Iklan

batampos.co.id – Puluhan karyawan PT Nagano masih bertahan menjaga aset perusahaan yang berada di kawasan Industri Batamindo, Mukakuning, Seibeduk. Semenjak ditinggal begitu saja oleh pihak menajamen ke Jepang awal September lalu, mereka memutuskan untuk tetap menjaga aset perusahaan asal Jepang itu agar tidak keluar dari lokosi perusahaan.

Itu dilakukan karena gaji bulan Agustus dan hak-hak mereka yang lain belum dibayar oleh pihak manajemen. Total tunggakan yang belum dibayar pihak manajemen mencapai Rp 5,5 miliar.

“Tapi belum ada hasil juga. Sampai hari ini belum dibayar sepeserpun,” ujar Hamida, seorang karyawan di lokasi perusahaan, Selasa (6/11).

Hamida dan puluhan karyawan lain memilih bertahan menjaga aset karena mereka sangat membutuhkan uang dari tunggakan gaji dan hak-hak mereka itu.

“Bukan sedikit angkanya. Per orang untuk yang kerja diatas sepuluh tahun diatas Rp 100-an juta pasangonnya,” ujar Hamida.

Meskipun sudah dua bulan berlalu, mereka masih menggantungkan harapan agar hak-hak mereka segera dipenuhi oleh pihak manjemen.

“Kami nggak nyerah mas. Karena ini harapan satu-satu buat lanjutin hidup kami kedepan. Kalau kerja di PT lain tak bisa lagi karena umur sudah tak memungkinkan lagi. Kalau dibayar tunggakan ini, kami bisa buka usaha atau modal buat pulang kampung,” kata Hamida yang diiyakan rekan-rekannya yang lain.

Selama dua bulan terakhir ini kata Hamida mereka silih berganti berjaga di depan perusahaan. Malam hari dijaga oleh kaum pria dan siang hari kaum wanita.

foto: batampos.co.id / adil

“Masih kerja kami sepertinya karena bagi tiga shift untuk jagain aset ini. Kalau tak jaga nanti diambil diam-diam,” ujar Hamida.

Situasi mereka saat ini kata Hamida sudah cukup sulit. Karena tak berpenghasilan lagi mereka tidak lagi membuka dapur umum di depan perusahaan seperti sebulan sebelumnya. Itu karena pasokan makanan dan minuman yang disediakan secara bersama sudah habis. Sebulan belakangan mereka harus bawa bekal masing-masinga dari rumah untuk makan di lokasi perusahaan.

“Bawa bontot (bekal, red) sekarang mas. Tak ada modal,” ujarnya.

Selama menjaga aset perusahaan, karyawan khususnya kaum ibu-ibu mengisi kesuntukan dengan merangkai tas atau topi dari benang agar bisa dijual.

Pantuan Batam Pos siang kemarin, Hamida dan empat rekannya yang lain terlihat sibuk merangkai benang yang dibeli dari toko untuk membuat tas ataupun topi dan aksesoris lainnya.

“Biar tak ngantuk. Habis kerjanya cuman duduk jagain gini aja,” kata Hamida.

PUK FSPMI PT Nagano Sari Astuti, mengakui sampai siang kemarin belum ada etikad baik dari pihak manajemen atas hak-hak mereka. Bahkan janji piham manajemen mengirimkan sejumlah uang untuk pembayaran gaji bulan Agustus juga belum ditepati.

“Belum ada sama sekali mas,” ujar Sari.

Sari menambahkan, saat ini keadaan ekonomi puluhan karyawan di sana sudah sangat sulit. Sebagian karyawan yang masih berstatus kontrak ada yang mulai menyerah. Mereka memilih untuk mencari pekerjaan lain dan pulang kampung. Sementara karyawan tetap tidak punya pilihan lain selain bertahan menjaga aset perusahaan yang nilainya hanya sekitar Rp 500 juta itu.

“Sampai hari ini aset belum ada yang keluar satupun. Semoga secepatnya ada yang mau beli sehingga uangnya bisa dibagi untuk kami semua,” ujar Sari.

Disinggung tentang perhatian pemerintah dalam hal ini Dinas Ketenaga Kerjaan kota Batam, karyawan disana mengaku sepertinya tak ada lagi. Pihak Disnaker sibuk saat awal kejadian saja. Belakangan sudah tidak diperhatikan lagi. “Sekarang jarang ke sini. Komunikasipun tidak ada lagi. Nggak tahu lagi harus bagaimana nasib kami ini,” kata Hamida.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, 54 karyawan PT Nagano ditinggalkan begitu saja oleh pihak manajemen. Pihak manajemen kabur begitu saja ke Jepang sejak, Rabu (4/9) lalu. Karyawa ditinggalkan begitu saja tanpa terlebih dahulu membayar tunggakan gaji bulan Agustus dan pasangon. (eja)

Advertisement
loading...