Selasa, 7 April 2026

Trump Bela Saudi soal Pembunuhan Jamal Khashoggi

Berita Terkait

batampos.co.id – Sesuai janjinya, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berbicara soal kasus pembunuhan Jamal Khashoggi Selasa (20/11) waktu setempat. Taipan 72 tahun itu mengaku pernyataan terbarunya tersebut sudah final. Yakni, Washington tidak perlu menjatuhkan sanksi apa pun terhadap Riyadh.

Dalam surat resmi yang diawali dan diakhiri slogan America First itu, Trump mengaku tidak mau mengorbankan kerja sama dagang AS dan Saudi. Sebab, nilainya berkisar 450 miliar dolar AS atau setara dengan Rp 6,5 kuadriliun. Dia juga tidak mau kehilangan kerja sama pertahanan alias transaksi senjata yang sangat menguntungkan AS. Maklum, angkanya mencapai 110 miliar dolar AS (sekitar Rp 1,6 kuadriliun).

”Mungkin iya, mungkin tidak,” kata Trump saat didesak untuk menjawab pertanyaan soal keterlibatan Pangeran Muhammad bin Salman (MBS) dalam kasus pembunuhan Khashoggi. Kepada CNN, presiden ke-45 AS itu mengatakan bahwa Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud dan putra mahkotanya membantah keterlibatan mereka.

Sebelumnya, Trump juga menyebut keputusan CIA soal MBS terlalu tergesa-gesa. Pekan lalu CIA menyatakan bahwa pembunuhan keji di gedung Konsulat Arab Saudi di Istanbul itu hanya bisa terjadi atas restu penguasa Negeri Petrodolar tersebut. Setelah mendengarkan rekaman audio dari intelijen Turki dan melihat langsung bukti-bukti yang tersaji, CIA langsung menunjuk MBS sebagai dalang di balik pembunuhan itu.

Menurut Trump, kesimpulan CIA tersebut sebatas sangkaan. Karena itu, dia tidak mau mempertaruhkan kerja sama dua negara. Dia memilih untuk mempertahankan hubungan baik AS-Saudi. Semuanya demi kepentingan rakyat. ”Saya jamin, kepentingan nasional AS tetap nomor satu,” tegasnya.

Jawaban Trump itu membuat senat geram. Kemarin (21/11) Komite Urusan Luar Negeri memanggil ayah Ivanka tersebut. Mereka meminta presiden menjelaskan maksud jawabannya soal kasus Khashoggi itu. Sebab, tidak sepatutnya AS melindungi Saudi jika memang negara tersebut merencanakan dan melancarkan pembunuhan keji pada 2 Oktober lalu.

Bob Corker, ketua komite, dan Robert Menendez meneken surat panggilan Trump. ”Dengan mempertimbangkan perkembangan terakhir kasus tersebut, kami meminta Anda memutuskan sikap AS terhadap putra mahkota (MBS).” Demikian bunyi sebagian surat tersebut sebagaimana dikutip Politico.

”Sanksi serius harus dijatuhkan kepada siapa pun yang melakukan tindakan keji ini. Bahkan, jika itu anggota kerajaan (Saudi) sekalipun,” ujar senator Lindsey Graham, politikus senior Partai Republik.

Global Magnitsky Human Rights Accountability Act menyebutkan bahwa presiden punya waktu 120 hari untuk menjawab pertanyaan senat.

Dari Turki, Wakil Ketua AKP Numan Kurtulmus mencibir Trump. Dia menyebut keputusan suami Melania itu sebagai bukti bahwa AS memang berpihak kepada Saudi. ”Mana mungkin CIA yang tahu warna bulu kucing yang berjalan di pekarangan Konsulat Saudi sampai tidak bisa menyimpulkan otak operasi,” ujarnya menurut Reuters.

Sementara itu, soal kasus e-mail alias surat elektronik (surel) Ivanka, Trump membela putrinya. Menurut dia, publik tidak bisa menyamakan kasus itu dengan Hillary Clinton. Sebab, meski sama-sama menggunakan surel pribadi untuk urusan pekerjaan, Ivanka tidak pernah menutup-nutupinya seperti istri Bill Clinton tersebut. Lagi pula, Ivanka juga tidak pernah berusaha menghapus surel-surel itu. (bil/c10/hep/jpg)

Update