Senin, 6 April 2026

Kelangkaan Gas 3 Kg Rutin di Bengkong, Batam Kota, Batuaji, dan Sagulung

Berita Terkait

batampos.co.id – Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Batam, Zarefriadi mengatakan permasalahan gas elpiji 3 kilogram (kg) yang langka sudah disampaikan kepada Pertamina. Meskipun kewenangan berada di bawah Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kepri, namun pihaknya tetap berusaha agar kelangkaaan gas bersubsidi ini bisa segera teratasi.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah mendata kecamatan mana saja yang sering terjadi kelangkaan gas elpiji 3 kg tersebut. Sejauh ini, daerah-daerah yang sering mengalami kelangkaan di antaranya Bengkong, Batam Kota, Batuaji, hingga Sagulung.

”Datanya sudah ada sama kami (Disperindag Kota Batam, red). Nanti kami akan teruskan kepada Pertamina,” ujarnya saat ditemui di Sekupang, Senin (12/11).

Ia meminta penambahan pasokan gas kepala Pertamina, terutama di daerah yang sering mengalami kesulitan menemukan gas 3 kg tersebut. ”Jadi, kami minta tambah lagi gas di situ (daerah yang sering mengalami kelangkaan, red). Ke depan warga tak ada mengalami kelangkaan gas,” jelasnya.

Selain itu, Disperindag Kota Batam juga terus berkoordinasi dengan Pemprov Kepri yang bertugas mengawasi peredaran gas di Kepri. Namun karena kejadian tersebut terjadi di Batam, tentu menjadi perhatian Pemerintah Kota (Pemko) Batam. ”Mudah-mudahan penambahan ini tak ada terjadi kelangkaan lagi,” imbuhnya.

Sementara itu, kelangkaan gas sudah berlangsung selama dua minggu terakhir. Warga kesulitan menemukan gas 3 kg di beberapa wilayah seperti Bengkong, Batuaji, Sagulung, hingga Batam Kota. Tidak saja itu, akibat kelangkaan ini harga gas di penjual eceran juga naik di atas harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp 18.000 pertabung. Di tingkat pengecer dijual Rp 20.000 hingga Rp 25 ribu pertabung.

Penjual makanan di Seiharapan, Nelly mengatakan selama ini tidak menemui kesulitan untuk mendapatkan gas 3 kg. Biasanya ia memesan langsung dari agen langganan dan diantar langsung ke rumah makan miliknya. ”Karena diantar jadi harganya memang beda dari harga yang ditentukan. Tapi tak apa juga karena saya sibuk di warung jadi tak sempat kesana,” tuturnya.

Pantauan Batam Pos di salah satu kedai penjual gas di Tiban Center, untuk pasokan kebutuhan gas 3 kg cukup dan tersedia. ”Kalau di sini lancar saja. Tak ada masalah kosong,” kata Roni, penjual gas.

Satu tabung gas isi 3 kg dijual Rp 20 ribu. Untuk permintaan masih sama seperti biasa. ”Aman-aman saja. Sejauh ini tak ada yang langka atau warga kesulitan dapat gas karena barang itu memang ada,” ungkapnya.

Kondisi berbeda dialami warga yang tinggal di Batuaji dan sekitarnya. Sebagian warga masih kesulitan mendapatkan gas elpiji 3 kg. Seperti dialami Magdalena yang terpaksa keliling ke satu pangkalan ke pangkalan lainnya untuk mencari gas bersubsidi tersebut.

”Sudah cari gas ke pengecer di sekitar rumah, bahkan hingga ke Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Tanjunguncang tapi stok gas habis. Capek mondar-mandir dari pagi tapi nggak dapat-dapat,” keluhnya.

Akhirnya, karena sudah kepepet, ia pun membeli gas milik tetangganya yang masih punya stok di rumahnya. ”Saya bayar punya tetangga, harganya Rp 23 ribu,” akunya.

Serupa juga dialami warga Seibeduk. Sejumlah warga mengaku sampai saat ini masih kesulitan mendapatkan gas elpiji baik di pangkalan resmi maupun pengecer. ”Susah amat nyarinya gas sekarang,” ucap Ambarwati, warga Perumahan GPA, Duriangkang.

Ia mengatakan sudah berkeliling ke pangkalan satu ke pangkalan lainnya. Namun tetap saja gas tersebut tidak ada. ”Di pangkalan perumahan lain ada, cuman mereka mendahulukan warga yang tinggal di sana,” jelasnya. (yui/eja/une)

Update