Lempeng Sagu khas Pulau Daik. (Bobi Bani/JawaPos.com)

batampos.co.id – Pulau Daik, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau (Kepri), dikenal dengan sebutan Bunda Tanah Melayu.

Pulau Daik menjadi induk bagi setiap orang melayu yang tersebar di berbagai daerah, bahkan di negara-negara tetangga. Sehingga masyarakat Melayu yang datang di Daik akan merasa istimewa karena sudah berada di tempat awal warga Melayu berasal.

Selain sajian sejarah kerajaan Melayu melalui berbagai situs di Daik, ada keunikan lain yang masih bisa ditemukan. Sesuatu yang ada sejak zaman kerajaan melayu awal masih ada hingga sekarang.

Adalah lempeng sagu. Makanan para raja itu masih dilestarikan masyarakat Daik. Lempeng sagu Menjadi makanan spesial bagi orang-orang yang jarang atau bahkan baru datang ke Bunda Tanah Melayu.

Terbuat dari tepung sagu basah dan kelapa, Lempeng Sagu memiliki cita rasa sedikit asin. Sangat pas ketika dipadukan dengan lauk gulai asam pedas khas melayu.

Pembuatan lempeng sagu tidak menggunakan minyak goreng. Tepung sagu basah yang telah dicampur kelapa, dipanaskan dengan percikan sedikit air. Setelah adonan menyatu, lempeng sagu kemudian dibentuk dan langsung bisa dinikmati.

“Paling cocok makan langsung setelah matang. kalau lama dia (lempeng sagu) akan jadi keras,” kata pegadang lempeng sagu, Pairi, 50, di warungnya dekat Pelabuhan Tanjung Buton, Daik, Sabtu (24/11).

Pairi mengaku telah mengenal Lempeng Sagu sejak kecil. Kala itu, lempeng sagu menjadi panganan yang selalu disajikan orang tuanya. Baik untuk sarapan atau makanan utama.

Pairi berjualan lempeng sagu sejak tiga tahun belakangan. Tanggapan masyarakat khususnya pendatang di Daik cukup baik. Dalam sehari, Pairi bisa menghabiskan 20 kg tepung sagu basah. Jumlah itu bisa menghasilkan sekitar 80 buah lempeng sagu.

Untuk satu buah Lempeng Sagu beserta lauknya, Pairi menjualnya dengan harga Rp20 ribu.

“Paling ramai biasanya malam Minggu. Jualan dari sore sampai tengah malam kalau malam Minggu,” ungkap warga Kampung Pahang, Kelurahan Daik, Kecamatan Daik, Kabupaten Lingga.

(bbi/JPC)

Yuk Baca