
batampos.co.id – Di Badung, Bali, ada tradisi unik yang disebut Masakapan ke Pasih (laut). Upacara ini dilakukan sebagai upaya penebusan kapiutangan (segala utang) Atman yang numadi atau bereinkarnasi pada seseorang.
Dalam kasus tertentu, anak yang sangat nakal dan berperilaku di luar kewajaran anak seusianya, kerap dikatakan karena faktor kapiutangan yang masih dibawa oleh Sang Atman dari kehidupan masa lalunya. Wakil Ketua PHDI Provinsi Bali, Pinandita Pasek Swastika mengatakan, dalam ajaran Punarbhawa dijelaskan, ada tiga jenis hasil perbuatan atau Karmaphala, yaitu Sancita Karmaphala, Prarabdha Karmaphala, Kryamana Karmaphala.
“Sancita Karmaphala adalah karma yang belum habis dinikmati dan dibawa ke kehidupan saat ini,” urai Pinandita Pasek Swastika, kepada Bali Express (batampos.co.id).
Lebih jelasnya, Sancita Karmaphala adalah hasil perbuatan kita dalam kehidupan terdahulu yang belum habis pahalanya dinikmati dan masih merupakan sisa yang menentukan kehidupan kita sekarang. Sebagai cobtoh, di kehidupan yang lalu, mungkin kita korupsi miliaran rupiah, namun karena sedang berkuasa atau pintar berkelit, pahalanya belum sempat dinikmati, dan di kelahiran sekaranglah dinikmati buah atau hasilnya. Misalnya, hidup kini jadi sengsara atau bisa menjadi menjadi penjahat sehingga dihukum penjara.
Kemudian Prarabdha Karmaphala adalah perbuatan kita pada kehidupan sekarang yang pahalanya diterima habis dalam kehidupan sekarang juga. Misalnya sekarang kita korupsi, kemudian tertangkap langsung dihukum bertahun-tahun. Jadi, perbuatan sekarang diterima buahnya sekarang. Di Bali jenis Karmaphala ini kerap disebut Karmaphala cicih.
Dan, yang ketiga adalah Kriyamana Karmaphala, yakni hasil perbuatan yang tidak sempat dinikmati pada waktu kehidupan sekarang, namun dinikmati pada waktu kehidupan yang akan datang. Misalnya, dalam kehidupan sekarang kita korupsi, tapi entah bagaimana kejahatannya itu tidak berhasil dibuktikan karena kelicikannya, lalu meninggal dunia.
Dalam kehidupan yang akan datang pahalanya akan diterima, namun orang tersebut akan lahir jadi orang yang hina. Sebaliknya, dalam kehidupan sekarang kita berbuat baik, taat pada keyakinan, suka menolong dan laku baik lainnya, namun meninggal dunia dalam kesederhanaan. Dalam kehidupan yang akan datang, kita akan dilahirkan menjadi orang yang bahagia, atau dilahirkan di keluarga orang terhormat dan kaya, di mana tak ada penderitaan yang dialami.
Menurutnya, dalam ajaran Hindu ada disebutkan Sastra-tah, ada Sastra yang menjadi acuan dalam beryadnya, Lokha-tah berlaku hanya di suatu daerah dan Swa-tah hanya untuk diri sendiri. “Prosesi Masakapan ke pasih ini hanya dilaksanakan di beberapa wilayah di Bali, yakni di Badung dan Denpasar,”ujarnya.
Tradisi Masakapan ke pasih merupakan upacara penebusan kapiutangan yang dibawa Sang Atman dari kehidupan terdahulu. Upacara ini biasanya dilakukan di laut maupun sungai. “Upacara ini dilakukan khusus bagi mereka yang numadi atau bereinkarnasi dengan kondisi masih membawa kapiutangan karma. Jadi, Atman dan raganya saat ini belum menyatu dengan sempurna,”jelasnya.
Bagi anak – anak yang masih terikat kapiutangan biasanya akan bertingkah sangat nakal dan berbuat di luar kewajaran. Misalkan membunuh, mencuri atau bahkan melukai orang tua dan keluarganya dengan sengaja atau dengan kesadaran. Sedangkan bagi orang yang telah dewasa, umumnya akan merasa selalu tidak beruntung apapun yang dikerjakannya tidak akan berhasil.
“Itu cuma ciri-cirinya dan memang tidak mesti, jika anak nakal pasti punya kapiutangan. Cara memastikan punya kapiutangan atau tidak ya dengan maluasin, menanyakan ke orang pintar yang faham,”terangnya. Jika sudah pasti memiliki kapiutangan, lanjutnya, Masakapan ke pasih baru bisa dilaksanakan. Tradisi Masakapan ke pasih diawali dengan menghaturkan banten Penebusan yang dilakukan di sungai atau pantai. “Karena di sungai atau lautlah tempat membuang seluruh kekotoran diri dan dilebur menjadi hal yang positif dan bermanfaat,” ungkapnya.
Setelah menghaturkan banten Penebusan, Sang numadi akan mengambil batu, kerang atau kayu yang ditemui di tempat prosesi. “Pengambilan ini disebut proses ngangkid sebagai simbolisasi pengambilan karma baik Sangn Atman yang manumadi,” terangnya. Setelah prosesi ngangkid, Sang numadi kemudian melepaskan jukung kecil yang diberi hiasan layar atau bulu ayam. ” Nah, kalau jukung itu sebagai simbolisasi melepaskan karma jelek dari Sang numadi. Ibaratnya, karma baik kita ambil, karma jelek kita leburkan ke laut,” jelasnya.
Jika ditelaah, tradisi Masakapan di Pasih fungsinya sebagai langkah penebusan utang dan proses penyatuan yang sempurna antara raga dengan Atman yang manumadi. “Masakapan artinya penyatuan. Penyatuan Atman yang reinkarnasi dengan raga yang baru di kehidupan ini,” jelasnya.
Dijelaskannya, berdasarkan Lontar Batur Kawisesan, tertulis ‘Ring giri beneh nyakupan kara kalah, ring palemahan tanah ngaruruh kehidupan lan ring segara tanah melebur sarwamala papa gekeh leteh. Jadi, sloka dalam lontar itu bisa menjadi acuan bahwa tradisi, merupakan cara atau tatacara untuk menyampaikan dan mengungkapkan rasa hormat dan bhakti, baik kepada Tuhan ataupun Sinarnya. Semisal lewat upacara Tumpek Kandang, Tumpek Bubuh atau Tumpek Landep. (bx/tya/yes/JPR)
