Perkembangan teknologi kian tak terbendung. Digitalisasi terus dilakukan. Baru-baru ini, Pemko Batam melalui Dinas Perhubungan (Dishub) membuat inovasi baru. Membayar parkir lewat aplikasi android. Benar-benar keren.

Tidak perlu bayar tunai. Bayar via elektronik saja. Bahkan, melibatkan langsung 100 juru parkir (jukir) di 100 titik. Katanya, semua jukir akan dilengkapi android.

Loading...

Jujur. Ini terobosan yang luar biasa. Sangat keren. Dapat memudahkan pemilik kendaraan untuk menuntaskan kewajibannya membayar parkir. Mungkin, bisa jadi percontohan bagi daerah lain di Indonesia.

Banyak positifnya. Salah satunya menghindari potensi bocornya pendapatan parkir. Kalau kebocoran berhasil dihindari, tentu saja akan berpengaruh terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Dampak positif lainnya. Ada penyeragaman tarif parkir. Tidak jomplang antara satu tempat dengan tempat lainnya. Dengan parkir elektronik, kita juga bisa memonitor berapa sebenarnya biaya untuk memarkirkan kendaraan.

Sayangnya, masih dicoba di Batam Center dan Nagoya. Padahal, lebih bagus diterapkan serentak. Langsung di seluruh titik parkir.

Memang, terkadang memulai itu selalu diselimuti perasaan waswas. Takut gagal. Atau khawatir tidak berjalan efektif. Tapi selama niatnya baik, saya pikir tidak ada salahnya untuk dicoba.

Bicara digitalisasi memang rada-rada menarik. Hampir semua sektor dikolaborasikan dengan digital. Tidak usah jauh-jauh. Harian Pagi Batam Pos saja berkolaborasi dengan batampos.co.id. Meskipun dipayungi perusahaan berbeda.

Atau contoh saja transaksi jual-beli. Mereka sudah mulai beralih ke digital. Sudah banyak aplikasi berserakan di ponsel masing-masing dengan tema dan kegunaan sama.

Itulah. Arus perkembangan zaman tidak bisa kita lawan. Namun bisa diajak berkawan. Menggabungkan antara sistem lama dengan platform digital memang tidak mudah. Tapi kalau berhasil, hasilnya sangat-sangat baik.

Bagi saya, inovasi ini harus didukung. Tidak boleh tidak. Apalagi dijegal. Toh ini semua demi kebaikan bersama. Kalau PAD meningkat, yang untung adalah masyarakat Batam.

Kalaupun gagal dalam menerapkan parkir elektronik, wajar-wajar saja. Yang penting sudah ikhtiar. Sudah berupaya melakukan yang terbaik. Tujuannya pun juga baik untuk semuanya.

Kalau boleh menilai, apa yang dilakukan Pemko Batam ini lebih keren dari gawean pemerintah pusat. Mentang-mentang kartu identitas saya dari Kaltim, tidak bisa mengurus akta kelahiran anak ketiga. Katanya, harus diurus di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) sesuai Kartu Tanda Penduduk (KTP) domisili saya. Lah, katanya sudah KTP elektronik. Katanya database tersimpan di pusat. Tapi urus akta kelahiran ribetnya bukan main.
Mestinya, akta kelahiran dikeluarkan berdasarkan lokasi si anak dilahirkan. Ini bagaimana ceritanya, disuruh urus di daerah asal. Ya mana sempat. Jauhnya luar biasa. Siapa yang jaga istri yang baru saja melahirkan. Benar-benar enggak masuk akal.

Mungkin kementerian terkait perlu instrospeksi diri. Gembar-gembor digitalisasi, tapi pakai gaya kuno. Tidak keren. Hahahahahaha…

Mungkin, pemerintah pusat harus belajar ke Pemko Batam biar tidak gagal paham apa itu makna dari digitalisasi. Atau belajar dengan Batam Pos tentang bagaimana cara berkolaborasi dengan digital. Kwakakakakak…

Yang pasti, saat ini Batam itu kian canggih.***

Loading...