Rabu, 8 April 2026

800 Karya Tulis Bung Hatta Dibukukan

Berita Terkait

batampos.co.id – Mohammad Hatta tidak hanya dikenal sebagai Tokoh Proklamator. Sejak muda, dia rajin menulis. Kemarin (13/11) Penerbit Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) meluncurkan 10 seri buku Karya Lengkap Bung Hatta.

Putri pertama Hatta, Mutia Hatta mengaku sangat berbahagia karena tulisan ayahnya dikumpulkan menjadi buku. Dia merasa cara ini untuk mendokumentasikan pemikiran Hatta. ”Pada tahun 1932 Bung Hatta sudah menuliskan desain Indonesia Merdeka dan doktrin kerakyatan,” tuturnya kemarin dalam sambutan.

Lewat buku tersebut dia berharap jika masyarakat Indonesia akan teringat bahwa kepentingan rakyat harus dijunjung tinggi. Seperti keinginan Hatta. Mutia berkata jika pemikiran Hatta selalu relevan dengan kondisi Indonesia. ”Apakah sekarang pemimpin dan wakil rakyat sudah menghormati kedaulatan rakyat?” ujarnya.

Dirjen Kebudayaan Kemendikbud pun mengatakan hal senada dengan Mutia. Dia mengatakan ketika sekarang membicarakan ekonomi maka yang dibeberkan hanya angka. ”Namun pemikiran Hatta, ekonomi untuk banyak orang. Artinya tidak hanya angka-angka saja,” katanya.

Pemikiran Hatta yang selalu relevan ini yang membuat Hilmar segera menyetujui untuk mendukung penerbitan buku. Di sisi lain, Ditjen Kebudayaan juga tengah mendokumentasikan tulisan-tulisan yang sudah jadi arsip di luar negeri, seperti di Belanda. ”Untuk membawa pulang, tidak. Kami dokumentasikan isinya. Aslinya biar tetap di sana (Belanda, Red),” ujar Hilmar.

Hatta memang tokoh yang rajin menulis sejak muda. dia mulai menulis sejak usia 16 tahun. Bahkan diusianya yang senja, 77 tahun, dia tetap menulis. Dalam kurun waktu 61 tahun, Bapak Koperasi Indonesia itu telah menghasilkan 800 karya tulis dalam Bahasa Indonesia, Belanda, Inggris, dan Perancis.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy pun memberi apresiasi atas terbitnya buku tersebut. menurutnya, karya tulis Hatta yang dibukukan dalam sepuluh seri belumlah lengkap. ”Kita belum melacak tesis atau penelitian yang berdasar pada pemikiran Hatta,” ujarnya.

Muhadjir megaku jika dia memiliki kenangan dengan tulisan Hatta. Dalam desertasi yang ditulisnya, dia menemukan bahwa Hatta merupakan peletak profesionalisme militer. ”Saya kebetulan meneliti tentang sosilogi militer,” katanya. Muhadjir menceritakan bahwa jika tidak ada pemikiran Hatta, ada kemungkinan Bangsa Indonesia yang baru saja merdeka akan terjadi perang saudara. Sebab banyak laskar hingga kelompok orang yang memiliki senjata. (lyn/jpg)

Update