Iklan

batampos.co.id – Penarikan retribusi parkir di luar kawasan parkir berbayar terus disoroti. Di Batuaji dan Sagulung, penarikan retribusi parkir oleh jukir pada lokasi-lokasi yang ramai terus bertambah dari waktu ke waktu. Ini dipertanyakan masyarakat sebab klaim Dishub Batam bahwa target retribusi parkir tahunan tidak terpenuhi dianggap tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan.

”Kalau dilihat kenyataan di lapangan, seharusnya tercapai (target retribusi parkir, red). Satu komplek pertokoan bisa tiga empat jukir. Pindah parkir harus bayar lagi karena toko sebelah ada jukir lain lagi,” ujar Dharmansyah, warga Batuaji saat dijumpai di kompleks pertokoan Tunas Regency, Sagulung, kemarin.

Keberadaan jukir di kompleks pertokoan banyak ditolak pemilik toko atau pelaku usaha yang halaman toko atau tempat usahanya ditempatkan petugas parkir. Alasan penolakan mereka karena keberadaan jukir tersebut dianggap penghalang usaha mereka.

Pemilik toko di deretan Ruko Tunas Regency, Sagulung misalkan, belakangan ini berseteru dengan jukir yang telah menjamur sejak dua bulan belakangan ini. Mereka menolak jukir karena dikomplain pelanggan mereka. Apalagi keberadaan jukir tersebut juga tidak teratur. Dalam satu kawasan yang sama terdapat banyak jukir sehingga pelanggan atau pengunjung harus bayar dobel jika berpindah ke toko lainnya. Apalagi jukir juga tidak menyediakan karcis parkir.

”Inilah alasan kenapa kami tolak. Entah kemana uang itu nanti. Masya-rakat komplain karena tak jelas jukir ini. Karcis tak ada, bisa saja uang ini dipakai buat kepentingan pribadi mereka. Kalau pelanggan komplain kami (pemilik toko) tentu komplain juga. Ini mempengaruhi usaha kami. Orang malas datang ke sini lama-lama,” tutur Supardi, pemilik salah satu toko di Tunas Regency.

Sejak awal, sambung Supardi, sebenarnya mereka menolak jukir karena dianggap bisa menghambat usaha mereka. Namun karena diinformasikan bahwa penempatan jukir itu atas kebijakan Dishub Batam, maka mereka tak bisa menolak. Namun belakangan ulah para jukir itu malah meresahkan sehingga mereka bertekad menolak jukir di sana.

”Pengelolah tempat hiburan di sebelah kemarin berantam sama petugas parkir itu. Ya itu tadi masalahnya, pelanggan mereka komplain karena ada jukir di mana-mana di sepanjang ruko ini,” tuturnya.

Senada disampaikan pengu-saha atau pemilik ruko di simpang Pasar Sagulung. Mereka merasa tak nyaman dengan hadirnya sejumlah jukir di depan pertokoan mereka. Alasannya sama, jukir enggan menyediakan karcis parkir, sehingga harus membayar lagi jika berpindah ke halaman ruko lain.

”Sudah gitu kadang siluman juga jukir ini. Orang datang parkir tak kelihatan, tapi saat keluar baru nongol sambil sodorkan tangan. Ini kan tak betul. Kendaraan orang hilang atau rusak nanti kami yang punya toko juga yang dikomplain,” ujar Hendi, pemilik toko di kawasan itu. (eja/ian)

Advertisement
loading...