Setelah bermalam-malam terakhir penuh dengan ketegangan konflik di Gaza, Rabu (14/11), Gaza bakal kembali pada rutinitasnya. Pasalnya, gencatan senjata itu akhirnya ditetapkan, dimediasi oleh pemerintah Mesir, Rabu (14/11) siang waktu Gaza.

Israel memutuskan menghentikan serangannya. Bagi warga Palestina di Gaza, gencatan ini pun berarti kemenangan untuk tanah air mereka.

Seperti yang sudah dikabarkan sebelumnya, sudah beberapa hari terakhir berlusin-lusin serangan udara dijatuhkan oleh jet tempur Israel dari atas langit Gaza. Suara dentuman dan nyala ledakan membubung dalam gelapnya malam. Sejumlah bangunan publik di Gaza seperti rumah, pertokoan bahkan kantor berita Al-Aqsa ikut hancur diburu oleh roket.

Bukannya tanpa perlawanan, di saat bersamaan, sejumlah roket skala kecil pun diluncurkan oleh warga Gaza ke perbatasan Israel. Laman Al Jazeera menuliskan, iron dome atau penghalau roket yang dimiliki Israel membunyikan sirine sepanjang malam Selasa (13/11), waktu Israel.

Sampai akhirnya perlawanan warga Gaza itu berakhir pada gencatan senjata. Melalui perantara Mesir, Israel dan faksi-faksi politik Palestina di Gaza termasuk Hamas – faksi paling berpengaruh di Gaza – menyatakan gencatan senjata.
Reporter Al Jazeera mewartakan dari wilayah Nahal-Oz dekat tapal batas Gaza-Israel, perwakilan Hamas menyatakan menerima gencatan. Ajakan gencatan itu berbunyi “Untuk menormalisasikan situasi yang telah terjadi setelah eskalasi militer beberapa hari terakhir.”

Tensi ketegangan yang meningkat antara Gaza dan Israel, awalnya dipicu oleh tewasnya tujuh warga Palestina di wilayah Khan Younis, Ahad (11/11). Israel melakukan operasi senyap untuk membunuh target mereka, termasuk satu pemimpin paling disegani warga Palestina.

Kemenangan untuk warga Gaza

Setelah bermalam-malam digempur Israel dari udara, gencatan senjata akhirnya diakui sebagai sebuah kemenangan bagi warga Gaza. Rabu (13/11) sore, keriuhan warga Gaza tumpah di jalan-jalan. Ribuan warga Gaza merayakan gencatan senjata sebagai sebuah “kemenangan Gaza atas Israel”.

Terkait situasi terkini di Gaza pascagencatan senjata, Andi Noor Faradiba, dari Global Humanity Response Aksi Cepat Tanggap (ACT) mengabarkan kalau informasi tersebut benar adanya.

“Semua mitra ACT di Gaza mengabarkan hal serupa bahwa, Rabu sore kemarin gencatan senjata dianggap kemenangan bagi warga Gaza,” ujar Faradiba.

Sementara itu, laman Al Jazeera menuliskan, beberapa negara mengirimkan kritikannya atas tindakan Israel yang membombardir Gaza lewat serangan udara. Turki misalnya, lewat Ibrahim Kalin, Juru Bicara Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, menyebut bahwa tindakan Israel itu “brutal” dan ilegal.

Kementerian Luar Negeri Jerman juga mengutuk jet tempur Israel yang membombardir Gaza dari atas. “Tidak ada justifikasi atau pembenaran dari semua kekerasan yang ditimpakan kepada warga sipil tak bersalah,” tulis Kementerian Luar Negeri Jerman.

Serangan fatal ke Gaza di Oktober 2018 ini mengingatkan kembali dengan fase-fase serangan terburuk di Gaza pada 2014 silam. Kala itu, di Agustus 2014, Gaza dibombardir habis-habisan oleh militer Israel. Lebih dari 2.200 warga Palestina terbunuh selama fase perang Agustus 2014. Puluhan ribu warga Gaza tak lagi memiliki rumah, dan ekonomi Gaza sempat lumpuh selama lebih dari satu bulan.

Bicara tentang Gaza adalah kisah tentang blokade yang sudah terjadi selama bertahun-tahun. Terhitung sejak 11 tahun silam, blokade itu dimulai. Gaza ditutup dari semua sisinya, hampir 2 juta warga Palestina di Gaza tak bisa bergerak bebas karena dibatasi oleh tapal batas yang bersinggungan langsung dengan Israel, juga Mesir. [*]