

Bendahara Sanggar Mentari Sirtufir Lailie mengatakan, kegiatan membuat kerajinan dari kulit kerang di sanggar ini sudah berjalan sejak lama. Tetapi dulunya sanggar ini hanya melibatkan anggota dan pengurus saja.

Selain itu, aktivitas produksi kerajinan kulit kerang di sanggar tersebut sempat terhenti karena terkendala masalah pemasaran. Sebab selama ini mereka hanya memasarkan hasil karya kerajinan kepada warga sekitar saja.

“Tapi sejak ada program Desa Berdaya dari Pertamina ini, kami jalan lagi. Warga yang terlibat juga makin banyak,” kata Sirtufir Lailie, Minggu (28/10) lalu.

Wanita yang akrab disapa Laily ini mengatakan, selain mengadakan program pelatihan bagi remaja, kini Sanggar Mentari juga melakukan kegiatan serupa bagi para ibu rumah tangga. Harapannya, kelak mereka bisa membantu menambah pendapatan keluarga dari hasil penjualan kerajinan kulit kerang.

Menurut Laily, pemasaran produk memang kerap menjadi kendala utama. Sebab tanpa ada pemesanan atau pembeli, maka aktivitas produksi di sanggar otomatis tidak akan jalan.

Terkait persoalan ini, kata Laily, Pertamina sudah memberikan solusi. Di antaranya dengan membantu pemasaran melalui berbagai pameran. Juga bekerja sama dengan sejumlah vendor sebagai tempat penjualan produk kerajinan kerang.

“Dan katanya mau dibuatkan koperasi. Supaya secara bisnis program ini juga berjalan,” kata Laily.

Peserta pelatihan menunjukkan kerajinan kulit kerang di Sanggar Mentari, Batubesar, Nongsa, Minggu (28/10). f. Suparman/Batam Pos.

Selain itu, lanjut Laily, sejauh ini Pertamina juga sudah membantu beberapa fasilitas dan alat produksinya. Antara lain berupa dua kompresor, satu mesin potong, dan dua gerinda.

Kerajinan yang dihasilkan di sanggar ini cukup beragam bentuknya. Mulai dari bunga hias, hiasan lampu, tempat tisu, asbak, dan banyak lagi. Selain dijual di pasar lokal, kerajinan kulit kerang Sanggar Mentari juga sudah tembus ke pasar internasional.

“Ada juga pembeli dari Malaysia dan Singapura,” kata Laily.

Junior Supervisor Receipt Storage Distribution (RSD) Pertamina DPPU Hang Nadim, Muhammad Dimas Azhari, mengatakan program Desa Berdaya ini sebenarnya sudah berjalan sejak 2016 lalu. Ini merupakan program tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR) Pertamina DPPU Hang Nadim yang berkelanjutan bagi masyarakat Kelurahan Batu Besar, Kecamatan Nongsa.

Namun pada awalnya, kata Dimas, Pertamina DPPU Hang Nadim berkolaborasi dengan Rumah Zakat Batam. Tetapi sejak tahun ini Pertamina DPPU Hang Nadim menyatukan energi dengan Poltek Batam untuk menjalankan program tersebut.

“Ini persembahan Pertamina untuk warga Batubesar, Nongsa,” kata Dimas, Selasa (6/11).

Secara garis besar, kata Dimas, pihaknya ingin mendorong warga di Batubesar terus memperbaiki kualitas hidup mereka. Khususnya kualitas hidup dari sisi ekonomi dan kesehatan.

Itulah sebabnya, melalui program Desa Berdaya ini Pertamina DPPU Hang Nadim bersama Poltek Batam menjalankan empat kegiatan di sana. Yakni pelatihan membuat kerajinan kulit kerang, program usaha dan pelatihan merajut, program pelatihan pengelasan, dan program Posyandu Pertamina Sehati.

Untuk program pelatihan kerajinan kulit kerang dan merajut, Pertamina melibatkan para ibu rumah tangga serta remaja putra dan putri di daerah setempat. Dengan harapan, kelak mereka mampu membekali diri dengan keterampilan yang bisa memberikan nilai tambah secara ekonomi.

Sementara program pelatihan pengelasan menyasar kalangan pemuda di Batubesar, Nongsa. Harapannya, kelak para pemuda di sana bisa memiliki keahlian di bidang pengelasan sebagai bekal untuk masuk ke dunia kerja. Atau bahkan modal untuk memulai usaha sendiri.

“Sedangkan program Posyandu Pertamina Sehati menyasar pada balita dan lansia. Supaya mereka semakin peduli terhadap masalah kesehatan,” kata Dimas.

Dimas mengatakan, program Desa Berdaya ini merupakan bentuk kesadaran Pertamina bahwa program CSR kini menjadi isu sentral demi pertumbuhan dan keberlanjutan sinergitas positif antara perusahaan, pemerintah, dan masyarakat sekitar.

“Program ini diharapkan mampu mengatasi permasalahan-permasalahan sosial dan lingkungan yang selama ini muncul dipermukaan dimulai dari kawasan terdekat area operasi DPPU Hang Nadim,” kata Dimas.

Dihubungi terpisah, Pembantu Direktur (Pudir) III bidang Kemahasiswaan Poltek Batam, Muslim Ansori, mengatakan kerja sama Poltek Batam-Pertamina DPPU Hang Nadim ini merupakan bentuk pengabdian perguruan tinggi kepada masyarakat. Ini sejalan dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian dan Pengembangan, dan Pengabdian kepada Masyarakat.

“Ini kolaborasi energi untuk saling menguatkan. Pertamina punya anggaran, kami punya SDM,” kata Muslim, Selasa (6/11).

Gubernur Kepri Nurdin Basirun (kiri) bersama perwakilan Pertamina MOR I dan warga melakukan panen perdana di KEM Madong, Tanjungpinang, Jumat (27/7) lalu. F Cipi Ckandina/Batam Pos

Dalam program Desa Berdaya ini, peran Poltek Batam memang sebagai pelaksana. Poltek Batam menyiapkan pelatih dan pendamping dalam setiap program yang dijalankan di Desa Berdaya ini.

Misalnya dalam program pelatihan pengelasan. Poltek Batam menyediakan pelatih dan teknisi yang mumpuni. Selain dari praktisi, pelatih juga didatangkan dari kalangan dosen di jurusan Teknik Mesin di Poltek Batam.

Begitu juga dengan program pelatihan membuat kerajinan kulit kerang dan merajut. Poltek Batam mengirimkan para pelatih yang memang ahli di bidangnya.

Meski hanya sebagai pelaksana, Muslim menyebut komitmen Poltek Batam dalam program Desa Berdaya ini sama besarnya dengan Pertamina. Sebab secara prinsip Poltek Batam juga ingin memberikan manfaat yang nyata bagi kemandirian dan peningkatan kualitas hidup masyarakat.

“Kami berprinsip, para akademisi di perguruan tinggi itu tak boleh hidup nyaman di menara gading. Kami harus turun dan ikut mengembangkan masyarakat menjadi manusia yang mandiri dan berkualitas,” kata Muslim.

Menebar Manfaat di Kepri

Program Desa Berdaya di Nongsa, Batam, hanyalah satu dari sekian banyak program CSR Pertamina Marketing Operation Region (MOR) I. Khusus di Kepri yang menjadi salah satu provinsi wilayah kerja Pertamina MOR I, Pertamina sudah banyak menjalankan program CSR untuk sejumlah sektor.

Di sektor perikanan, Pertamina MOR I melakukan pembinaan terhadap 12 Kelompok Ekonomi Masyarakat (KEM) di Kepri. 12 KEM tersebut tersebar di Natuna, Tanjungpinang, dan Kabupaten Karimun. KEM ini merupakan kelompok nelayan yang mengembangkan budidaya ikan dan udang tambak.

Pembinaan KEM ini rata-rata sudah berhasil. Seperti KEM Madong di Tanjungpinang melakukan panen raya perdana ikan kerapu pada Juli lalu. Tak tanggung-tanggung, KEM Madong menghasilkan satu ton ikan kerapu dalam panen perdana tersebut.

“Semoga hal ini dapat memberikan manfaat bagi seluruh warga yang tergabung di dalamnya dan menjadi contoh bagi KEM lainnya untuk makin giat mengelola usahanya,” kata Unit Manager Communication dan CSR PT Pertamina (Persero) MOR I Rudi Ariffianto dalam rilisnya kepada batampos.co.id, beberapa waktu lalu.

Selain pembinaan KEM, Pertamina MOR I menjalankan program kemitraan dengan sasaran Usaha Kecil Menengah (UKM) di Natuna, Kepri. Dalam program CSR ini, Pertaminamemberikan pinjaman modal usaha tanpa bunga bagi para pelaku UKM di Natuna.

Selebihnya, program CSR Pertamina MOR I tersebar di beberapa kabupaten/kota di wilayah Kepri. Mulai dari sektor kesehatan, pendidikan, dan lainnya.

Selain program CSR, baru-baru ini Pertamina MOR I menyalurkan 1.000 lebih konverter kit bagi para nelayan tradisional di Kepri. Termasuk nelayan di Batam yang menadapatkan 429 paket konverter kit.

Rudi menjelaskan, ini merupakan program penugasan pemerintah yang berjalan sejak 2017 lalu. Melalui program ini Pertamina mendorong nelayan melakukan konversi BBM ke gas LPG 3 kilogram.

Dengan berbagai keberhasilan dalam program CSR itu, maka tak heran jika Pertamina MOR I meraih dua penghargaan Nusantara CSR Awards 2018 di Kategori Zamrud CSR. Hal ini sebagai bentuk pengakuan publik terhadap kesuksesan pelaksanaan program CSR Pertamina, khususnya di wilayah Sumatera Bagian Utara (Sumbagut), termasuk Kepri. (suparman)

Advertisement
loading...