Pengolahan Lahan dan Pencucian Lahan

Pengolahan lahan dengan pembersihan lahan, pemupukan dasar dan penaburan dolomite/kapur serta pembersihan saluran air. Pengolahan tanah dilakukan dengan cara tebas rumput, bajak tanah dangkal, penyemprotan herbisida dan pengairan selama 7 hari dan dikeringkan 2-3 hari dikeringkan diulang selama 3 kali; lalu dkeringkan 3 hari maka dibiarkan beberapa hari, agar terjadi proses fermentasi untuk membusukkan sisa tanaman dan jerami di dalam tanah.

Dalam pengolahan kedua ini, tanah sawah ditambahkan dengan pupuk kandang dan dolomit. Penambahan pupuk kandang ini dimaksudkan agar bahan organik yang terdapat dalam pupuk tersebut dapat menyatu dengan lapisan olah tanah sedangkan tujuan penambahan kapur yakni untuk menetralisir kandungan besi yang terdapat dalam tanah. Usahakan selama pengolahan ini pasokan air mencukupi.

Penyemaian Benih Padi

Persiapan penyemaian dimulai dengan membuat bedengan dengan lebar 1,0 – 1,2 m dan panjang sekitar 20 m. Luas persemaian untuk 1 ha lahan adalah 400 m2 (atau 4 % dari luas tanam), dan drainase harus baik serta ditambah pupuk kandang/kompos serta sedikit kapur. Persemaian dilakukan ± 15 hari sebelum tanam. Hari pertama sampai hari kedua untuk masa perendaman, hari ketiga dan seterusnya untuk penyemaian di bedengan sampai bibit berumur 21 hari.

Benih padi yang dibutuhkan pada lahan seluas 1 ha yaitu sebanyak 20 kg. Penyemaian benih sebelum dilakukan penyemaian, terlebih dahulu dilakukan perendaman terhadap benih tersebut. Lama perendaman tergantung tebal tipisnya kulit gabah, jika kulit gabah tipis perendaman dilakukan selama 24 jam sedangkan jika kulit gabah tebal perendaman nya selama 48 jam. Setelah direndam selama 24 jam benih kemudian ditiriskan, kemudian dicampur dengan regent (seed treatment) selanjutnya dibungkus rapat (peram) selama satu malam (12 jam).

Benih padi yang sudah berkecambah kemudian disebar di persemaian secara hati-hati dan merata. Hal ini bertujuan agar benih yang tumbuh tidak saling bertumpukan. Pemupukan dan pengendalian hama penyakit persemaian dilakukan setelah ± bibit berumur 1 minggu dengan jumlah pupuk 6 kilo gram NPK dan 2 Kg Karbufuran.

Penanaman Padi

Penanaman setelah bibit berumur 22 hari setelah semai. Terdapat 2 varietas padi yang akan ditanam, yaitu inpara 2, inpara 3 dimana ke-4 varietas berasal dari Balai Penelitian Padi di Sukamandi. Pola tanam yang diterapkan yaitu jajar legowo 2 : 1, legowo 4 : 1 dengan jarak tanam 25 cm per tanaman. Hasil penelitian dari Muyassir (2012) menunjukkan bahwa terdapat penggunaan jarak tanam 30 x 30 cm menghasilkan produksi gabah paling tinggi dibandingkan dengan penggunaan jarak tanam 20 x 20 cm dan jarak tanam 25 x 25 cm yaitu sebesar 8,12 ton/ha.

Pemupukan Tanaman Padi

Pemupukan dasar adalah dengan pupuk kandang sebanyak 2500 kg per hektar diberikan pada dua minggu sebelum tanam. Pemupukan pertama saat padi berumur 7 hari setelah tanam dengan komposisi dosis pupuk SP36 150 Kg perhektar, urea 100 kg perhektar, KCL 50 kg perhektar ditambah 8 kg Karbufuran; pemupukan kedua pada padi berumur empat minggu setelah tanam (umur padi 28 hari setelah tanam) dengan dosis pemupukan, Urea 100 kg per hektar dan KCL 50 kg per hektar serta ditambah Karbufuran 6 kg per hektar, kemudian pemupukan ketiga pada umur padi 7 minggu setelah tanam (49 HST) dengan dosis pemupukan sebesar Urea 100 kg per hektar dan KCL 50 kg perhektar.

Pemeliharaan Tanaman Padi

 

Salah satu bagian dalam pemeliharaan tanaman padi adalah mengatur keluar masuk air dalam areal persawahan dan bagaimana menjaga pertanaman bebas dari gulma. Beberapa lokasi sawah bukaan baru di Kabupaten Bintan, Kabupaten Natuna, dan Kabupaten Lingga tidak diadakan pengatuan air terjadi keracunan Fe (besi) sehingga mengakibatkan gagal panen; sedangkan dampak kurang dalam pengendalian gulma adalah adanya persaingan serapan unsur hara dan sumber inang berbagai hama dan penyakit.

Pengairan Sistem Intermitten Drainase

Pengairan sawah dengan menggunakan sistem intermitten drainase sebagai berikut: 1) pertama 1-5 HST (5 hari) setelah tanam dibiarkan kering agar perakaran mengikat dalam tanam; kedua lahan sawah diairi dengan waktu 5-10 HST( 5 hari), setelah itu dikeringkan selama 4 hari untuk pemupukan kedua atau pertama setelah tanam; masukan air selama 7 hari keringkan 2-4 hari lakukan sampai pemupukan ketiga.

Pada saat bunting dan pengisian bulir air dibiarkan tergenang untuk mendukung pengisian bulir, akan tetapi apabila hujan berturut-turut (3-4 hari) agar dikeringkan silahkan diulangi sampai bulir terisi merata. Menjelang 15 hari sebelum panen agar air dikeringkan untuk membantu percepatan pematangan padi sawah, pintu air dibuka total dan saluran pembuangan air dibuka.

Penyiangan dengan sistem manual dan penggunaan herbisida sistemik.
Penyiangan merupakan salah satu cara yang digunakan untuk mengendalikan gulma. Terdapat 3 macam cara pengendalian gulma langsung yaitu : 1). Penyiangan Gulma dengan Tangan; 2). Penyiangan Gulma dengan cara Mekanis; dan 3). Penyiangan dengan menggunakan Herbisida. Pada umumnya petani di Bintan melakukan penyiangan gulma dengan tangan kosong atau tanpa alat bantu dan menggunakan herbisida selektif.

Jenis Hama dan Penyakit

Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan di lapangan, ditemukan beberapa jenis hama yang menyerang padi yaitu penggerek batang, orong-orong, hama putih palsu, sundep, tikus dan beluk; sedangkan penyakit yang menyerang adalah jamur yang menyerang pelepah dan daun. Pengendalian dengan menggunakan berbagai macam dan metode sesuai dengan umur tanaman padi sawah.

Pencegahan pertama adalah dengan menggunakan seed treatmen pada benih, penggunakan pestisida sistemik berbentuk karbufuran pada saat persemaian, dan pemupukan pertama dan kedua setelah tanam, pengaturan jarak tanam, dan pemilihan benih spesifik lokasi (padi rawa untuk lahan rawa dan inpari untuk sawah irigasi). Pengendalian dengan menggunakan pestisida dan fungisida sesuai dengan anjuran setelah terdeteksi dipertanaman ada serangan hama dan penyakit.

Panen

Panen dilakukan apabila sudah kondisi pertanaman di lapangan pada tingkat kematangan optimal, mencegah kerusakan dan kehilangan hasil seminimal mungkin. Panen harus dilakukan bila bulir padi sudah cukup dianggap masak. Padi yang belum matang optimal akan menurunkan kehilangan hasil secara kuantitatif, dan menentukan kualitas gabah dan beras. Produktivitas padi sawah di Kepulauan riau berkisar antara 3,5 ton/ha sampai dengan 6 ton/ha (Sumber: BPTP Kepri, 2018).

Keberhasilan budidaya padi sawah dengan tanpa olah tanah dengan mengikuti rekomendasi budidaya mulai dari pengolahan tanah, pencucian lahan, intermitten drainase, pemupukan berimbang, penerapan model tanam jajar legowo sampai dengan panen dan pasca panen atau dengan kata lainnya penerapan PTT budidaya sawah tanpa olah tanah. (Robinson Putra/BPTP Balitbangtan Kepulauan Riau)

Advertisement
loading...